Entah siapa yang membaptiskan kupu dengan warna sayap coklat dan lebar sampai 11-12 inchi bisa juga panjan hingga 31 sentimeter, dinamai Ratu Alexandra Birdwing, yang hanya bisa hidup di hutan hujan Papua. Biarin saja para penggemar kupu dinamain penemunya, tramasalah, nyang penting Ormithoptera alexandrae, begitu nama ilmiahnya, acapkali menjadi oleh-oleh bagi pemburu kupu dari luar negeri yang bertandang ke Irian Barat alias Papua. Tentu saja, bagi para penggemar kupu, maaf bukan kupu-kupu malam alias pekerja sex, jelas menyenangkan bila bisa mbandang iber dari pulau luar negeri ke Indonesia.
Jangan membandingkan jenis kupu Ratu Alexandra Birdwing (RAB) asal hutan wingit di Papua dengan kupu-kupu asal Bantimurung yang terkenal lebih dulu, jelas berbeda. Bila kupu asal Taman Nasional Bantimurung (TNB) Bulusaraung, di wilayah kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, rentang sayapnya tak sepanjang kupu RAB asal Papua. Itulah sebabnya, banyak pemburu kupu, setelah mereka berhari-hari ngelayap di Maros, minggu berikutnya dapat dipastikan terbang ke hutan Papua.

Meskipun perjalanan terbang dari Maros ke Papua tidak setiap waktu dapat memperoleh penerbangan yang diinginkan, toh para pemburu kupu tetap setia menunggu kedatangan pesawat. Sejak dahulu, penerbangan dari bandara Hasanudin di Makasar, bila ingin langsung ke Papua tak mudah didapatkan. Kalaupun ada flight dari Makasar-Papua (Pp) bisa diperoleh, harganya di atas 3.5 jutaan sekali pergi. Padahal, setelah sampai di Jayapura buat nguber kupu jenis RAB, tidak setiap waktu kupu tersebut bisa ditangkap, di hutan lebat sekalipun. “Perlu waktu beberapa hari lagi nginap di hotel terdekat hutan,” ujar Nicole Sacarovic, contributor sarklewer.com di moscow
Saking jengkel, dia bersama rekan-rekan wartawan Rusia, yang akan berburu kupu RAB menggerutu makai bahasa gado-gado, Soviet-Jawa-Ingris. “у нас семь журналистов из россии на охоте за самым большим баттерплеем в лесу Папуа, не могли бы вы нам помочь, если мы сначала приедем в Индонезию.” Siapa yang kagak jengkel, sama Nicole, meskipun dia kagak mau dikirimi honor, meski jadi contributor rajin di luar negeri. Nduk, mbok kalau bicara ndak usah pakai bosho Rusia. “Cole Nicole, situ itu sakjannya wong ngendi tho nduk cah uayu, mbok ndak usah crigis pakai boso rusia Soe-asoe,” kata gwe. Dia Cuma ngakak

Sakjannya konco-koncomu enthu mau ngapain sih nyari kupu kowk sampai ke Indonesia di hutan hujan lebat di Papua. Tadinya, kata dia, sebenarnya mereka pingin manjat ke puncak everst yang bersalju, lha dengar-dengar ada yang mati manjat di sana, ndak jadi. Sasarannya berburu kupu di Papua. Setelah dari Bantimurung. “Soale jenis Ornithoptera alexandrae adanya Cuma di negri simbah di Idoinesia jhe, katanya. Pokokny boss di kantor jaga kesehatan, kalau ndak punya duit, ntar mau ndak kalau ditransfer duit rubel. Kata teman si Yuricov dan Annatasya juga Alexandranov nanyain boss mau ndak diajak pacarana sama mereka.” Camkemmu Cole-Nicole. Sama mbokmu aja, gwe mau. ” Boss tak pesenini gimana, lumayam 1.250.000 rubel semalam, mau ndak, ntar tak pesenin. Or cari sendiri di kota metro pinggir Moscow.” Mbuh
Perkara Ornithoptera alexandrae kalau masih berupa telor belum berubah bentuknya jadi kupu dengan sayap panjang warna-warni hijau, juga warna kuning dan merah banyak yang senang dipelihara. Mereka memahami betul jenis kupu aneh dan sangat besar secara morfologi tubuhnya. Jenis betina sejak belum dewasa dari telor dan kepongpong, memakan waktu selama tiga bulan. “Itupun kalau tidak disambar predator burung-burung di hutan Papua. Pasti laku di pasar rusia jenis kupu seperti itu tak banyak berseliweran. Kalau genre lain, kupu-kupu malam, kata teman-teman itu, bos saja yang nangkap. Pasti puas.” (cole-moscow/jes oslo)



No Comment