Perawakannya tak bisa dipandang bakoh. Meski postur tubuhnya lumayan tidak pendek, namun tekatnya melakoni dunia berkesenian jangan tanya. Tinggi menggapai kesenimananya sebagai sosok yang diacungi jempol. Meski hidupnya, sejak awal melakoni sebagai dramawan, toh ia tetap tegar tetap pada pendiriannya ingin menjadi seniman jalanan
Sebagai seniman serba-bisa, sejak awal dirinya digembleng oleh sastrawan dan dramawan besar WS Rendra, di tahun 1970-an, nama Ibnu Sukodok,mulai banyak dibicarakan sebagai dramawan dan pemuisi yang pantas diacungi jempol.

Berbulan-bulan, katanya dalam ngobrol santai tengah malam, di TBJT (Taman Budaya Jawa Tengah) Solo, sebelum meninggal, Mbah Kodok –demikian acap dia disebut, dirinya dilatih tereak-tereak di Laut Kidul. Tentu ajaran Willy Bradus Surendra-Rendra alias WS Rendra tak sembarangan berimajinasi ngoceh dan berteriak di pantai laut kidul.
“Semua anak di Bengkel Theater dibimbing mas Willy, wajib menjalani latihan aksentuasi dan ngelatih suara. Musuhnya laut,” ujar dia sembari nyedot kretek dalam-dalam. “Saya termasuk angkatan pertama. yang dilatih Mas Willy. Kemudian ada itu si Emha dan, Juga ada yang muda Cempe cah Solo.”
Suaranya khas, kadang sembreng-acap pula namun terkesan berat. Bila berteriak-tegas, saat mengartikulasikan percakapan memerani tokoh dalam skenario cerita drama, diimbangi acting sang tokoh. Meski tak semua seniman, mengenal dirinya sebagai sosok dramawan dan seniman serba bisa, para pengamat kebudayaan tetap angkat jempol atas tekatnya lurus menjalani ruang kesenimanan.
Berulangkali kami bertemu di satu tempat, di TBJT maupun di Candi Sukuh, saat berkegiatan dalam satu acara. Entah secara sakral atau tidak, Mbah Kodok tetap tegar pada pendiriannya sebagai seniman ‘jalanan’ sejak lama, hingga ia meninggal dunia

“Bahkan acap dianggap sebagai nyeniman aneh, nyeleneh tur antik,” ujar rekan Je Soe. “Seniman biarin saja sak-karep-karepe dewe. Mau menikah dengan peri di kali Sragen, biarin saja. Lha wong keyakinannya ada bener sosok peri cantik Roro Styiowati itu. Trus kalian mau apa coba, toh kagak ngegangguin eLoe’kan ”
Perkara Bagus Prawoto Mangun Baskoro, alias Mbah Kodok yang lahir setelah perang kemerdekaan 1951, tentu memiliki setumpuk pengalaman sakral yang tak mungkin kalian temui di zaman modern saat ini. Yang jelas di sanggar teater Tanah Air, nama mbah Kodok, pantas diperhitungkan sebagai seniman konsisten menjalani hidupnya. Itulah Prawoto Mangun Baskoro acap disapa Mbah Kodok, lantaran senang luru (mencari) kodok di pinggir kali, dan ketemu peri Roro Styiowati.
“Kagak percaya teserah, mbuhlah sekarep-karepmu. Selamat berada di alam kelanggengan mbah Kodok. Ndak usah nenggak toyo Bening Chiou. Gak perlu bercita-cita tinggi jadi tentara, dan nikmat berkesenian di jalanan. “Benwae cah ndalan. Orha opho-opho.” Menurut dia, apapun yang terjadi itu sudah menjadi takdir dari sang pencipta alam Gusti Allah. Percaya atau tidak, hal-hal mistis yang kalian anggap tidak masuk-akal, ben wae. Kalau seseorang mempercayainya trus kowe ndak percaya mosok saya ngelarang, keliru itu. Ajaran agama, kalau dikontraskan dengan kasunyatan urip dan kehidupan hidup, itu beda filosofinya. “Ngerti orha? Mbuh mbah-mbah. Orha tekan mikir gwe.



No Comment