Selama empat tahun Soekarno menjadi tahanan politik. Proklamator itu meninggal dalam kesepian dan putus asa. Jadikan deritaku ini sebagai kesaksian, bahwa kekuasaan seorang presiden sekalipun, ada batasnya. Karena kekuasaan yang langgeng hanyalah kekuasaan rakyat. Dan di atas segalanyaadalah kekuasaan Tuhan YME
Pesan terakir itu tercatat rapi dalam secarik kertas. Disampaikan pada putri sulungnya, Megawati Soekarnoputri, sebelum ajalnya datang menjemput, pagi hari 21 Juni 1970. Pesan terakhir tak mudah dilupakan. Apalagi di masa penuh duka, ketika sang bapak dikucilkan penguasa orde baru, dari dunia luar. Dunia yang boleh ditatap Soekarno hanya Wisma Yaso, yang kini menjadi Museum Satria Mandala di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Tidak sembarangan orang boleh menjenguk ke dalam Wisma Yaso. Bahkan keluarga dekat, putra-putri si bung, harus absen terlebih dulu ke Markas Polisi Militer Komando Daerah Militer Jakarta Raya (Pomdam Jaya).

Jangan beranggapan pula bila di Wisma Yaso terdapat koran, majalah, televisi teronggok di dekat tempat tidur sederhana, dan dijaga pula oleh tantara berpakaian preman dan militer secara ketat. Perintah presiden, Soeharto, yang baru menjabat memerintahkan Pomdam Jaya, untuk mengawasi dengan ketat Bung Karno di dalam Wisma Yaso.
Apalagi sejak Supersemar keluar tahun 1966 dan gelombang aksi massa menuntut presiden pertama itu diajukan ke Mahkamah Militer Luar Biasa, mengalir deras, Soekarno praktis menjalani tahanan rumah di Istana Bogor. Ketika itu Soebandrio, Menteri Luar Negeri dan Yusuf Muda Dalam, Menteri Urusan Bank Sentral, sedang diadili dengan tuduhan terlibat peristiwa Gerakan 30 September. Soekarno dianggap ikut bertanggung jawab atas peristiwa itu.

Walaupun secara resmi Soekarno masih menjabat presiden, ia dilarang pergi ke Jakarta dengan alasan keamanan sebagai seorang –yang kala itu masih bersatus sebagai presiden. Paling banter, Soekarno hanya diperbolehkan jalan-jalan ke pekarangan, dengan pengawasan dan kawalan petugas keamanan, yang dipantek bergantian selama 24 jam berada di Wisma Yasco
Isolasi itu kian terasa berat pada Maret 1967 ketika, Soekarno akhirnya menyerahkan kekuasaan kepada Soeharto. Sesuai dengan ketetapan MPRS, Soekarno dilarang melakukan kegiatan politik. Komando Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib) menetapkan karantina politik presiden pertama RI.

Begitu Soeharto menjadi pejabat presiden, keluarga Soekarno mendapat radiogram yang intinya memerintahkan Soekarno meninggalkan Istana Bogor dalam dua kali 24 jam. Soekarno pun minta pindah ke “Hing Puri Bima Sakti”, tempat yang sekarang dikenal sebagai Istana Batutulis di Bogor. Soekarno seorang diri di sana. Istri dan anak-anak yang membesuk tak boleh menginap. “Kami hanya bisa berkunjung dari jam delapan pagi sampai jam lima sore,” cerita Rachmawati (Tempo, 21 Mei 2006).

Udara Bogor yang dingin membuat kesehatan Soekarno melemah. Rematiknya kambuh. Ginjalnya ngadat. Tekanan darahnya tinggi dan ia menderita radang sendi. Selain itu, secara psikis Bung Karno mengalami depresi berat. Dalam catatan medisnya tercatat, ia menjadi sulit tidur dan pelupa. Dokter acap kali mengupayakan ia istirahat dengan memberinya obat tidur, seperti valium atau largatyl, agar lelap.
Khawatir dengan kesehatan bapaknya, Rachmawati menemui Soeharto yang baru menjabat presiden di Cendana. Ia membawa surat bapaknya yang meminta dipindahkan ke Wisma Yaso, Jakarta, mengingat suhu di Bogor terlalu dingin. Dikabulkan. Bung Karno dipindahkan ke Wisma Yaso. Tim dokter yang baru juga dibentuk, untuk memeriksa dan merawat Soekarno berjaga bergantian di Wisma Yaso.

Tapi penjagaan di Yaso justru super ketat. Keluarga pun tak bebas menengok. Saking ketatnya penjagaan, malah pada suatu kali pada awal 1969, Soekarno sama sekali tak bisa disambangi selama tiga bulan. Seluruh barang keperluan Soekarno, makanan sehari-hari dan pakaian, diantar sampai pos penjagaan. Saat itu presiden pertama RI ini terus diperiksa oleh Kopkamtib. Dan izin berkunjung itu baru diperoleh beberapa bulan kemudian setelah keluarga mengurus izin itu ke kantor Korps Polisi Militer di Jalan Guntur, Jakarta.
Selama itu, Soekarno praktis sendirian dan tak ada kegiatan sama sekali. Televisi diangkut, siaran radio dilarang didengarnya, koran tak boleh masuk , bacaan pun disortir. Komunikasinya dengan dunia luar digunting habis. Begitu ketatnya, sampai-sampai untuk jalan-jalan di pekarangan sekitar Wisma Yaso pun ia harus diantar petugas CPM.
Kegiatan yang ada hanya menunggu istri dan anaknya datang berkunjung. Teman setianya hanya Siti, seekor anjing yang selalu mendongak ketika Bung Karno bangun dan selalu tidur di bawah ranjangnya. Doktor Mahar Mardjono, salah satu anggota tim dokter yang merawatnya, sering melihat Soekarno murung. Pernah suatu saat tiba-tiba Soekarno merangkulnya sambil menangis tersedu. “Kamu satu-satunya yang bisa menolong saya. Saya sudah tak tahan lagi, saya ingin lihat-lihat kota,” kata Soekarno seperti ditirukan Mahar dalam otobiografinya, Mahar: Pejuang Pendidik dan Pendidik Pejuang (1997).
Lalu ia pun mengeluh. “Apa salah saya, kok saya diperlakukan seperti ini?” Jika sudah begitu, Mahar mengaku hanya bisa mendengarkan. Waktu itu ia hanya bisa menjanjikan akan meneruskan permintaan Soekarno itu kepada ketua tim dokter. Permintaan itu memang disampaikan, tapi Bung Karno tak pernah lagi bisa melihat kota.

Kesehatan Soekarno semakin buruk. Ia mulai sulit berjalan, sakit gigi, gemetar, dan nyeri kepala. Ginjalnya semakain merongrong ketika tinggal sepotong setelah operasi ginjal di Wina. Austria. Yang membuat Rachma lebih nelangsa ia melihat kesehatan bapaknya tak ditangani secara optimal
Di Wisma Yaso, Menurut Rachma, bapaknya hanya dirawat Dokter Soerojo, yang bukan dokter ahli. Padahal yang dibutuhkan saat itu adalah ahli ginjal dan peralatan cuci darah. Tapi sayangnya peralatan dialisa, yang kala itu sudah diproduksi di Inggris, belum juga datang. Untuk menahan serangan nyeri dokter memberinya obat peneneang, Lybrium 5 miligram. “Kadang-kadang malah hanya vitamin,” ujarnya.
Kesal dengan semua derita itu, suatu ketika saat membesuk bapaknya, Rachma nekat memotret sang bapak yang tertidur di sofa. Tubuhnya bengkak dan pucat karena susah buang air besar. Aksi potret itu dipergoki suster perawat yang umumnya berasal dari Korps Wanita Angkatan Darat. Rachma esoknya diinterogasi Pomdam. Foto itu hendak disita, tapi Rachma ngotot menolak.

Foto itulah kenangan terakhir dari sang bapak. Ginjal Soekarno makin rusak, kondisinya merosot. Lima hari kemudian, pada 11 Juni, Soekarno dilarikan ke RSPAD Jakarta. Ia tak sadarkan diri. Minggu, 21 Juni 1970, pukul 07.07 sang Proklamator wafat.
Sebagai penghormatan, Presiden Soeharto mengatur agar upacara pemakamannya dilakukan secara kenegaraan. Juga mengatur lokasi makam. Tak seperti wasiat dan kehendak keluarg yang ingin Soekarno dikubur di Batutulis, Bogor. Soeharto ingin pendahulunya itu dimakamkan di Blitar, di samping makam sang ibunda. Keberatan pihak keluarga tak mendapat tanggapan. Soeharto juga menganugerahkan gelar Proklamator Kemerdekaan.
Satu soal penting masih tersisa. Tiga puluh tahun setelah Soekarno meninggal dalam status tahanan politik, tidak ada usaha memulihkan status dan namanya. Usaha anak-anaknya merehabilitasi nama sang bapak pada tahun 2003 tinggal menjadi wacana.
Sampai sekarang tak ada kejelasan benarkah Soekarno terlibat dalam Gerakan 30 September. Soal kejelansan ini juga, apakah Soeharto pelaku kejahatan korupsi dan pelanggaran hak asasi manusia, akankah kita gantungkan sebagai bagian gelap dari sejarah? Jejak sejarah masalalu, tidak ada salahnya bila ditelisik ulang agar semua duduk masalah dimasa silam tak terkubur dan lenyap dalam ingatan kolektif rakyat Indonesia (lihat sumber – Tempo)

Requim
Ribuan pasang mata meneteskan airmata duka, saat jasad sang proklamator melintas dihadapan jutaan rakyat di pinggir jalan menghantar iring-iringan peti janasah dari RSPAD menuju pemakaman di Blitar. Jenasah sang proklamator itu akhirnya dimakamkan di pemakaman umum Blitar. Semestinya Bung Karno berhak disemayamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
Bukan hanya itu saja permohonan pihak keluarga yang menginginkan agar Bung Karno dikebumikan di Batutulis, Bogor tidak digubris Soeharto. Presiden yang baru menjabat itu, tetap bersikukuh agar Bung Karno dimakamkan di Blitar, di samping makam sang ibunda. Sejatinya pihak keluarga menginginkan agar sang proklamator tersebut dikebumikan di Taman Makam Kalibata, kalau di Batutulis tidak diizinkan. Tepat pukul 11 Juni, setelah dilarikan ke RSPAD Jakarta, sang proklamator itu sempat tak sadarkan diri, Minggu 21 Juni 1970, pukul 07.07 Bung Karno wafat.



No Comment