Pejuang Wanita di Dunia Pendidik: Ra Kartini, Cut Nyak Dhien & Dewi Sartika


Bukan hanya sekali gerakan perjuangan Kartini, yang dilakukan kaum perempuan untuk memperjuangkan kesetaraan pendidikan di negri ini diperingati. Tak hanya RA Kartini, yang pantas dicuatkan sebagai pendekar kaum wanita menghimpun kaum wanita merebut kemerdekaan belajar bersama dalam satu ruang sekolah dilakukannya, diujung pelosok Aceh Cut Nyak Dien dan juga di pinggir Bandung, Sukaesih, menorehkan perjuangannya agar kaum perempuan memperoleh pendidikan.

‘pembangkangan’ politik terhadap pendektean ‘menikah’ orangtua dan kerabat agar bersedia dijodohkan pangrehprojo secara paksa. Tidak hanya Kartnini yang melakukannya, Cut Nyak Dhien
pun juga melakukan hal yang sama setelah suaminya gugur dalam perjuangan perang Aceh yang memicu perlawanan terhadap Belanda. Pengorbanan para pejuang wanita Indonesia itulah yang menjadikan ‘greget’ kebangkitan perlawanan kaum perempuan merebut emansipasi setara kaum pria di dunia pendidikan.

Bukan hanya di dunia pengajaran literasi kebahasaan nasional yang diajarkan para pendekar perempuan memajukan pendidikan, tetapi juga mengajarkan narasi-prakmatis mengangkat senjata membela tanah airnya. Tidaklah mengejutkan bila kaum wanita, juga meraih mandate menjadi perwira di jajaran tentara Indonesia. Tidak hanya itu, kemajuan literasi mencapai puncaknya, ketika aturan undang-undang membolehkan kaum perempuan meniti karier dalam dunia politik di gedung parlemen. Sejak saat itulah, terbuka lebar kaum perempuan meniti karir pembawa aspirasi rakyat untuk menyuarakannya ke dalam gedung parlemen.

Bila kita telisik, perkembangan zaman, kemajuan dunia pendidikan yang dipelopori Kartini, tentu membawa hikmah bagi kemajuan kaum wanita. Selama lima periode pemilihan umum, sejak pertamakali Pemilu digelar, kita lihat dengan jelas kiprah kaum perempuan menyuarakan kepentingan rakyat lantang diperdengarkan di gedung parlemen. Pelbagai persoalan, tak luput dari sorotan kaum wanita mendendangkan-dengan sengit ketidakadilan yang dilakukan pemerintah terhadap kehidupan kaum perempuan di masyarkat. Mereka, tetap dan akan bersuara, menyuarakan kehidupan kaum papa di desa-dan-kota bagi rakyat.

Jangan heran, ketika Anda berjumpa dengan wanita berseragam militer di pundak mereka termaktub tanda pangkat bintang, dalam mengemban tanggungjawab sebagai komando tentara nasional berpangkat jenderal. Itulah cita-cita emansipasi yang diidam-idamkan RA Kartini dan para pejuang wanita di masa lalu: emansipasi. Tidak hanya itu, bila kalian berada di bangsal rumah-rumah sakit sedang dirawat, perhatikanlah kiprah para tenaga medis wanita merawat tanpa pilih kasih. Jangan pula Anda lupakan, kaum wanita yang berada di gedung sekolah berdiri mengajarimu, ketika kalian menuntut ilmu di dalam kampus

Tak perlu berucap-panjang lebar untuk memberi apresiasi terhadap kegigihan para wanita pendidik di sekolahan, mereka memerlukan tindakan nyata agar kehidupan yang dijalaninya wajar sebagai warganegara. Menyisihkan waktumu ketika berada di dalam kursi empuk di parlemen, untuk memperjuangkan secara nyata kehidupan bagi para pendekar wanita sebagai pendidik. Ucapan basa-basi, rasanya tak diperlukan lagi di kehidupan modern usai reformasi tahun lalu diperjuangkan para aktivis dan mahasiswa agar memperhatikan kehidupan tenaga medis dan para pendidik kaum perempuan.

Tidaklah berlebihan bila, pemerintah mampu memperhatikan kehidupan bagi para tenaga kerja wanita yang berada di luar negara, agar lebih terjamin kehidupan dan keamanan mereka. Termasuk jaminan memperoleh layanan ketika mereka memerlukannya. Bukan hanya saat mereka berada di luar negara, kaum perempuan pantas dilindungi sebagai warganegara, namun juga ditangan merekalah nama negri ini dipertaruhkan sebagai bangsa merdeka dan bermartabat. Sosok kaum wanita, bila kita tidak mampu berbuat banyak untuk melindunginya, tantu celotehan nyinyir dari mulut usil perempuan lain di luar negri tentu membuat kita sakit hati. Untuk itulah, perlunya kementerian yang membidanginya, agar selalu trengginas memantau kehidupan wanita di negri kita maupun di luar negara yang sedang bekerja.

Sediakan tempat hunian, sewa-kontrak jangka panjang bagi kaum wanita di luar negeri agar mereka lebih terjamin kehidupan di masa depan yang lebih baik. Segara undangkan rancangan peraturan undang-undang, bagi yang mengatur tentang kehidupan kaum perempuan yang berstatus sebagai pembantu rumahtangga, agar mereka dapat memperoleh jam-kerja layak pada umumnya. Memberikan jaminan sewa tempat dan/atau pinjam-angsur rumah-rumah deret, penting artinya bagi kaum perempuan di masa mendatang

Previous Jangan Bandingin Angkor Wat dengan Candi Lain di Ndesomu
This is the most recent story.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *