Entah lantaran kelamaan mblayang ke berbagai negara, sewaktu balik ke ndesonya Praci, dirinya ngajakin rekan seprofesi sebagai pemancing, buat nyari cacing buat umpan mancing di wilayah bekas kerajaan masalalu di Jawa Barat. Pasalnya Laura Geggel, penulis handal di Liveschiese, ngojhok-ojhoki agar sang pemancing asal Praci itu mengikuti sarannya. “Lha kenapa emangnya?” Gini ceritanya, di Swedia, bekas gundukan lahan pegunungan, ditemukan 20.000 koin Abad Pertengahan Awal. Jangan tanya nilai jual harta karung yang kagak dibayangkan sebelumnya, milyardan. Bukan hanya tumpukan koin perak-tembaga, tetapi duit zaman lawas, termasuk perhiaan emas.
Makanya, carilah cacing di tempat yang jauh dari keramaian, sambil semedi-lewat teknologi AI (Aretificial Intelegen) biar tahu tumpukan harta karun emas batangan, cincin, mutiara bakalan ketemu. “Sudahlah percaya saja. Itu buktinya petani mlarat di Stockholm kini jadi milyarder. “Jangan berargumentasi sembarangan dan membantah, cacing itu sangat berguna buat pencarian barang-barang berharga. Selain cacing itu, tulis Laura Geggel, cacing itu dapat ndlesep angslup ke dasar bumi, juga sukaannya melingkar di tempat-tempat aman, dari pelacak manusia murka,” katanya. Terserah.

Bisa dibayangkan tidak, betapa gembiranya JeSoe, salah satu rekan penggemar mancing diyakinkan wratawati terkenal dari luar negri. Lha nanti apa harus lapor terlebih dahulu ke dinas pengawasan benda-benda purbakala dan kebudayaan, kata rekan JeSoe dalam hati. Ndak usah lapor terlebih dahulu yach, harta karun itu pasti dapat ditemukan. “Situ pergio dulu, ke situs jaman lawas bekas candi, di Jawabarat, ntar tak lacaknya dengan alat tercanggih, dari Stockholm. Trus kamu saya kirim lewat jalur khusus tak terdeteksi pejabat biadap. Takutnya malah direbut mreka,” kata JeSoe, “Kalau belum-belum lapor terlebih dahulu malah kamu dikomuniskan.”
Bisa dibayangkan tumpukan koin perak, bercmpur mutiar, lionin dan cincin emas sejak jaman Abad Pertengahan Awal, jelas mengiurkan. Apalagi bila dikabarkan beratnya sekitar 6 kilogram, seperti yang dilaporkan Dewan Administratif Daerah di Stockholm. Benar saja, tanpa ba-bi-bu, konconya JeSoe mbandang cari cacing lantas kabur ke Mbandung terlebih dahulu. Siapa tahu, di bandung nanti bisa ketemu rekan-rekan arkeolog lawasan yang tahu soal gunung beneran, bukan gunung-kembar noni-nonie cantik mbandung. mbak jurnalis kece si Laura Geggel, tlepan-tlepon terus, and ngabari kalau dirinya juga mau ke indonesah lewat Mbandung. “Nanti saya dikancani yach opha. kalau halan-halan melacak mas-masan di Solo or Jogyo. Ndak ke Mbandung, ntar dikira saya pamer kecantikan, wong bule uayu kinyis-kinyis.” Mbuh mbak-mbak

Belum sempat nyampai di Mbandung, si mbake Laura Geggle, malah bikin deg-degan. Dia bilang bisik-bisik, kemungkinan artefak di gunung jawa barat enthu dipastikan harta karun Viking yang berusia 1.100 tahun. Dalam manuskrip yang tertulis, duit dan harta karun yang dipendam itu kemungkinan milik orang kaya di masalalu. Makanya koin emas bisa jadi nanti akan bermunculan satu demi satu. Ndak usah bilang-bilang sama rekan-rekan wartawan cuilik-cuilik, dia ndak dong. kalau soal harta karun yang usianya 1.400 tahun dan berisi uang dan perhiasan. Itu di dekat Danau Galilea.
“Mungkin yang disimpan di bawah gungung di Jabar itu, juga sama dengan yang disimpan dan ditemukan di Galilea. Bahkan penyelam juga menemukan lebih dari 1.000 koin emas dan perak dari bangkai kapal ‘Treasure Fleet’ tahun 1715 di Florida. Makanya kemungkinan besar ada yang di bawa ke indonesah di mbandung.” katanya sewot dibantah. Selain itu, menurut keterangan resmi lain, “Ini mungkin salah satu harta karun perak terbesar dari awal Abad Pertengahan yang pernah ditemukan di Swedia,” kata Sofia Andersson, seorang ahli barang antik di Badan Administrasi Daerah di Stockholm, dalam pernyataan tersebut. “Kami belum tahu persis berapa banyak koin yang ada, tetapi saya pikir jumlahnya bisa mencapai lebih dari dua puluh ribu.”

Tuh’kan percaya atau kagak, kalau situ kagak cari cacing buat memancing harta karun di gunung itu, saya pastikan, kamu bakal kere terus. Kagak dapat MBG – makan beracun gratis malah mumet sendiri. Sudahlah pergilah berburu harta karun. Biar eloe tahu yach koin perak berasal dari abad ke-12 dengan tulisan “Kanutus”, nama latin untuk jenis istilah Knut. Koin-koin tersebut dicetak pada masa raja Swedia, Knut Eriksson yang memerintah dari tahun 1172 hingga 1195. “Nah siapa tahu sebagian harta karus itu di bawa ke mbandung dan ditatanm di gunung. Itu. Lakukan, gwe tak ngurus pisa ke indonesah. Ngeliat ukuran dan banyaknya temuan harta karun itu jelas sangat menarik. Kata Lin Annerback, seperti dikutif Live Science. Pokmen kalau ada harta karusn, situ nulislah ntar saya muat, biar gaduh’kan mau Pilprex tahun 2029, buat modal. (tim indepth/nicole-moscow/eddyjsoe-Solo)



No Comment