Relawan Pendamping Difabilitas Down Syndrome Perlu Diperhatikan


Siti Patimah (berbaju ping berkerudung coklat) memberikan arahan kepada beberapa warga difabel binaan Pertamina untuk membatik di rumah edukasi Srikandi Patra Pertamina di Dusun Penjalinan, Desa Tawangsari, Kecamatan Teras, Boyolali. (14/10/2025). [Bram Selo AM/Kontributor Sar Klewer]

Kegiatan para guru pendamping mengajari kaum difabel nyatanya bukan hanya dari satu lembaga, di kota Solo, tetapi jug bermunculan berbagai lembaga nonformal seperti Srikandi Patra dengan sokongan Pertamina, menggiatkan di wilayah Boyolali dan kota pinggiran lain. Bukan hanya mengaktifkan gerak kepedulian, warga masyarakat dan lembaga pemerintan maupun nonpemerintah ikut cawe-cawe membebenahi kegiatan maupun memberi dukungan pendanaan untuk bagi kegiatan kelompok-kelompok penyandang down syndrome

Latihan di luar asrama maupun di dalam ruangan ‘markas’ mereka tentu patut diacungi jempol. Kegiatan membatik, dan berolahraga ringan bagi anak down syndrome tentu mengembirakan bocah-bocah, yang memang merasa tak bersalah ketika dilahirkan orang-tuanya itu, toh peran serta lembaga seperti Srikandi Patra, tak bias dipungkiri sangat berguna dan bermanfaat. Setidaknya bagi mereka, para pendamping dan pengelola lembaga yang peduli ikut berkiprah mendidik mereka seperti di lingkup lembaga Srikandi Patra.

Siti Patimah, anggota Sriekandi (berbaju ping berkerudung coklat) memberikan arahan warga difabel binaan Pertamina membatik di rumah edukasi Srikandi Patra Pertamina di Dusun Penjalinan, Desa Tawangsari, Kecamatan Teras, Boyolali. (14/10/2025). [Bram Selo AM/Kontributor Sar Klewer]

Dengarkan ucapan salah satu coordinator Sriekandi Patra, Siti Patimah, setiap kali mendampingi anak-anak down syndrome tetap penuh semangat ikut bersorak-sorai menyemangati mereka. “Ayo kita membatik di luar, kalau di dalam ruangan’kan udaranya panas. Jangan sampai putus asa, kalian pasti dapat melakukan seperti anak lain,” teriak Siti Patimah, ikutan bertepuk-tangan melatih anak kaum defabel itu.

Tentu kegiatan yang dilakukan para pendamping anak down syndrome lembaga dibawah naungan Pertamina, di desa Tawangsari, Kecamatan Teras, Boyolali itu, pantas memperolah apresiasi dan terus dibina kegiatan semacam ituterus dikembangkan keberadaannya. Meski kegiatan yang dikoordinir Pertamina dengan menggandeng lembaga-lembaga pengelola kaum difabilitas di Boyolai waktu itu yang datang empat kelompok dari rencana enam yang bersedia ikut kegiatan, toh para pendamping tidak berkecil hati. “Kami tetap harus memberi semangat pada adik-adik agar mereka tetap beraktifitas. Meski ada kelompok yang tadinya ingin ikut, tetapi membatalkan, tidak masalah. Yang penting anak down syndrome itu tertangani melakukan aktivitas,” ujarnya

Lihat saja para pendamping mengajari, anak down syndrome menorehkan canting di atas lembaran kain putih agar diorat-oret anak-anak sejak dini hari telah dipersiapkan sejak hari sebelumnya. Aktivitas mendampingi anak down syndrome, tentu bukan hal sepele dan dicibirkan orang lain, apalagi menganggap lembaga yang mengelola aktivitas kaum defabilitas tersebut, bukan kelas ecek-ecek. Menurut Siti Patimah, lembaga Srieekandi Patra, telah lama berdiri sejak April 2018 lalu.

Siti Patimah, anggota Sriekandi (berbaju ping berkerudung coklat) memberikan arahan warga difabel binaan Pertamina membatik di rumah edukasi Srikandi Patra Pertamina di Dusun Penjalinan, Desa Tawangsari, Kecamatan Teras, Boyolali. (14/10/2025). [Bram Selo AM/Kontributor Sar Klewer]

Ketelatenan para pengelola lembaga untuk membesarkan Sriekandi Patra, tentu tak bisa dianggap kecil pengaruhnya terhadap kemajuan dan kesinambungan hidup bagi anak-anak down syndrome yang menjadi tanggungjawab mereka agar menjadi manusia berguna nantinya. “Sriekandie Patra memang bergerak dibidang pendidikan kaum defabilitas anak perempuan. Awalnya kelompoknya hanya memproduksi batik tulis, dan masker sewaktu serangan virus tahun lalu. Kemudian beralih haluan memproduksi souvenir, berupa pouch dan totebag, juga srung bental sofa,” ujar Siti Patimah di tempat latih-giat anak down syndrome.

Boyolali. (14/10/2025). [Bram Selo AM/Kontributor Sar Klewer]

Peran lembaga lain, seperti Pertamina dan sesama mitra lembaga seperti kelompok Kresna Patra, ikut dijalin bermitra dengan usaha bisnis Sriekandie Patra, dalam proses pemotongan dan menjahit bahan-bahan yang telah didesing bersma. Tentu tidak melibatkan anak-anak down syndrome, namun toh para aktivi guru pendamping, diberi keleluasaan menuangkan gagasan agar produk rekan-rekan dapat memicu keingintahuan anak defabilitas. Secara sederhana, biar syaraf di jaringan sel-sel otak meraka tidak berhenti, dan tetap berjalan normal kembali, itu salah satu tujuannya. “Itu yang diajarkan pada para pendamping agar, kaum down syndrome tetap melakukan kegiatan produktif,’ katanya.

“Andai saja para pelancong dan mau berempati terhadap anak-anak defabilitas, tentu sangat mengembirakan. Sebab ditangan merekalah, nantinya generasi mendatang dapat membanggakan, bahwa warg kota Solo, Boyolali tetap memperhatikan kesejahteraan melalui kegiatan buat mereka. Salah satunya mendorong usaha untuk memajukan dunia pendidikan kaum down syndrome. Selama ini, pemasaran masih sebatas lingkungan sekitar dan order dari beberapa instansi. Tentu kami sangat berterima kasih. Tentu saja kelompok pendamping seperti Pertamina wilayah Jawa Bagian Tengah tak akan membiarkan lembaga-lembaga yang peduli terhadap anak-anak kaum defabilitas di berbagai tempat. Salah satunya di Solo, Sragen dan Boyolali.” [Bram Selo AM/Kontributor Sar Klewer]

Mempraktikkan membatik secara langsung dengan bimbingan para relawan Sriekandi di Boyolali. (14/10/2025). [Bram Selo AM/Kontributor Sar Klewer]
Previous Penyandang Difabiltas Bukan Kutukan Tuhan, Tapi Down Syndrome
Next Keluarga Merasa Aib Anak Difabilitas, Dilatih Membatik di Tawangsari

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *