Keluarga Merasa Aib Anak Difabilitas, Dilatih Membatik di Tawangsari


Warga difabel binaan Pertamina untuk membatik di rumah edukasi Sriekandi Patra Pertamina di Dusun Penjalinan, Desa Tawangsari, Kecamatan Teras, Boyolali. (14/10/2025). [Bram Selo AM/Kontributor Sar Klewer]

Menyadarkan keluarga orangtua penyandang defabilitas agar putranya ikut bersosialisasi, sangat susah. Banyak alasan ketika kami, pendamping, mengawarkan agar putra-putri defabilitas ikut bergabung dalam kegiatan yang didukung lembaga terpercaya, juga sulit dipahami. Padahal, menurut empat pendamping, yang selalu mengikuti dan membimbing kegiatan, di luar asrama atau berada di luar rumah, seperti Siti Patimah, Yuni Lestari dan Sri Mariyatun, maupun Sri menyatakan bertanggungjawab atas keselamatan anak.

Perlu diketahui, di desa Tawangsari, Kabupaten Boyolali, terdapat 29 penyandang defabilitas. Menurut para pendamping, awalmula mereka mendekati orang tua saat ditemui para relawan agar putranya bergabung dengan rekan defabilitas lain, susah. Pelbagai alasan yang dikemukan, meski tak secara terbuka, mengatakannya, mempunyai putra difabilitas merupakan aib bagi keluarg. Masih banyak warga setempat, yang berusaha sekuat tenaga agar putranya tidak diketahui masyarakat luas.

Lestari, warga difabel binaan Pertamina meniup canting saat membatik di rumah edukasi Sriekandi Patra Pertamina di Dusun Penjalinan, Desa Tawangsari, Kecamatan Teras, Boyolali. (14/10/2025). [Bram Selo AM/Kontributor Sar Klewer]

Bisa jadi lantaran memilik putra berkebutuhan khusus –defabilitas- membuat orang tua merasa rendah diri dan malu. Bisa pula, memberikan kesempatan pada relawan yang akan membimbing anaknya, perlu dana bagi aktivitas anaknya di luar rumah. Pendapat seperti itu keliru. Padahal, hal seperti itu, tidak perlu tertanam dalam hati keluarga. Justru mestinya, keakraban antarsesama difabilitas melalui pergaulan dengan sesama kaum defabilitas, menambah keceriaan anak.

Berulangkali para relawan, pendamping defabilitas, membujuk keluarga yang memiliki putra defabilitas membujuk agar putra mereka mau bergabung dengan rekan-rekan dalam satu kegiatan. “Manfaatnya banyak, bagi si anak saat berkumpul dengan rekan mereka di satu kegiatan,” ujar Siti Patimah yang menemani anak-anak dalam satu kegiatan di luar ruang asrama.. “Agak sulit menjelaskan. Mau mereka putra mereka berada di rumah, dan didik sendiri, tanpa perlu berkegiatan.”

Lestari warga difabel binaan Pertamina meniup canting saat membatik di rumah edukasi Sriekandi Patra Pertamina di Dusun Penjalinan, Desa Tawangsari, Kecamatan Teras, Boyolali. (14/10/2025). [Bram Selo AM/Kontributor Sar Klewer]

Ketidaksetujuan orangtua ‘melepaskan’ putranya dalam satu kegiatan didampingi relawan, banyak hal menjadi penyebabnya. Ada juga yang berpikiran sempit, ketakutan menyerahkan putranya karena ketakutan bila di ajak ke suatu tempat, justru tidak akan kembali ke rumah. “Takut kehilangan anak, ketika kami ajak bersosialisasi kegiatan membatik, sebagai contoh, keluarganya benar-bernar tertutup,” ujar Siti Patimah menambahkan. “Padhal, kami tidak pernah berpikir sejahat itu,” kata Sri Mariyatun, pendamping lain menambahkan. “Kowk yach ada orang tua berpikiran seperti itu. Justru kami ingin membahagiakan kehidupan para penyandang difabilitas. Meskipun dituduh macam-macam.”

Dibantu pengurus Sriekandi Patra, Wawan warga difabel binaan Pertamina menggunakan kursi menunggu dijemput keluarga Boyolali. (14/10/2025). [Bram Selo AM/Kontributor Sar Klewer]

Meskipun pendidikan psiko-sosial para penyandang defabilitas berada ditengah kerumunan masyarakat luas, dinilai kurang tepat; toh pendamping menganggap perlu dilakukan untuk bersosialisasi anak-anak agar mereka mengerti. “Lihatlah kegembiraan anak saat diminta bersorak-sorak atau bertepuk-tangan berada dikerumunan masyarakat luas,” ujarnya. “Apalagi saat mereka ikut belajar membatik.”

Lebih lanjut pendamping defabilitas dari Lembaga Sriekandi, mbak Sri mengatakan kegiatan belajar membatik sesama kaum bagi anak berkebutuhan khusus, menurutnya sangat perlu dilakukan. Sebab katanya, selain mereka diajari secara nyata proses dan cara menorehkan alat membatik, juga sekaligus belajar mencorat-coretkan malam di atas kain putih yang telah disiapkan. Anak-anak itu tentu, senang ketika ‘menyebul’ canting malam keluar dari mulutnya, agar dapat digunakan. “Pelajaran itu, memicu daya kritatifitas dalam cel-cel jaringan otak mereka tetap bertambah baik. Itulah salah satu kegiatan menumbuhkan nara-melalui program kreativitas pemicu jaringan sel saraf di otak,” ujarnya

Keluarga defabel binaan Pertamina berphoto bersama sebelum dijemput pihak keluarg usai menyelesaikan pelatihan membatik, di rumah edukasi Sriekandi Patra [Bram Selo AM/Kontributor Sar Klewer]
Previous Relawan Pendamping Difabilitas Down Syndrome Perlu Diperhatikan
Next Faham Tenongan VS Burger Jawa

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *