Mempertanyakan wujud ke-Martir-an (bahasa Inggris: martyr) adalah sebuah kata yang berasal dari Bahasa Yunani, yaitu μαρτυρ, artinya “saksi” atau “orang yang memberikan kesaksian”, tampaknya sangat sulit ditemui di abad iptek-AI (artificial intelegent) saat ini. Bila kita bertumpu pada arti makna kata berarti seseorang atau orang-orang yang berkorban, sering kali sampai mati, demi kepercayaannya, tampaknya sungguh sangat mustahil. Itulah sebabnya, pengertian martir, dilingkungan komunitas gereja katholik, pantas secara terus-menerus diadakan kesepakatan

Sebuah konferensi, menurut media Aleteia, yang diselenggarakan Dikasteri bagi Urusan Orang Kudus di Roma perlu diadakan dengan sangat serius. Lantaran membahas persoalan hidup-mati seseorang yang pantas disebut martir bagi Kristus di seluruh dunia diadakan. Dengan demikian, tidak ujug-ujug penganugerahan seseorang pantas disebut partir bagi kehidupan gerejani. “Para martir di dalam lingkup gereja merupakan saksi harapan yang datang dari iman, kepada Kristus. Dan yang lebih penting mendorong kasih sejati. Berharap tetap menghidupkan keyakinan mendalam, bahwa kebaikan lebih kuat daripada kejahatan. Karena Tuhan di dalam Kristus telah menaklukkan dosa dan kematian.”

Fatwa yang disampaikan Paus Fransiskus dalam surat pada bulan Juli 2023 yang membentuk “Komisi Martir Baru – kesaksian iman” dalam terang Yubelium 2025. Pada dasarnya, surat gembala yang disuarakan Paus Fransiskus, pernah dimodelkan sewaktu paus Yohanes Paulus II untuk Yubelium 2000. Bahkan, komisi di dalam Diskasteri untuk Urusan Orang Kudus, telah pula mengumpulkan kisah-kisah para martir Kristen di abad ke-21 di seluruh jagat.
Perjalanan panjang dengan fokus itulah, dikasteri untuk Urusan Orang Kudus mengadakan konferensi akademis tahunan mereka dengan tema “Tidak ada cinta yang lebih besar. Kemartiran dan Persembahan Hidup” di Roma dari tanggal 11 hingga 14 November 2024. Tentu hajatan sakral tersbut melibatkan para akademisi, pendeta, biarawati, dan banyak lagi, yang dianggap dianggap sebagai martir. Terutama mampu mengurai dan menyelidiki apa yang mendorong kebencian terhadap iman Katolik di seluruh duni. “Agar lebih jelas mengetahui apa arti sebenarnya mempersembahkan hidup seseorang untuk Kristus dan Gereja,” tulis Aleteia tahun lalu.
Pada tanggal 14 November, tiga akademisi dan satu jurnalis melihat apa yang menimbulkan kebencian terhadap iman, dan dengan demikian mengarah pada para martir, dalam empat konteks geografis dan sosial yang berbeda: Asia, Amerika Latin, Eropa, dan Afrika. Meskipun para pembicara menyoroti banyak aspek berbeda yang mengakibatkan penganiayaan terhadap orang Kristen di berbagai wilayah ini, satu tema yang muncul kembali adalah berapa banyak umat Katolik yang menjadi martir karena keengganan mereka untuk menyerah pada situasi kekerasan atau sistem yang tidak adil yang melanggar martabat manusia dan cita-cita Kristen tentang kasih dan cinta.

Memberontak Terhadap Gerakan Ideologis
Pastor Jan Mirkut, dari Universitas Kepausan Gregorian, seperti ditulis Aleteia, misalnya, berbicara tentang berbagai sistem totaliter dan ideologis yang telah melahirkan para martir di Eropa. “Bagi Gereja di Eropa, abad ke-20 merupakan periode yang menyakitkan tetapi juga penuh kemuliaan,” katanya. “Penganiayaan terhadap orang Kristen […] di satu sisi menyebabkan banyaknya martir. Di sisi lain, para martir juga menunjukkan vitalitas iman mereka yang besar.”
Lebih lanjut dalam artikel Aleteia, memberi gambaran gamblang menyebut orang Kristen yang menentang Nazisme, fasisme, atau komunisme di Rusia, Italia, Jerman, Spanyol, atau Albania. Dia menyoroti contoh-contoh yang terkenal, seperti St. Maximilian Kolbe (1894 – 1941), tetapi juga tokoh-tokoh dari gereja-gereja Kristen lainnya seperti Patriark Ortodoks Rusia Tikhon dari Moskow (1856 – 1925), yang tidak dibunuh karena imannya, tetapi dianiaya dengan kejam karena menentang negara Soviet yang baru. “Komisi Yubelium Paus Fransiskus sebenarnya juga mempelajari para martir dan saksi iman dari agama Kristen non-Katolik lainnya,” tulis naskah di Aleteia
Tidak Menyerah Pada Kekerasan & Perpecahan
Demikian pula, Pastor Aimable Musoni, SDB, dari Universitas Kepausan Salesian, mengidentifikasi isu-isu sosial politik sebagai salah satu tema yang di Afrika telah menimbulkan kebencian terhadap iman Katolik dan dengan demikian menyebabkan banyak umat beriman meninggal karena cita-cita dan keyakinan mereka. Menurut Aleteia, ia menyoroti pasangan suami istri Rwanda dan Pelayan Tuhan, Cyprien (1935–1994) dan Daphrose Rugamba (1944–1994), yang menentang perpecahan etnis dan dibunuh pada tahun 1994 selama genosida Rwanda.
Demikian pula perjalanan seorang martir Uskup Agung Jesuit Christophe Munzihirwa Mwene Ngabo (1926 – 1996) dari Bukavu, Republik Demokratik Kongo, yang sangat menentang kekerasan selama Perang Kongo Pertama dan dijuluki oleh banyak orang sebagai Oscar Romero dari Kongo. “Para hamba Tuhan yang memperjuangkan terus berlanjut itu, diakui atas keberanian mereka dalam membela hak asasi manusia dan mengejar keadilan, rekonsolisasi, serta perdamaian di negara masing-masing,” kata Pastor Musoni dengan tegas.

Pembelaan terhadap hak asasi manusia
Profesor Gianni La Bella, dari Universitas Modena dan Reggio Emilia juga menyoroti pembelaan yang kuat terhadap hak asasi manusia dan martabat yang menyebabkan banyak umat Katolik Amerika Latin menjadi martir, dengan memfokuskan pidatonya pada periode dari tahun 2000 hingga saat ini. Ia secara khusus menekankan bagaimana Gereja di Amerika Latin sering kali menjadi satu-satunya tempat berlindung bagi penduduk yang menghadapi sistem negara yang gagal, kemiskinan, dan kekerasan geng.
Profesor La Bella menyebutkan pembunuhan Pastor Marcelo Pérez (1973 – 2024) asal Meksiko baru-baru ini, pada tanggal 20 Oktober 2024, yang dikenal karena “dedikasinya yang tak kenal lelah terhadap pelayanan perdamaian dan keadilan” terhadap kejahatan terorganisasi. Atau juga pembunuhan Uskup Agung Isaías Duarte Cancino dari Cali, Kolombia, (1939 – 2002), yang mengkritik keras kartel narkoba lokal, kelompok gerilya, dan otoritas yang korup.

Profesor La Bella juga menyebutkan kategori umat Katolik yang menarik yang menurutnya harus diperhatikan, yaitu mereka yang “dengan bebas dan sadar menyerahkan hidup mereka” dengan melayani dengan penuh kasih mereka yang terdampak pandemi COVID-19. Ia menggarisbawahi bagaimana isu-isu struktural seperti ketimpangan sosial ekonomi, kurangnya akses layanan kesehatan, lapangan kerja informal, dan isu-isu lainnya mengakibatkan Amerika Latin menjadi negara yang paling terdampak pandemi. Ia menjelaskan bahwa Gereja berada di garis depan, dengan mengutip beberapa pendeta dan biarawati yang meninggal karena COVID-19, setelah menolak untuk berhenti merawat orang-orang yang kurang beruntung atau orang tua yang terdampak virus tersebut. Saksi yang tenang dan kuat
Jurnalis Paolo Affatato, kepala bagian Asia dari Fides, outlet media Serikat Misi Kepausan, menjelaskan bagaimana para martir di benua ini dalam 25 tahun terakhir sering dibunuh saat menjalankan iman mereka. Ini karena Katolik adalah agama yang di banyak bagian Asia telah dan mungkin masih dianggap sebagai “asing” dan “asing” dan dengan demikian “ditolak sejak awal,” jelasnya. Bahkan sekadar memberitakan Injil di daerah tertentu dapat dianggap sebagai “proselitisme” dan menyebabkan “permusuhan, kekerasan, penganiayaan atau bahkan dilarang.”

Afffatato mengatakan bahwa kesaksian kuat umat Katolik Asia terletak pada kemampuan mereka untuk “menabur Injil dalam harmoni penuh, tidak dalam konflik, apalagi mengabaikan budaya lokal.” Namun, ia menyoroti bahwa bahkan di tempat-tempat di mana umat Kristen menghadapi kesulitan terbesar, ia melihat mereka menjalankan iman mereka dengan “keaslian, kedalaman, dan radikalitas.” Affatato memuji kekuatan iman di Pakistan, misalnya, dan menyoroti kisah Hamba Tuhan Akash Bashir (1994 – 2015), yang akhirnya bisa menjadi orang suci pertama di negara itu. Ia adalah seorang pria berusia 20 tahun yang meninggal saat ia menghalangi seorang pelaku bom bunuh diri memasuki gerejanya di Lahore pada bulan Maret 2015.
Jurnalis itu juga menyebutkan contoh “yang disebut ‘Gereja Keheningan'” di Korea Utara, yang secara formal merupakan negara ateis. Itu adalah “sebuah komunitas yang terdiri dari orang-orang Kristen yang tersembunyi […] orang-orang yang tidak membiarkan pancaran Roh Kudus padam, dan menjaga dasar-dasar iman di dalam hati mereka, meskipun mereka tidak memiliki kebebasan untuk mengaku bahwa mereka adalah murid-murid Yesus.” (courtesy Aleteia.org and social media news) | eddy j soetopo



No Comment