Susahnya Belajar Bahasa Keriting Rusia


From Rusia with Love, lagu lawas Frans Sinatra mengalun sayup-sayup di kedai Komunitas Utan Kayu, terpancar melalui gelombang Radio 68-H. Cuaca buruk, menyemberkan suara penyanyi gaek, tak seindah pertama kali lagu itu terdengar sebelum kursus bahasa Rusia di Pusat Kebudayaan Rusia di mulai, lima belas tahun lalu. Tidak mudah mengikuti kursus bahasa ‘keriting’ negeri beruang merah saat itu. Maklum waktu itu sedang ganas-ganasnya Soeharto membabat gerakan kiri.

Sungguh mengasyikan sekaligus menakutkan waktu itu. Sangat menakutkan. Bayangkan saja untuk mengikuti kursus bahasa Rusia, saya harus mengumpulkan foto 4×6 sebanyak 16 expemplar, dan mengisi formulir yang isinya, kalau tidak asalah ingat, harus mencantumkan silsilah keluarga dari nenek, kakek dan orang tua. “Pokoknya berabe deh,” kata Jez Soetopo

Bagaimana dengan kondisi saat ini? “Jauh lebih baik bila dibandingkan dengan 35 tahun lalu saat saya ingin belajar bahasa Rusia. Minimal sudah banyak orang yang tertarik dengan bahasa Rusia. Bahkan, beberapa waktu lalu, ketika saya ingin kembali mengikuti pelajaran bahasa Rusia, saya lihat banyak kaum perempuan yang ikut menjadi peserta kursus. Bahkan ada juga yang berjilbab. Kalau jaman dahulu sudah pasti akan dikucilkan dan bahkan dicap pro-komunis. Lebih apes lagi bisa-bisa diciduk. Air ‘kali…haa..haa.”

Menurut wakil direktur Pusat Kebudayaan Rusia, Ojie ditemui 15 tahun lalu, sekarang sangat jauh lebih terbuka dibanding dengan sebelum era reformasi di Indonesia. “Menurut cerita-cerita yang pernah saya dengar, jaman dulu untuk bisa kursus bahasa Rusia diperlukan semacam test screning segala. Menurut saya sungguh aneh. Orang mau belajar koq ditanyain macem-macem, ya jadinya takut. Tapi sekarang tidak lagi seperti itu.”

Salah satu kebodohan tak terkira, menurut salah satu pemerhati budaya dan sastra, pemerintah saat rejim diktator Soeharto berkuasa yaitu melarang ajaran semua bahasa dan budaya yang berbau-bau dari negara komunis. “Pelajaran bahasa Cina dan Rusia tidak boleh diajarkan di berbagai universitas,” ujar Dr. I Wibowo staf pengajar Fakultas Sastra dan Budaya UI. “Celakanya, saat orang ribut korupsi pembelian senjata dari Rusia yang nota kesepakatannya tertulis menggunakan bahasa Rusia, tak satupun memahami MoU.”

Apa yang dikatakan Sinolog UI itu tak dapat disangkal, sebab jauh sebelum era reformasi pemerintahan otoriter Soeharto memberangus semua gerakan yang berbau komunis. Seluruh budaya dan aksara negara komunis dilarang di seluruh wilayah RI.
“Jelas hal ini sangat tidak menguntungkan perkembangan ilmu pengetahuan. Terutama dari segi pemahaman budaya di dua negara Rusia dan Repbulik Rakyat Cina.”

Sekarang, lanjut rohaniawan yang ahli China itu, lihat kedua negara mengeliat setelah didera persoalan. “Kita harus bersyukur ketika Gus Dur memberi kebebasan pada siapapun yang ingin belajar dua bahasa Rusia dan China. “Termasuk kebudayaan dibolehkan tampil di muka umum. Dulu jamannya Soeharto tabu dilakukan.”

Imbas pencabutan larangan belajar bahasa China dan Rusia, kini dapat dilihat tempat-tempat kursus bahasa China dan Pusat Kebudayaan Rusia membuka kesempatan pada masyarakat yang ingin mengikuti pelajaran bahasa Rusia. “Dulu saya takut setengah mati ingin mengambil bahasa Studi Rusia di UI. Kata teman-teman bokap, ‘Ech anak loe mau jadi komunis apa?’ Toh saya bukan penganut faham Komunis,” ujar Anna Kathrina. Jadi jangan takut belajar bahasa keriting Rusia and China (nicole/eddy jez 2025)

Previous Kalianlah Penyebab Kegaduhan Rakyat Ngamuk: Berjoget-Joget
Next Jejak Gambar Partai Berlambang Banteng

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *