Mengenang Fenomena Pemilu Mega-Bintang dan “Kudatuli”


Bagi generasi sepuh, yang berkecimpung dalam partai politik dan menjalani aktivisme sebagai gerakan pembebasan, dari cengkeraman orde baru, tentu tak akan lupa, Peristiwa gegeran perseteruan aktivis di dalam tubuh partai politik PDI (Partai Demokrasi Indonesia) kala itu. Apalagi sikut-sikutan di dalam tubuh partai politik, yang tidak disenangi pemerintahan Orde Baru (Orba) ketika, kepala pemerintahan-kepala negara dijabat Jenderal Suharto.

Tentu situasai politik nasional semakin memanas ketika PDI, Kubu Soerjadi, didukung dan direstui pemerintah Orba. Dan selentingan berhembus Megawati dikabarkan santer akan memboikut Pemilu 1997. Bukan hanya di jaringan warga masyarakat di ibukkota, simpati terhadap Megawati semakin meluas, semenjak kepungursannya

Ketika pemerintah mengesahkan PDI Kubu Soerjadi, Sedangkan kubu Megawati. temti saja tersingkir dari tampuk perbincangan warga masyarakat. Namun perjuangan kubu yang tetap bersikukuh tetap bertahan dengan ideologi sebagai partainya kaum marhaen, tentu tak goyah. Menentang partai yang dikendalikan kubu Soerjadi.

Mega bersama kaum pinggiran yang tetap bersikukuh akan melakukan boikot Pemilu 1997, dan menentang campur-tangan pemerintah Orba merancang kegaduhan dan keonaran memecah belah Partai Demokrasi Indonesia. Situasi seperti itulah yang menyebabkan simpati terhadap Mega semakin meluas, sejak kepengurusan PDI tidak disahkan pemerintahan regim Orba. Dukungan akar rumput terhadap Mega, praktis tak terbendung, dan semakin membesar, dari kaum marhaen.

Bukan hanya kalangan kaum marhaen di tingkat akar rumput, namun juga partai politik lain yakni Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mulain melirik Mega untuk ikut terlibat menarik massa. Bisa saja Mega dianggap memiliki daya tarik yang tak mungkin dimiliki figur siapapun, dikalangan PPP. Absennya Mega di Pemilu 1997, muncul terminologi “Mega-Bintang” yang merujuk pada pasangan Megawati SOekarnoputri-Sri Bingtang Pamungkas.

Di Kota Solo, Jawa Tengah, kampanye PPP diisukan dihadiri oleh Mega, meskipun kehadiran Megawati tidak datang, walau 100.000 orang telah berkumpul berharap kehadirannya. Di Jakarta, Semarang, dan Madiun, seingat kami yang melakukan liputan politik, juga menggelontorkan kampanye dan umbul-umbul atribut Mega-Bintang. Tentu saja Rezim Orba Soeharto, kalang kabut melihat kampanye kaum marhaen membawa spanduk Mega-Bintang.

Spanduk dan umbul-umbuk Mega-Bintang jelas mengancam kekuasaan kala itu. Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri, kepolisian, Kassospol ABRI dan Panitia Pemilihan, terpaksa mengamankan –istilah untuk membungkam sebaran umbul-umbul dan atribut spanduk “Mega Bintang. Jelas terlihat, bayangan jelang Pemilu 1997, rezim Orba, sangat takut dengan embel-embel yang mentautkan nama Megawati. Mengingat posisi Mega, jelas sangat kuat, meski pasif

Mega bahkan tak pernah hadir di kampanye & pertemuan PPP. Ia sempat ditanya soal fenomena Mega-Bintang. “Memang istilah Mega-Bintang itu ada kaitannya dengan nama saya? saya pikir ada benarnya yang dimaksud adalah bintang yang besar” jawab Mega santai. PDI Kubu Soerjadi kelimpungan di akar rumput. Pemilih meninggalkan PDI sejak mereka menzolimi Mega. PDI Kubu Soerjadi terjebak situasi.

Soerjadi juga tak pernah memperkirakan dampak Peristiwa Kudatuli 27 Juli 1996 akan semasif ini. Dampaknya, kursi PPP naik tajam dari 62 kursi di Pemilu 1992 menjadi 89 kursi di Pemilu 1997. Kenaikannya sekitar 27 kursi. Sementara perolehan kursi PDI Kubu Soerjadi turun dari 56 di Pemilu 1992 menjadi 11 di Pemilu 1997. Penurunnyanya sekitar 45 kursi saat Mega memutuskan tak mendukung PDI kubu Soerjadi (Note : berbagai sumber)

Previous Pejuang Wanita di Dunia Pendidik: Ra Kartini, Cut Nyak Dhien & Dewi Sartika
This is the most recent story.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *