Jangan tanya bokap-nyokap rocker lawas, penentang dan sekaligus peredam aksi Amerika Serikat menganeksasi Vietnam di masalalu. Bisa jadi keluarga kalian belum tentu mengetahui, duduknya perkara mengapa AS ngeyel ingin merangsek Vietnam. Jangankan nyokap-bokap kalian, gwe aja juga belum lahir ketika aktivis seangkatan Jimmy Hendrik, dan John Lenon itu nekat ngelawan pemerintah AS agar menghentikan perang, namun ngeyel tetap melakukan invasi ke Vietnam. Bisa jadi, tembok penyekat pemilah blok Utara-Selatan, dalam tradisi global perebutan kekuasaan: blok AS-Soviet
Takayal kegemparan perang antara pasukan tentara AS yang dilawan para gerilyawan Vietnam mempertahankan daerahnya, jelas membuat presiden Amerika serikat murka. Apalagi, menurut pengamat internasional Daniel S Lev, yang suka wira-wiri Amerika-Vietnam, menyatakan tujuan utama AS ingin menganeksasi Vietnam sebenarnya ingin mencaplok kawasan Asean. Terutama berusaha mengangkangi Indonesia, waktu itu masih diduduki Belanda, sebelum merdeka.
Entah mengapa, aktivis yang mayoritas adalah kaum Hipies –generasi muda penggemar musik rock- menentang keinginan AS nyerobot seluruh jazirah Vietnam semuanya. Perlu diketahui, dulunya Vietnam masih dalam satu kesatuan negara berbatas patokan “lintang utara-selatan” yang belum terbelah dikuasai Amerika Serikat dan Soviet (Rusia) hingga kini. Korea Selatan berafiliasi ke pusat kekuasaan Amerika Seikat, sedangkan Korea Utara berada dominasi negara Soviet.
Nah lantaran itulah, perang beneran tetap berjalan bertahun-tahun, bahkan hingga saat ini kedua negara tersebut tetap mempertahankan diri untuk saling membantu, bila diperlukan negara lain, Korea. Lantaran perang “tenanan” pakai bedil, tank dan pesawat, jelas menimbulkan pertumpahan darah manusia hingga meninggal tanpa diketahui para pemimpin negara yang sedang bereteru –Amerika Serikat-Rusia, kala itu; para aktivis anti-perang mendesak pemerintahan AS agar dihentikan keinginan menguasai negri Korea.
Mereka mengelar demonstrasi besar-besaran dan menggalang seluruh rakyat Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya agar ikut menentang keingian rakus presiden Resolwet berhenti mengincar Korea. Banyak aktris, seniman dan rocker menyampaikan ‘setangkai bunga’ sebagai tanda mereka tak menginginkan AS memerangi rakyat korea selatan dan utara. Generasi itulah kemudian diebut Gerasi Bunga. Salah satu aktris terkenal setuju dan berkumpul, menggelar aksi main musik bareng sepanjang 1 bulan lebih di berbagai tempat, menyerukan stop perang.
Sebut saja pasangan ibu Dorothy East dan ayah Seth Joplin, dulunya memang pentolan dan rocker lawasan penentang perang di amerika, “Rakyat amerika tidak bahagia bila rencana melakukan aneksasi negraranya menguasai Korea. Kami tidak setuju dan menentang keras tindakan tersebut,” katanya dalam wawancara radio di depan ribuan orang yang memadati konser rock menentang perang korea. “Kami semua tidak berbahagia, pemerintah Amerika merebut nagara lain, yang dapat menimbulkan kekerasan dan kematian rakyat negri lain.”
Namanya juga pewaris keluarga aktivis penentang perang dan pertumpahan darah, Janis Joplin, sang anak dan keluarga besar trah Joplin hingga kini tetap konsisten menentang negaranya merebut kekuasaan negri lain. Lantaran itulah, kemudian keluarga Joplin meneruskan strategi keluarga besarnya untuk menggelorakan sebagai penentang perang di AS.
Benar saja, sewaktu remaja, Janis Joplin, malah menghimpun dan berteman dengan kelompok berandalan. Salah seorang temannya memiliki album musisi blues Bessie Smith dan Leadbelly. Kedua artis blues tersebut nantinya menjadi inspirasi Joplin menjadi penyanyi, penentang peperangan. Joplin mulai bernyanyi lokal dan mulai mendengarkan penyanyi-penyanyi blues lain seperti Odetta dan Big Mama Thornton .
Di sekolah, ia senang melukis, dan mulai menyanyikan lagu berirama blues dan folk bersama teman-temannya. Ia hampir-hampir tidak mempunyai teman di Sekolah Menengah Atas Thomas Jefferson. Lantaran kegemarannya nyanyi rock, Joplin pernah berkata, “Aku dulunya anak yang canggung. Aku senang membaca dan melukis. Aku tidak membenci orang berkulit hitam. Juga sangat benti perang.” Meski demikian, dia tidak malu saat tubuhnya ‘melar’ jadi bongsor besar banget. Dengan kulit yang sensitif berwarna gak jelas, dia tetap santai bahkan, ngeyelan. Teman-teman di SMA sering mempermainkannya dan memanggilnya dengan kata-kata yang tidak sopan.
Joplin lulus sekolah menengah atas pada tahun 1960, dan sempat kuliah musim panas di Lamar State College of Technology di Beausor Texas. Sebelum melanjutkan ke Universitas Texas di Austin, tidak tamat, lantaran banyak kegiatan nyanyi dan menjadi aktivis jalanan. Pada tahun 1962, namanya makin disorot rekan-rekannya saat dimuat di surat kabar kampus yang kampus memuat cerita tentang Janis Joplin. Aktivis ngeyelan dengan judul She Dares To Be Different
Awal karier
Sebagai seorang pemberontak, idolanya adalah penyanyi blues wanita dan puisi yang ditulis oleh sastrawan era Beat Generation. Bulan Desember 1962, ketika berada di rumah seorang temannya, Janis Joplin merekam lagu pertama, “What Good Can Drinkin’ Do” di sebuah pita kaset. Ia pindah dari Texas pada tahun 1963, dan tinggal di North Beach sebelum pindah ke Haight-Ashbury. Pada tahun 1964, Joplin dan gitaris Jorma Kaukonen (nantinya menjadi anggota Jefferson Airplane) merekam beberapa lagu blues standar.
Keduanya ditemani Margareta Kaukonen yang memakai mesin ketik sebagai perkusi. Sesi rekaman tersebut menghasilkan 6 buah lagu: “Typewriter Talk,” “Trouble In Mind,” “Kansas City Blues,” “Hesitation Blues,” “Nobody Knows You When You’re Down And Out,” “Daddy, Daddy, Daddy”, dan “Long Black Train Blues”. Keenam lagu tersebut nantinya dirilis sebagai album bootleg, The Typewriter Tape. Meski karirnya melesat sebagai aktivis penentang perang, tetapi dia tetap nyantai berkomunikasi dengan para jurnalis di seluruh Amerika dan negara lain. Itulah sebabnya, setiap perayaan kelahirannya banyak dirayakan para aktivis perempuan penentang aksi perang di seluruh dunia


No Comment