Loro Blonjo “Dewi Sri” Tersapu Modernitas Perubahan Jaman


Patung Loro Blonjo sang Dewi Sri Tersapu Jaman

Modernitas tak hanya meporandakan struktur ekonomi dunia ketiga tetapi juga menyapu bersih budaya dan peradabapan bangsa. Nilai sakralitas simbol agamawi yang menjadi panutan moralitas agamawi, tak luput diterjang modernisasi. Sebagai contoh misalnya patung Loro Blonyo.

“Loro Blonyo berbentuk sepasang penganten, dulu menjadi simbul keharmonisan perkawinan di letakkan di dalam kamar. Sekarang tak lagi eperti itu. Patung spasang pengantin menjadi gantungan kunci,” papar Slamet Subaintoro dalam seminar ‘Loro Blonyo, Kearifan Lokal dan Revitalisasi Budaya Jawa dalam Multiperspektif,’ Sabtu di LPM UNS, tahun lalu.

Menurut Slamet, hilangnya makna simbolisasi kultural disebabkan karena derasnya gempuran peradaban modern. Kalau pada masa lalu, katanya, patung Loro Blonyo dibuat menggunakan bahan dari batang kayu berbagai jenis, sekarang telah dimodifikasi dari plastik.

“Padahal yang namanya patung Loro Blonyo itu diukir dan ditatah menggunakan bahan dari pohon kayu. Sekarang diganti dari platik. Ini’kan perubahan jaman, akibat modernitas,” ujarnya

Bisa jadi perubahan wujud Loro Blonyo dari bentuk aslinya lebih disebabkan oleh faktor ekonomi sebagai pemicunya. Budaya pragmatisme, ujar dia, jelas menjadi orientasi yang akan terus mengalahkan nilai-nilai kultur Jawa.

“Apakah nantinya akan lenyap patung Loro Blonyo dalam waktu singkat? Tergantung pada pelaku dan peranjin seni patung itu sendiri,” katanya.

Di temui ditempat sama, pematung Loro Blonyo, Sujiman, mengakui orientasi membuat patung berbeda dengan bentuk aslinya lantaran mencari keuntungan besar.

“Kalau terus-terusan mempertahankan buat patung berukuran besar, sekarang tidak bayak diminati. Apa boleh buat, terpaksa saya kecilkan. Biar keuntungannya besar,” katanya. Saat ini, ujar Sujiman menambahkan, anggota kelompok perajin di Bantul sebayak 600 orang dengan omzet 7 miliar per tahun.

“Rata-rata Rp 950.000 per bulan. Itu setelah memodifikasi patung Loro Blonyo dan kerajinan tangan,”  Sembari menambahkan, di era modernitas saat ini, budaya memajang patung Loro Blonyo ketika mengadakan hajatan, mantenan – pernikahan di desa-desa Jawa, tak lagi terlihat patung sacral masalalu itu. “Modernitas memang kejahatan luar biasa, melenyapkan tradisi lawasan,” ujar direktur eksekutif IMSS, Eddy J Soe, pengamat media dan kebudayaan sedih. Apa boleh buat. Riwayatlah masa keemasan tahun lalu telah dilenyapkan perubahan jaman

Previous ­Walk for Peace Para Biksu di AS, Menuntut Perdamaian Seluruh Negri
Next Rocker Lawas Pengawal "Generasi Bunga" Janis Japlin

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *