Jangan Menyulut Sumbu Pendek Aktivis Solo Ntar bisa Mengamuk


Demonstrasi besar-besaran yang dilakukan gabungan rakyat, aktivis dan aktivis mahasiswa Mei 1998 di Jakarta

Beberapa tahun lalu, sewaktu melakukan penulusuran mendalam soal wartawan korban kekerasan di Mindanao Selatan, secara kebetulan bertemu dengan warga masyarakat mengaku lahir dan dibesarkan di Kota Bengawan, tetapi telah beralih menjadi warganegara negara tetangga Philipina, cukup mengesankan.

Setelah kongkow-kongkow menggunakan bahasa Jawa, saat diminta menilai perkembangan kota kelahiran sang maestro keroncong Gesang, menurutnya, yang membedakan Solo dengan daerah lain, hanya berbeda dalam penyikapan huruf ‘U’ dan ‘A’ dalam kosakata umuk dan amuk. Bila huruf ‘U’ diletakkan pada pengertian Universal, umuk dengam sendirinya melebur ke dalam persoalan situasional sama di seluruh dunia. Sedangkan huruf ‘A’ bila ditempatkan sebagai bentuk preposisi Abnormalitias, bisa jadi kata amuk massa seketika hanya terjadi Solo, tidak di daerah lain di negara manapun.

Kerusuhan masal memancing aparat keamanan negara dengan massa pada Mei 1998 di Jakarta

Meski terdengar nyaris sama dua kosakata umuk dan amuk bila diucapkan menggunakan dialek Mindanao, menurutnya, keduanya sulit dilacak dan dicari asal budaya darimanakah sebenarnya leksikon umuk yang kemudian berubah menjadi amuk. Tak dapat dipungkiri budaya umuk – lebih cenderung menggarah ke perilaku ponggah, congkak dan menyombongkan diri– saat ini hampir dapat dikatakan nyaris menghinggapi seluruh perilaku warga masyarakat Solo, sebenarnya bukan budaya adiluhung yang menjunjung tinggi nilai andap-asor sebagaiwong alusan trah Solo.

Akhir-akhir ini di Solo, budaya umuk berusaha melenyapkan tepo-seliro. Apalagi bila pemicu umuk disebabkan karena derajad dan martabad sebagai anggota masyarakat Solo, meminjam istilah Prof Soetandjo, terjejas –diremehkan dan tercampak oleh perilaku seseorang. Bisa jadi perubahan perilaku umuk menjadi amuk tak tercegah. Untungnya perubahan budaya perilaku umuk menjadi amuk massa tak terjadi, sebagai contoh tahun lalu, saat PLN akan memadamkan lampu penerangan jalan, bila tunggakan tidak dibayar.

Padahal kemungkinan terjadinya amuk massa, bisa dikatakan berada pada titik kritis dan sangat mengkawatirkan. Apalagi menyangkut persoalan sakralitas jalan yang menggunakan nama putra terbaik Solo, Slamet Riyadi dipadamkan. Pengelola PLN, ketika itu Presiden Joko Widodo masih menjabat sebagai Walikota Solo, dianggap ngilani dhodo pemangku kepentingan, nota bene wong Solo asli yang sedang naik daun. Persoalan lain kemudian dirembetkan ke wilayah etnisitas kedaerahan.

Pasukan Huru-Hara (PHH) ketika berhadapan dengan massa rakyat yang berbaur dengan mahasiswa di Jakarta pada peristiwa Mei 1998

Penguasa PLN yang nota bene bukan asli Solo, dengan jumawa menyatakan akan tetap memadamkan listrik penerangan jalan umum bila tunggakan Pemkot (Pemerintah Kota) Solo tidak segera membayar dalam batas waktu sangat mepet, meski menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, waktu itu. Benar saja, listrik di jalan Slamet Riyadi dipadamkan. Kabar angin berhembus warga masyarakat yang merasa dirugikan, berencana akan membakar kantor PLN.

Sebagaimana biasa, media massa pun ikut ambil bagian meninggikan tensi kejengkelan Pemkot dan warga masyarakat yang merasa kenyamannya terganggu. Untung saja, wakil wali kota Solo trenginas meredam amuk masa anarkis yang ingin ngobong kantor perusahaan negara waktu itu. Bisa dibayangkan betapa besar dampak kerugian dari rentetan amuk masa, bila hal itu benar terjadi.

Dalam kasus pemadaman listrik itulah, sebenarnya umuk Solo tidak selalu berubah menjadi amuk masa. Meski tidak terjadi ekses perubahan perilaku dari umuk jadi amuk masa, toh nuansa umuk tetap kental mewarnai cara membayar tunggakan listrik. Pemkot membawa uang tunai milyaran pada petugas penagih tunggakan pembayaran listrik penerangan lampu jalan raya yang disaksikan ratusan masa. Warga masyarakat yang jengkel pun ikut menghakimi saat serah terima uang pada direktur PLN dengan cemoohan tidak mengenakkan kuping. Umuk gaya khas wong Solo.

Pembakaran kendaraan militer dianggap sebagai pelampiasan kemarahan warga masyarakat yang tersulut emosi

Peristiwa urungnya perubahan perilaku umuk menjadi amuk masa dalam kasus ini penting untuk dicatat dalam perjalanan sejarah siklus 15 tahunan amuk massa obong-obongan. Menurut catatan sejarawan Sudarmono (alm), siklus bakar-bakaran bakal kembali terulang secara periodik dalam siklus limolasan tahun. Meski klise, sebagai seorang resi pencatat sejarah, kekawatiran Sudarmono pantas kita renungkan dan waspadai. Siapa tahu, budaya umuk dapat sewaktu-waktu berubah menjadi amuk masa yang tidak produktif dan sangat merugikan kita semua.

Bila kita cermati secara sekasama, perilaku umuk masa komunal di Solo saat ini, boleh jadi telah bermetamorfosis ke dalam bentuk pelbagai carnival jalanan. Barangkali, masyarakat tidak akan pernah menyadari bahwa pamer, apapun bentuknya, merupakan salah satu elemen dasar umuk. Meminjam istilah Betawi dalam jargon bahasa gaul, “Gue punya dan gue juga bisa” sebenarnya merupakan gaya penyombongan diri berlebihan. Celetukan anak muda peserta carnival yang memamerkan, “Costum batik gue seharga 3.5 juta” menjadi salah satu cerminan budaya umuk. Celakanya budaya umuk generasi muda itu digelar, saat ribuan warga miskin lain ngantri beras dan makan nasi aking. Sungguh satu pemandangan yang kontras dan sangat ironis.

Bukan hanya para aktivis dari Solo, Jogya, Semarang dan Jakarta yang bersatupadu menumbangkan diktator Orde Baru, Mei 1998

Alasan pelebelan Solo sebagai kota budaya tidak diharus disertai pagelaran dan seremonial jalan. Solo bukan Rio de Jenario yang mengetengahkan ajang pamer tahunan, dalam kemasan kurang lebih, pamer sensualitas tubuh dan pakaian minim. Meski ajang pamer batik, dijadikan daya tarik sebagai branding agar wisatawan mengalir deras ke kota Bengawan, tampaknya perlu dikaji ulang agar umuk massa dapat terbendung.

Toh selama ini tak banyak “wong Londo” ngendon di kota kelahiran sang maestro keroncong almarhum Gesang berleha-leha ngabisin dollar. Justru yang semakin nyaring terdengar suara umuk anak-anak muda pamer. Ajang umuk yang diembel-embeli pelebelan dhodolan citra Solo sebagai kota budaya, disalah tafsirkan sebagai ajang pamer sugih-sugihan. Kalau sudah seperti itu, dikawatirkan jurang kesenjangan kaya-miskin semakin menganga lebar. Bisa jadi umuk masa bisa memantik amuk masa, kalau tidak diwaspadai dari sekarang. Mudah-mudahan tidak terjadi.

Previous Jangan Biarkan Hatimu Tersakiti Istri atau suami saat Pemilu Nanti
Next Mengenang Pramoedya Ananta Tour, "Siapa Kau Sebenarnya?"

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *