Menghidupi Keluarga Dengan Berburu ‘Kroto’ Buat Pakan Burung


Kroto telor semut sebagai pakan burung menjadi lahan kerja nonformal

Andai saja adagium yang banyak dikenal warga masyarakat untuk mencapai impian komplit dalam menjalani hidup, bila tidak memiliki keinginan gegayuhan untuk memiliki harta, tahta, wanita, dan kukilo dengan kesadaran bijaksana. Gegayuhan itulah yang tidak dimiliki Heri Purwadi, 56 tahun, asal desa Baki, Sukohardjo ketika ditemui dalam satu perjumpaan tak disengaja ketika ia sedang menjalani profesinya sebagai pemburu. Kegiatan meraih keinginan untuk sekedar penyambung hidup itulah, yang dipunyainya 15 tahun lalu hingga kini. Bukan sekedar berburu sembarangan, Heri Purwadi, justru memburu kroto telur semut ngangrang.

Tak terbayangkan sebelumnya memang, bagi Heri Purwadi, dirinya akan menjalani profesi sebagai pemburu telor semut. Profesi demikian terbilang sangat langka dan berbeda dengan pemburu babi hutan yang bermodalkan senapan. Jangankan memiliki senapan api, melihatnya pun tak pernah, apalagi buat berburu celeng. Ia memasrahkan hidupnya sehar-hari bersama ketiga anaknya yang kini selesai sekolah bermodalkan bambu panjang yang ujungnya di tempeli jaring.

Tak ada jalan lain untuk menopang kehidupan keluarganya,ia menjadi pemburu telor semut ngangrang

Pemburu semut atau dikenal dengan sebutan Rumut, merupakan profesi yang cukup lumayan untuk menghidupi keluarganya, bukan hanya sekedar hobi seperti berburu babi di hutan yang hasilnya langsung dinikmati, berburu semut hasilnya tidak langsung dinikmati, mencari telur semut di pepohonan kemudian hasilnya di jual, dan uangnya baru dinikmati. Meski acapkali hasil buruannya tak bisa diharapkan, toh dirinya mengaku tidak menjadi masalah lantaran dirinya menjadi tulangpunggung keluarga. “Mau tidak mau harus saya jalani,” katanya

Cara berburunya pun relative mudah, cukup melihat daun yang menggulung maka disitulah terdapat sarang semut, “ Gampang, biasanya daun yang agak tua kalau sudah mengeluntung (mengulung-red) dan menangkup seperti bola, itulah sarang semut. Semakin besar gulungan daun, semakin banyak semut yang tinggal di situ dan bertelur,” ungkapnya.

Sebelum menjadi seorang Rumut, pekerjaan Heri tak tentu, bagi lelaki dengan 3 orang anak ini apapun untuk menyambung hidup keluarganya, asalkan halal dia akan jalani. Selepas keluar dari bengkel, Heri bekerja menjadi kuli bangunan, di tahun 1998 terjadi krisis moneter di Indonesia, keadaan Solo menjadi tidak karuan, sedikit orang yang ingin membangun rumah, “ Tadinya sih saya bekerja di bengkel. Setelah itu beralih menjadi tukang bangunan di daerah Solo Baru. Terus ada krisis dan obong-obongan di Solo itu, seolah semua kegiatan terhenti. Saya kehilangan pekerjaan. Padahal saya dan keluarga harus makan. Rasanya pusing kalau memikirkannya kembali” Ungkapnya seraya menggelengkan kepala.

Besar-kecil hasil tangkapan memburu telor semut, menjadi tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga pic Ist

Seolah kebetulan tatkala Heri yang masih menganggur diajak oleh temannya untuk mencari semut, seraya binggung dan tidak tahu untuk apa semut-semut ini di cari? Rasa binggung menyelimuti pikirannya, meski demikian dia hanya menjalani saja, berjalan-jalan mengitari kampungnya untuk mencari sarang semut rangrang  (semut besar berwarna merah) yang biasanya berada di daun pohon nangka atau mangga. ” Dalam hati saya bertanya, untuk apa semut diburu, emangnya enak dimakan. Kata teman saya, enak, tapi kalau sudah jadi duit, uangnya buat beli nasi.” Saya melonggo

Awal kali pertama mengambil sarang semut sangat menyulitkan bagi Heri, pasalnya semut yang berada di daun menyerang dirinya hingga badan bentol-bentol digigit oleh semut rangrang.  ”Awalnya seluruh tubuh digigit  bentol-bentol semua. Saya hampir putus asa. Tapi kalau tidak menjalani, bagaimana memberi makan istri dan tiga anak saya yang masih kecil,” menceritakan kembali pengalamannya saat berburu semut.

Cirinya bila melihat daun mengelinting tandanya sarang semut ngangrang bersarang

Namun sebagai kepala rumah tangga dia harus menghidupi keluarganya, menafkahi anak-anaknya yang masih kecil-kecil, segenap pikiran dan tenaga pun dikerahkan untuk melalui kendala itu hingga pundi-pundi telur semut mulai terkumpul sedikit demi sedikit. Hasilnya lumayan, kala itu sehari saja, bapak 3 anak ini dapat menghasilkan telur 1-2 kilo gram, harga per kilogram kroto mencapai harga  55.000 per kilo, jelas sebuah angka yang lumayan untuk bisa menghidupi keluarganya sampai satu minggu.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tanpa terasa Heri sudah tujuh tahun menjalani profesi tersebut, banyak pula kawannya yang mengikuti dia mencari kroto (telur semut), persaingan mencari kroto pun semakin banyak, dan harga yang dahulu per kilo 45.000 kini meningkat menjadi 75.000 per kilonya.

Namun Heri merasa sulit untuk mendapatkan kroto, bukan saja karena semakin banyak yang berprofesi sebagai Rumut, pepohonan yang menjadi sarang semut pun semakin berkurang, kini dalam satu harinya heri hanya mendapatkan setengah kilo telur semut, itupun heri mencarinya dengan susah payah. ”Sekarang cari setengah kilo saja, setengah mati susahnya. Apalagi sekarang sudah tidak banyak lagi tanaman yang disukai semut ngangrang seperti pohon mangga atau nangka. Banyak ditebangi,” ungkapnya sambil menghela nafas

Areal berburu pun semakin hari semakin menjauh, pohon nangka dan mangga semakin sedikit, banyak di tebangi, namun dengan ikhlas berkeliling Solo, mengayuh sepeda yang dibekali bambu untuk mengambil sarang telur, perjalanan dari Dukuh Waru, Baki hingga ke tengah kota Solo, jaraknya kurang lebih 7-8 Km, setiap harinya aktivitas tersebut di lalui olehnya. Rasa letih, capek, dilaluinya tanpa merasa beban, dengan enjoy berburu semut pun dilakukan hingga kini (desanto/eddy je soe)

Previous Milena Kunis Meski Pose Seronok Ogah Diajak Kencan
Next Antara Fakta & Ilusi Kedatangan UFO ke AS Bikin Heboh Dunia

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *