Tak kita sadari bahwa, ternyata sangat jarang di negri ini, paparan naskah susastra yang secara khusus membahas kritik: cerita pendek. Setidaknya, tentu ulasan yang menggambarkan mencuatnya penekun, seorang cerpenis, mempublikasikan karyanya di media sosial – terutama surat kabar- dan majalah yang secara khusus memuat karya cerpen. Entah apa penyebabnya para cerpenis takmau mempublikasikannya di media massa seperti surat kabar, padahal kala itu, masih banyak koran yang memberikan kesempatan kepada para cerpenis menerima karya² mereka dan diterbitkan, setiap seminggu, sekali tercetak dan tersebarkan pada pembaca. Paling kurang ada harian Kompas, Sinar Harapan, Suara Pembaharuan, Metro dan juga Horizon. Entah lantaran betapa ketatnya persyaratan agar karya seseorang dapat ‘nonggol’di media cetak, surat kabar dan majalah, ataukah persoalan lain penyebabnya nama² penulis cerpen tak jua terpampang di surat kabar dimaksud
Bila dimasa lalu masih memungkin mengirim cerpen, dan dapat tayang di surat kabar, tentu dengan reward honorarium memadahi, bila terbit, jelas menggembirakan. Namun ketika zaman telah berganti dengan kemajuan tenokogi maju, hingga melindas perkembangan dunia surat kabar cetak, dan mungkin elektronik yang dahulu ditunggu-tunggu kedatangannya untuk membaca cerpen² mereka, akhirnya juga akan tumbang juga. Lantas bagaimana kelak karya² para cerpenis n̈antinya. Entahlah
Bila dulu ada sastrawan sekaligus kŕitikus sastra, Korie Layun Rampan, membedah karya cepen yang dinilainya baik, era 2009-an tentu nanti tak akan ada karya kritukus lain yang membabat secara kritis karya² cepernis seperti yang dilakukan Korie. Setidaknya 36 karya para cerpenis yang dibedah secara tajam karya² mereka dan kemudian diterbitkan menjadi buku. Sungguh pantas diacungi jempol atas sumbangannya melakukan apresiasi karya² mereka


No Comment