Entah sejak kapan persisnya, jamtangan di pergelangan kini tak lagi njadi trend kebiasaan seperti di masa lalu. Terutama pada waktu acara pemilihan umum lima tahunan, kala itu. Coba perhatikan secara seksama, bila Anda berada di satu tempat, pas kampanye atau saat Anda berada di keramaian mall, stasiun kereta atau terminal bus dan bandara, lihatlah pergelangan tangan: mereka tak memakai jamtangan. Berbeda sewaktu jadual agenda kampanye partai politik 25 tahun lalu, misalnya, para juru kampanye, yang mewakili parpol, selain pakaiannya perlente, dan tangannya tergantung jamtangan mewah, sambil ngacung agar dilihat peserta

Padahal pada tahun 1970-an pemakai jamtangan lebih banyak dipakai, dibandingkan dengan era modern, seperti saat ini. Entah lantaran kemajuan jaman, atau lebih gemar menggunakan patokan waktu memakai hand-phone. Lihat saja pemakai jamtangan tak banyak digemari orang lagi. Paling tidak, bila dibandingkan trend pemakai jamtangan masalalu dan sekarang. Meski belum ada penelitian yang dapat membuktikan, prosentase pemakai jamtangan di masalalu lebih besar dibanding pemakai zaman modern. Adagium lawas, agar kita berhati-hati bila naik kendaraan umum, agar jamtangannya tidak dicopet, pantas diingat-ingat. Jangan sampai, bukan dompet di saktu yang diembat, tapi jamtangannya dipreteli pencopet. “Sakiki, ndak ada yang makai jamtangan. Dulu kegemaran para pencoleng, yach nyopet jamtangan, selain dompet kaum bapak-bapak,” ujar salah satu mantan kondektur bus di terminal Tirtonadi, Solo minggu lalu

Tidaklah berlebihan bila kurun 70-90-an pemakai jam tangan justru lebih banyak meski bukan merk terkenal dikenal warga masyarakat klas bawah. Tanyakan saja pada pengemar jamtangan, mereka hafal merk pabrik dan nonpabrikan yang terkenal seperti merk Titus, Seiko, Casio maupun citizen, yang masih menggunakan batrey agar tetap hidup ketika dipakai di lengan bapak-bapak ganjhen. Tentu adapula bahan terbuat dari kulit atau stainless steel, tentu buat pamer pada orang-orang yang melihatnya. Harap dicatat, biasanya pemakai jamtangan terbagi ke dalam strata kelas-kelasan dalam sosio-antropologi kemasyarakatan.

Lihat saja, pengguna jamtangan dengan strata sangat berkecukupan, tentu tak akan memakai jamtangan klas ecek-ecek, yang dapat dipamerkan ketika berada di depan panggung waktu kampanye partai politik pengusungnya. Gaya hidup harian sporty, tak mungkin dipakai agar warga kampung-kampung yang akan dijadikan target sebagai pemilih suaranya, tentu jamtangan yang dipakainya bermerk Rolex dan Panerai. Sembari pamer merk termoncer jamtangan dipergelangan tangannya tentu agar mereka terpilih menjadi wakil rakyat di gedung parlemen. Setidaknya, celetukan, “itu bapak yang kemarin kampanye makainya jam mahal. Jadi pilihlah orang dan partainya, nanti yach,” begitulah suara ngablak berpameran saat kampanye.
Tidak hanay kaum pria yang berani ngocol memamerkan merk jamtangan yang dipakainya saat berkampanye di lapangan terbuka. Emak-emak Abg (anak baru gede) atau Abb (anak baru bongsor) pun perempuan setengah umur pun tetap nekat pamer jamtangan yang dipakainya. Meski memakai kaos bergambar parpol tak terkenal, yang penting, bisa memakai jamtangan kesukaan anakmuda seperti Eiger, Alexandre Christie dan Matoa, biar dibilang diri dan partainya ngikuti perkembangan jaman. “Nanti kalian bisa halan-halan atau lari pagi muterin stadion Manahan, sambil maem sego kucing,” katanya sesumbar. “Ngasih sego kucing saja pamer-pamer. Kecuali kalau ngasih pada tim pemenang pemilu G-Shock yang tahan banting. Itu bakal meraup suara.”

Tentu saja, orang yang menjadi jurkam (juru kampanye) saat ngumpulin massa agar memilih diri dan partainya, jelas takakan membagi-bagikan merk mewah alias high-end, yang menjadi simol kemewahan dan presisi pada rakyat miskin. Tapi memang kebiasaan para jurkam untuk pamer setiap lima-tahunan pamer. Anggap saja mereka dapat duit juga dari partai, dimodali entah konglomerat atau patungan antaranggota partai. Namun yang jelas, para pemburu jamtangan gratisan dari pejabat atau calon anggota parlemen di dewan perwakilan rakyat daerah, pastilah berichtiar untuk mencari dukungan dengan ngedobos, ‘nantinya akan sejahtera. Pilihlah kami. Jangan memilih pejabat di pemerintahan yang gemar mbadok duit rakyat dikorup.” Perkara nanti setelah mereka terpilih menduduki jabatan di pemerintahan atawa di lembaga wakil rakyat, biar gustiallah yang menangani kebejatan atau kebaikan di dunia nonfana ntar. Jadi pikirkanlah, sesegera mungkin merancang cara agar lembaga rasuah Komisi Pemberantasan (acap) Korupsi tak akan menangkapmu



No Comment