Entah siapa yang mengawali menggambar di tembok-tembok toko di Jl Gatot Subroto, di sebelah selatan perempatan Pasar PON, Ngarsopuro, kota Solo, hingga menjadi daya takjub para pelancong yang kebetulan bertandang ke kota budaya. Tentu tak banyak yang mengetahui, siapa penggagas utamanya. Apakah para seniman, yang kurangan kerjaan ataukah memang memperoleh order pemerintah agar tembok dan atau pintu2 -yang biàsanya terbuat dari besi bakoh di toko itu- diorat-oret dengan cat agar sulit terhapus, tak banyak yang tahu penggasnya
Meski dikerjakan sekumpulan seniman yang tergabung dalam paguyuban, secara formal, atau bukan dikenal khalayak budayawan, maupun pelukis mural tembok, toh nyatanya karya tangan terampil itu jelas memperindah bangunan toko di Solo. Perkara siapa penggagas itu seorang seniman lukis beneran atau bukan lulusan universitas maupun institute negeri, toh nyatanya terlihat mengasyikkan dipandang para pendatang. Meski mereka ngelihatnya hanya sekelebat gambar, namun tetap indah dinikmati karyanya

Apalagi selain terdapat wajah yang banyak dikenal, dari layar televisi, misalnya mantan Mentri Pekerjaan Umum (PU) Basuki, juga ada gambar mantan presiden Djoko Widodo, maupun tokoh seniman seperti Sapardi Djokodamono, pelantun Stasiun Balapan, Didi Kempot. Semua gambar mempesona itulah yang bakal kalian lihat di emperan tembok-pintu besi toko di seputar jalan Gajah Mada, kota bengawan. Jangan kaget bila kalian akan melihat wajah Wiji Tukul, yang entah kini berada dimana, namun toh wajahnya tetap ditampilkan sebagai idiom penggerak keberanian berteriak, hanya satu kata: Lawan!
Bukan hanya para seleritas papan atas dan pejabat yang sedang moncer binggaran ingatan masalalu dan kini yang ditorehka dengan cat tembok para seniman dan budayawan menggiring mata para pelancong melihat goresan tangan dan tube-catpilox, lantas berdecak kagum. Paling tidak mereka diingatkan bahwa pofret hasil karya seni yang menemplek di tembok maupun pintu itu menandakan keguyuban karya seni hasil karya tangan-tangan terampil pelukis seniman mural tembok, memperindah ruang kosong ditengah kegelisahan warga menanti MBG alias Maem Blingsatan Gabah

Meski tak kebagian Maem Bergizi Gak Gratis pun kalian bisa ndeprok di seputar perempatan, beli makanan ndeso yang lagi ngehit, tiwul dan gendar pecel. Jangan kawatir harganya mencekik leher, keluarkan ‘benggol’ –istilah lawasan duit besi keluaran kerajaan Blanda— tentu perutmu bisa kenyang. Ndak usah nyomak-nyamuk pamer bawa roti-tumpuk hamburger buatan Amrika segala. Gantilah dengan maem burger Jowo: kompya-pia-pia beli ndek sargede.
Buatlah hidupmu sesederhana mungkin, sembari liak-liak tembok yang diorat-oret para seniman dengan gaya khasnya sekarep-karepnya sendiri. Tentu sangat bagus. Perkara ada gambar, bekas presiden, mentri dan juga ada gambar yang dihapus, itu perkara lain. Entah kenapa gambar yang ditorehkan para seniman menggunakan cat-cat berwarna-warni itu, ada orang yang iseng menginginkan dilenyapkan. Entahlah. Sekali lagi itu bukan urusanmu. “Lha njuk urusane sopho jhal?” Mbuh



No Comment