Siapa sangka penganut faham yang satu ini hanya ada di dua kota Solo dan Jogya. Meski saat ini tak banyak pengikut toh pengikut setianya setiap hari rela nyanggong ngantri berderet. Faham yang satu ini bukan aliran sembarangan tapi pengikut mahzab luwe dini hari.
Bagaimana mungkin menghindar tidak dituduh sebagai pengikut paham keluwen saben pagi kalau setiap pukul 05.00 dapat dipastikan njranthal nguber sang ‘provokator’. Bukan sembarang provokator kalau tidak bisa menggugah niat pembeli bangun pagi bila hanya membawa jajanan biasa-biasa saja.
“Sejak dulu gemar nunggu jajanan tenongan di rumah sebelum sekolah di Warmir. Sampai sekarang di Jogya juga nguber penjual tenongan. Habisnya komplit. Apa saja yang dijual ada. Bagaimana tidak senang nyari grontol diwadahi takir terus rodogulung, ketemunya di tenongan. Nyari di super market kalau ada, tak tukokke,” tutur Iis Samingan, dihubungi di Jogya, Sabtu (11/10)

Tradisi jajan makanan di dalam tenongan –wadah bulat terbuat dari anyaman bambu– bagi sebagian besar wong Solo merupakan tradisi lama yang ditunggu warga. Selain dijual mubeng dari kampung ke kampung, emak-emak –minjam istilah baru– penjualnya tak perlu teriak-teriak menawarkan jajanan yang dibawanya.
“Ndak ada yang teriak. Simbok-simbok itu sudah paham tempat ndeprok yang menjadi perlintasan para pegawai. Setelah ngiderin sekenanya,” ujar dia. “Kalau di Solo dulu yang sering manggrok di depan gedung gajah, PMS (Persatuan Masyarakat Solo) atau di Konderan Kobong. Barangkali sekarang sudah tidak ada yang jualan tenongan.”
Burger Jawa Vs Tenongan
Pernah makan Kompya? Makanan khas roti Solo keras kepala, mirip dengan makanan cepat saji di restorant Hamburger, yang tak mungkin ditemui di kota lain. Tak seorang pun mengetahui secara persis kapan roti terbuat dari gandum yang dioven hingga mengeras, disukai orang Solo sebagai penganjal perut. Tidak juga warga yang tinggal di perkampungan Balong, Kelurahan Sudiroprajan, yang dihuni warga keturunan Thiongwa, mereka hanya bisa menggelengkan kepala, “Tidak tahu.”
Meski demikian, ada juga seorang warga, Nyio Hien, 73 tahun, yang memperkirakan “serbuan” Kompya ke Solo memenuhi jajanan bakul tenongan pada awal 1966. Seingat saya, ujar Nyio Hien, Kompya bisa dibeli dibakul tenongan setelah banjir bandang.

“Saya sempat beli di depan gedung Gajah [maksudnya PMS – Perkumpulan Masyarakat Solo – Red], pagi-pagi sudah ada yang jual Kompya. Maklum saja beras tidak ada. Yang ada Bulgur –beras jatah beras-campur dedag dari Amerika- jadi jaman serba sulit,” kata dia.
Entah lantaran bisa menganjal perut hingga berhari-hari, atau lantaran gurih dan tidak ada pilihan lain, kompya banyak digemari. Menurut Nyio Hien, namanya makanan pada waktu itu, yang paling penting ditemukan bisa menahan lapar lama.
“Makane orang ndak mau repot. Cari saja Kompya. Lauknya bisa Phia di masukkan ke dalem Kompya, terus dimakan. Sehari, dua hari dijamin tidak lapar. Yang namane Kompya dulu itu besar, tidak seperti sekarang,” ujar dia mengenang.
Selain itu, ujar dia menambahkan, harga Kompya dengan Phia Rp.45, beras tidak ada yang jual sejak banjir bandang setelah geger Gestok waktu itu. Menurut Nyio Hien, sebenarnya nama panganan asli dalam bahasa nginggris cukup keren Guang Ping. Sewaktu ditanya tamu yang menginap di Hotel Trio, cara membikinya, dia nyerocos pakai bahasa gado-gado, mandarin-Hikian dan Ingris. Dhiar phora
In honor of the general, the buns were named “Guang Ping” (or “Kompia” in the Foochow dialect). Many Foochows later came to settle in the Sibu area of Sarawak, bringing along some of their favorite foods like these kompia buns. “Hayo taruhan, kemungkinan besar bos pemilik makanan cepat saji Hamburger dulu pernah datang ke Solo Makan Kompya. Setelah meniru dan memproklamirkan di Amerika Serikat,” Ujar Nyio Hien, 73, warga Balong, terkekeh saat berbincang di Pasar Gede, Minggu (24/10) lalu.


No Comment