Bila kepala kamu terasa tidak nyaman, pening berkunang-kunang, nyeri dada, yang berakibat tekanan darah drop nyungsep turun drastis, hati-hatilah. Berkonsultasilah pada dokter di Puskesmas (pusat kesehatan masyarakat) terdekat. Setidaknya, dokter yang bertugas di Puskesmas, akan memberi resep obat penurun tekanan darah alias antihipertensi. Golongan racikan kimiawi yang dikemas dalam kapsul pabrik farmasi pada dasarnya termasuk jenis golongan Calcium Channel Blockers (CCB). Materi obat tersebut berfungsi menghambat saluran kalsium, berjenis dihidropiridin.

Fungsi obat ini agar tekanan darah tinggi alias hipertensi, turun dan juga untuk mengatasi angina (nyeri dada). Pembuluh darah di dalam tubuh, alirannya lancar, lantaran pembuluh darah tidak tersendat-sendat hingga menyebabkan nyeri pada dada lenyap. Meski tidak banyak yang mengetahui gejala nyeri dada, dan penderita terutama pasien lansia, tidak mau bertanya pada dokter yang memeriksanya, Lagian dokter juga enggan memberitahu, mengapa hal itu terjadi, –kebiasaan dokter di tempat praktik selalu seperti itu. Karena memang tidak ditanya apa penyebabnya.
Bagi para mahasiswa di fakultas kedokteran, tentu diajari menangani gejala pelemasan otot polos pembuluh darah, menyebabkan melebar (dilatasi), sehingga mengurangi beban kerja jantung dan menurunkan tekanan darah. Obat jenis ini merupakan golongan keras dan perlu resep dokter untuk membeli ke apotik dan/atau menggunakan hak memperoleh layanan sebagai pemegang kartu BPJS. Sebenarnya secara kasat mata, seseorang yang mengalami tekanan darah tinggi (hipertensi), umumnya berupa pusing, bengkak pada kaki (edema), jantung berdebar (palpitasi) dan lemas.

Captopril & Amlodipin # Sama

Meski keduanya merupakan obat penurun tekanan darah (hipertensi) cara kerja, golongan dan indikasi keduanya berbeda. Bila Captopril merupakan golongan obat ACE inhibitor yang bekerja menghambat hormon penyebab penyempitan pembuluh darah, cocok untuk penderita diabetes dan ginjal. Sedangkan Amlodipin merupakan Calcium Channel Blocker (CCB) yang melebarkan pembuluh darah dengan mencegah masuknya kalsium, sering digunakan menurunkan tensi cepat pada para lansia. Kedua jenis obat tersebut dalam waktu bersamaan dapat diresepkan bersamaan. Tinggal penggunaannya perlu diawasi.
Pada intinya, golongan Captopril (ACE Inhibitor) vs Amlodipin (Calcium Channel Blocker). Cara kerjanya Captopril menghambat hormon penyempitan pembuluh darah, Amlodipin mencegah kalsium masuk ke otot pembuluh darah agar relaks, Baik buat pasien dengan penyakit ginjal diabetes atau gagal jantung. Amlodipin baik untuk penurunan tensi yang cepat dan stabil. Captopril bisa menyebabkan batuk kering, sedang Amlodipin bisa menjadikan di kaki bengkak. Captopril efeknya lebih pendek, lebih sering diminum, sedang Amlodipin efeknya panjang, cukup 1 kali sehari.
Kesimpulan: keduanya berbeda dan dipilih berdasarkan kondisi pasien. Captopril dan Amlodipin bisa dikombinasikan jika ada indikasi medis kuat untuk kontrol tekanan darah yang lebih baik, namun harus selalu di bawah pengawasan dokter karena keduanya adalah obat resep. (Refrence souce | eddyjesoe}



No Comment