­Walk for Peace Para Biksu di AS, Menuntut Perdamaian Seluruh Negri


Walk for peace, biksu di AS menuntut perdamaian di seluruh negri

­Seribuan biksu dari berbagai daerah, di Amerika, melakukan perjalanan brekilo-kilo meter menuju pusat pemerintahan Amerika Serikat, di Washington DC, menemui parlemen dan presiden, tempo hari. Mereka, menamai perjalanan mencari kedamaian. Para biksu, monk, tersebut berharap agar parlemen maupun presiden menghentikan intervensi dan ikut campur tangan di negara lain yang mengakibatkan kesengsaraan rakyat di negara tersebut.

Perjalanan nanpanjang itu, tentu saja membuat deretan pagar manusia di sepanjang jalur yang dilalui para biksu. Bukan suatu mustahil, bila para biksu melakukan perjalanan; keseharian mereka telah biasa berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lain. Walk for peace, bagi sebagian warga AS tentu memperoleh apresiasi dan mendukung mereka.

Meski dikawal apparat kepolisian, sharif, di setiap daerah mereka sangat santun tanpa meneriakkan yel-yel tujuan utama yang ingin diraih seluruh rakyat di seluruh dunia. Kedamaian tanpa penindasan, rasa-rasanya setiap warga masyarakat dunia mendukung tujuan mereka

Tidaklah mengherankan bila antusiasme rakyat berduyun-duyun di pinggir sepanjang jalan yang dilaluinya mendukung aksi damai para biksu. Selain itu, warga masyarakat, juga tak segan-segan memberi bingkisan di tempat wadah memberian khalayak, sembari tetap berjalan. Sebagai ucapan atas sambutan di sepanjang jalan, salah satu pemimpin gerakan walk for Peace, menyatakan kegembiraan dan kekagumannya terhadap antusiasme warga AS mendukung aksi damai yang dilakukannya

Tidak hanya itu, para biarawan Budha tersebut juga di jamin komunitas penganut agama lain dengan suka-cita berdialog dengan para pemimpin lintas agama. Kita bisa membayangkan, betapa menggembirakan ‘unjuk-rasa’ para budis menyerukan seruan agar tercipta kehidupan damai di seluruh negri. Tak da motif lain, terkait dunia perpolitikan, kecuali mereka menginginkan negara adidaya jangan melakukan intervensi maupun aneksasi negri lain. Kehidupan yang akan dilakukan negara adidaya, tentu akan membuahkan kesengsaraan dan kematian, itulah yang ditakutkan.

Imbauan para pemuka agama itulah yang seharusnya didengar para pemimpin negara-negara adidaya yang sedang berkuasa untuk membatalkan keinginannya melakukan intervensi ke negri lain. Tidak mungkin terjadi pertumpahan darah dan meninggalkan bekas kesedihan dan kematian bila hal tetap dilakukan. Bukan hanya negri-negri kecil lain yang ‘dibenci’ negara adidaya, meski mereka bersekutu satu-sama negri lain untuk tetap bertahan, namun tetap saja terjadi porak-panda di negara mereka. Itulah salah satu sebabnya, para pemuka agama biksu berjalan menemui senat As dan presiden Trump untuk menghentikan pertumpahan darah di nerara lain

Previous Siapa Mau Ikut Natalan di Rusia
Next Loro Blonjo "Dewi Sri" Tersapu Modernitas Perubahan Jaman

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *