Sewaktu halan-halan ke kota dingin di Solotigo, beberapa waktu lalu selain bertemu konco lawas diajak maem saoto-klewang –entah knapa disebut demikin– kami kongkow pelbagai macam soal. Lantaran kami dulu pernah menjadi editor media kedokteran, topik obrolan pun melenceng ke hal dunia Kesehatan. Menyoal pelbagai masalah malaria & virus hingga ke persoalan vaginismus.
Persoalan penyakit dan penyebab malaria dan virus tentu semua orang mengetahui dan telah memasyarakat. Bagi kami, saat itu, lebih tertarik mengenai istilah dalam dunia kedokteran vaginismus. Maklum saja, di daerah dingin di Solotigo, tentu pantas dipersoalkan saat kongkow-kongkow. Kami yakin tentu banyak khalayak melenceng menganggap soal penyakit itu kait-mengkait dengan soal selangkangan dan miss “V”, memang benar.

Kami memperdebatkan soal penyebab vaginismus, di musim mbedidhing di kota pangsiunan Solotigo. Katanya, mayoritas pasangan yang sedang inthehoi di musim dingin, acap tidak menanggapi dengan berapi-api. Pasalnya, menurut pengalaman rekan yang bercita-cita menjadi genokolog saat di kedokteran, keinginan pasutri acap beralasan ogah diajak kelon dimusim dingin. Pasalnya, lantaran terkendala soal vaginismus. Bukan dingin mbedidhing and “mengkerut” elisitas. Padahal, normalnya, pasutri saat indehoi di musim dingin tentu berharap-harap cemas, ngehot bisa berhubungan intim.
Jangan sekali-kali kalian menyalahkan pasanganmu ketika diajak kelon di tempat tidur mengeluh kesakitan di dalam lubang kemaluannya, acap disebut Miss V itu. Siapa tahu organ vital dalam Miss V sedang melakukan pemberontakan’ lantaran otot-otot di sekitarnya menolak benda rumpul meraksek ke dalam lorong Miss V. Sebaiknya kalian tidak perlu gusar dan memarahi pasanganmu dan mengatakan tidak bisa menikmati persetubuhan dengannya.
Kondisi demikian, dalam istilah medis kedokteran dikatakan sebagai vaginismus. Suatu situasi jaringan otot di dalam Miss V melakukan blokir terhadap ‘benda’ asing yang menyusup ke dalam saluran genitalis lantaran terjadi pengencangan otot-otot. Seharusnya pasangan suami-istri, terutama suami, memahami betul gejala Vaginismus bisa jadi menjadi ketidaknikmatannya saat melakukan persetubuhan sexual.

Pertanyaan yang selalu menyergap kaum laki-laki yakni, mengapa hal itu bisa terjadi, bukankah ‘pemanasan’ forplay sebelum melakukan bersetubuh telah cukup. Sungguh sangat tidak relevan ditanyakan, entah dalam pikiran atau terucap di hadapan pasangannya, apa penyebabnya. Secara psikosexual munculnya Vaginismus lebih banyak sebenarnya terjadi lantaran sifatnya multifactorial. Celakanya gejala paling sering muncul pada sesorang bisa beragam, bisa dilihat dari tingkat keparahan masing-masing individu yang mengalaminya. Bisa saja dulu pernah mengalami trauma akibat kekerasan fisik pada dirinya sehingga berakibat syaraf penggerak otot Miss V bereaksi bila mengalami kembali.
Itulah sebabnya persetubuhan ketika akan menjalin persetubuhan penting ‘pemanasan’ alias fourplay terlebih dahulu. Itupun juga tidak akan menjamin vaginismus tiba-tiba muncul saat berhubungan sex dengan pasangannya. Trauma pelecehan sexual terutama pernah mengalami KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga) atau pernah melihat teman bercerita tentang pemerkosaan atau bahkan aborsi, menjadi daya picu mencuatnya vaginismus. Hanya saja gejala mencuatnya vaginismus tergantung tingkat keparahan masing-masing individu bersangkutan beragam.

Keparahan paling akut akan terlihat bila seseorang saat memasang tampon terasa nyeri pinggul bagian otot Miss V; bahkan ada yang merasa sulit bernafas dan kejang otot saat penetrasi sedang berhubungan sex, segeralah pergi ke dokter obgin ceritakan dengan gamblang. Bercerita blak-blakan pada dokter Obgin menjadi pilihan paling manjur untuk dilakukan terapi obat, sehingga diketahui riwayat medis, perlu dilakukan tes psikologis, untuk mengetahui duduk persoalannya seperti apa yang menjadikan hal itu terjadi. Dapatkah vaginismus dicegah, hingga saat ini belum ditemukan resep obat manjur untuk hal itu. Hanya saja, mereduksi pikiran psikologis hal-hal terkait dengan kekerasan yang pernah dialami dengan sendirinya dapat menetralkan ‘perlawanan’ otot dalam Miss V saat berhubungan intim dengan pasangan.
Metode pengobatan dengan melibatkan kedua pasangan, dimulai dari berkonsultasi dengan psikiater dan spesialis ginekologi, menjadi hal penting dilakukan sebelum terlambat. Relaksasi dan pemanasan sebelum kelon intim hingga memakai dilator Miss V bila terjadi, diperbolehkan lantaran masalah anatomis, dan tampaknya perlu dipikirkan, juga perlu segera dikonsultasikan dengan dokter. Salah satu alternatif lain yakni jangan melakukan kekerasan sexual. (No picture sorrysemari)


No Comment