Entah siapa yang memprovokasi gedung lawas Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Surakarta dibakar saat terjadi amuk massa para pengunjuk rasa, Jumat, 25 Agustus 2025, kini telah selesai dibangun kembali. Meski sebelum kejadian kala itu, para pendemo yang mengmengikuti unjuk rasa, mayoritas para aktivis mahasiswa, yang dijaga aparat kemanan negara, polisi dan tentara, toh mereka tidak mengetahui tindakan pelemparan bom-molotov dilakukan.

Menurut salah satu demonstrans yang me gikuti aksi, koordinator lapangan para demonstrans, dari beberapa aktivis perguruan tinggi, mengaku tidak tahu kejadian tersebut akan terjadi. “Kami tidak tahu dan gak mungkin melakukan pelemparan benda apapun hingga menjadikan kebakaran. Jangan tanya kami. Mana mungkin aktivis mahasiswa melakukan tindakan kriminal. Kami datang untuk menyampaikan aspirasi dan tuntutan perubahan kondisi yang bùruk saat ini pada pemeritah,” ujar korlap dari Ptn Uns dan Ums. Kala itu. “Kami terorganisir dan tak mungkin berbuat onar. Jangankan melempar benda dan molotov. Ngawur itu tuduhan seperti itu.”
Kekeliruan terbesar penuduh yang melparkan benda apapun termasuk molotov, kata aktivis mahasiswa lain yang ditemui di lapangan depan gedung DPRD, mengaku diri dan teman aktivis lain telah sepakat tidak akan berbuat anarkis yang merugikan kepentingan yang lebih besar dan kasat mata dengan pelemparan penyebab kebakaran. “Kami sepakat tidak melakukannya. Meskipun kejengkelan menghadapi situasi gaya kepemimpinan pemerintahan. Kami, menuntut agar pemerintah berlaku adil dan bijaksana memberlakukan tindakan hukum bagi pelaku tindak korupsi yang melecehkan demoķrasi. “Bukan malah melindunginya. Apalagi keempat anggota dewan yang berbuat tidak pantas. Melecehkan harkat rakyat pemilihnya. Mestinya partai orang tsb menyinvkirkannya dan memecatnya,” ujar dia bersautan di jalanan

Menurut pelbagai sumber, kegaduhan yang menjadi penyebab dibakarnya gedung sekrerariat DPRD Kota Solo, bisa jadi terkait dengan ujaran kebencian 4 sosok anggota DPR yang arogan hingga memicu kebencian warga masyarakat decara luas. Bukan hanya para aktivis mahasiswa yang jengkel terhadap ulah pamer kekayaan dengan ponggah di dalam gedung wakil rakyat di Senayan, tetapi perilaku merekapun dinilai seluruh rakyat, sebal.
Bukannya bekerja dan memperjuangkan tuntutan aspirasi masyarakat, tetapi mereka malah joget² layaknya ODGJ yang pantas dikandangin dan perlu diterapi. “Siapa yang kagak jengkel ngeliat perilaku wakil rakyat seprti itu. Ojo dumèh. Mungkin dulunya keluarga mereka kagak bisa mbadog, giliran kesempatan brsuka-ria membalas kemelaratan masalalunya. Makanya joget² di gedung dewan. Mesti gak seperti itulah.” Kata jurnalis dan aktivis senior kota Solo.

Kejengkelan terhadap pemerintahan yang tidak bersahabat terhadap para aktivis mahasiswa bukan hanya terjadi kali ini do negeri ini. Lihat dan pahamilah kegaduhan yang menjadi penyebab ketidak nyamanaan para altivis, ketika berusaha mengingatkan tupoksi para pengelola pemerintahana negara, bulan hanya di Indonesia. Di belahan negri lain, merekapun tetap setia mengingatkan pejabat asal2an dalam mengelola negara. Lihatlah di negara yang juga berusaha memperbaiki dan mengusulkan layanan pada sistem pemerintahan mereka, merekapun juga tak segan-segan turun lapangan berunjuk rasa. Jadi apa salahnya para ativis gerakan memperjuangkan aspirasinya untuk kepentingan warga masyarakat llain. “Jangan malah dituduh pembuat keonaran dan melakukan tindak kriminal. Membakar. Salah dan ngawur sekali itu, ” ujar Je Soe sewot. We have peace for freedom, class-action okay, but no distrctaction and burning buliding.



No Comment