“Milik Ngendong Lali” dalam Tradisi Lukisan Kaca di Solo


Gambaran masyarakat kota yang masih mencari pesugihan di kota Solo

Entah siapa yang dituding secara langsung dalam lukisan di atas kaca yang menggambarkan seorang pembesar –berdasi memangku perempuan- mungkin koruptor. Atau siapa tahu laki-laki memangku perempuan itu justru pegawai negri, tak terjelaskan dalam narasi pameran lukisan di atas kaca itu. Namun yang jelas, pameran lukisan Djoko Suryono tersebut menggambarkan Pakuwon Jowo. Perkara dimengerti atau tidak para pemerhati seni lukisan kaca soal makna pakuwon, toh pemeran tetap saja berlangsung hingga akhir bulan November 2025.

Biar kagak dibilang bego-bego amat istilah pakuwon dalam tradisi jawa pada intinya merupakan hitung-hitungan waktu jawa tradisional. Anehnya perhitungan waktu layaknya horoskop Jawa itu justru menghitung berdasarkan satu siklus 210-an hari tidak memiliki hitung-hitungan berdasar waktu. Jadi memang agak aneh Djoko Suryono, memilih menggunakan istilah pakuwon saat mamajang lukisan kacanya. Entah lantaran hitung-hitungan waktu tanpa memikirkan siklus mingguan, dan bukan bulanan itulah, siapa tahu pameran memajang, ‘milik nggendong lali’ yang dipamerkan mengisyaratkan, waktu mensturasi bulanan

Cermin keponggahan para pejabat terhadap kaum perempuan

Apapun yang berada dibalik filosofis Djoko Suryono atas topik pameran lukisan kaca, biarin saja kagak perlu memakai simpoa untuk mengubah sistem perhitungan waktu ketika ia nekat akan mamajang lukisan kaca yang dipamerkannya.  Bagi penikmat lukisan kaca, tentu narasi filosofis itu tak begitu dipentingkan buat dicermati maknanya, penting karya yang dipamerkannya membuat riang-gembira  Toh para penonton pameran bukan filolog pekerja di museum. Kagak perlu mencari tahu arti filosofis njawani, yang penting asyik buat ditafsirkan dirinya sendiri

Perkara hubungan ada apa kagak, dunia jagad alit dan ageng, karya yang dipamerkan Djoko Suryono, soal keseimbangan urip, masa bodoh amat.  Lihatlah dengan cermat, karya menohok lukisan kaca “Milik Gendong Lali” yang dipamerkannya. Bukan hanya itu, lebih dari 10 karya yang dipamerkan di selasar area Solo Art Market di Koridor Ngarsopuro, Kota Solo, minggu lalu.

Menurut Sunaryo Haryo Bayu, adik sang pelukis kaca, memamerkan karya seorang dosen di Institute Seni Indonesia (ISI) Solo tentu menggugah ingatan masyarakat luas tentang masalalu yang pernah dilakoninya. Lihatlah sendiri, pameran kaca berbagai genre seperti sajen mengundang tuyul, gambaran memedi-demit dan nyari pesugihan jelas menggambarkan hal menarik untuk dilihat.

Bergurulah mengejar ilmu pengetahuan bukan lewat keris

“Lukisan Milik Gendong Lali, itu’kan sekarang banyak terjadi dimanapun. Entah pelakunya pejabat pemerintah memangku wanita cantik menik-menik, hal itu lumrah dilakoni di Solo. Termasuk ngalap berkah, mencari pesugihan, menjadi pemuja lelembut, setan itu’kan budayane wong Solo jaman dulu sampai sekarang,” ujar dia, “kalau nyari gambar seperti itu saat ini kagak mungkin ditemukan. Makanya kami pamerkan sekarang.”

Teknik Khusus Ngelukis Kaca

Lebih lanjut Sunaryo Haryo Bayu menjelaskan metode yang dipakai almarhum kakaknya dalam melukis di atas kaca tak memungkinkan dilakukan orang lain. Selain harus menggunakan computer untuk mendesign kemudian baru dicetak di atas kaca. Setelah rampung mendesign baru kemudian kaca dipanaskan di atas tungku dengan ketinggian derajat hingga 700 Celcius. “Seperti cara yang dipakai pada kaca layaknya tempered glass di mobil. Jadi lebih kuat. Model mengawetkan kaca agar lukisan tetap awet tidak luntur catnya. Itu yang dilakukan di Eropa, kaca lukis dekorasi greja-greja besar dilakukan seperti itu.  Mau coba-ngecat, niru-niru ngelukis di atas kaca, duitmu piro jhal.”

Pameran lukisan kaca karya almarhum Djoko Suryono di Solo
Previous Faham Tenongan VS Burger Jawa
Next Kerja Ogah-Ogahan, Gaji Dan Tunjangan Gede, Jangan Dipilih

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *