Namanya memang akan lekat dalam benak penggemar film lawas, dalam serial Harry Potter, sebagai pemeran paling nyeleneh, tapi digemari. Ikut sih, kala itu memang. Dari film Harry Potter itulah, namanya menanjak diperhitungkan dalam dunia sineas, perfilman internasional. Meski dirinya lahir dan dibesarkan di Inggris, toh namanya yang panjang itu tetap saja pantas diacungi jempol: cemerlang.
Meski namanya, berderet-deret seperti gerbong film lawasan, Emma Charlotte Duerre Watson, saking panjangnya, nama aktris asal Inggris itu emang benar-bener nyebelin. Lahir 15 April 1990, bukan ujug-ujug jadi bintang cilik, kala itu, digemari para abg-abg Inggris tapi juga di Amreika. Meski pun dalam film-film sebelumnya seperti Blockbuster, film independen, toh bocah-bocah nggingris dan amrik, kepencut ingin seperti Emma, yang melesat sebagai bintang sebagai: pesulap membela Hary Porter.

Saking ngetopnya di dua negara itulah, Emma Watson –nama bokapnya– jadi perbincangan lantaran memperoleh penghargaan sebagai artis muda belia yang ‘menyodok’ kepiawaian pose-pose mengasikkan seperti dalam filmnya di Harry Porter itu. Young Artis Award dan tiga MTV Movie Awards pun dia sabet, lantaran dipuja-puji anak-baru bongsor, para Abg di Ingris dan Amreka.
Jadi eLoe jangan kepo, kalau Emma Watson, memperoleh bayaran tertinggi di dunia, menurut Forbes dan Vanity Fair, dan dinobatkan sebagai salah satu 100 orang paling berpengaruh di dunia oleh majalah Time pada tahun 1915. Emma Watson –biasanya dalam dunia jurnalistik negoro londo-londo, nama bapaknya si Watson-lah yang dikenalkan pad jurnalis, jadi nama Emma, tidak dikenal kecuali dibubuhi sebagai anaknya Watson, juga didaftarkan oleh Forbes sebagai penerima penghargaan Forbes 30 bawah umur 30 tahun pada tahun 2015 dan 2016.
Watson bersekolah di Dragon School dan dilatih dalam akting di cabang Oxford Stagecoach Theatre Arts. Sejak kecil, ia menjadi bintang setelah mendapatkan peran akting profesional pertamanya sebagai Hermione Granger dalam serial film Harry Potter, sebelumnya hanya berakting dalam drama sekolah.

Watson membuat terobosan besar pertamanya di luar franchise Potter dengan membintangi Ballet Shoes (2007), dan mengisi suaranya untuk The Tale of Despereaux (2008). Setelah film terakhir Harry Potter, dia mengambil peran pendukung di My Week with Marilyn (2011), sebelum berperan sebagai Sam, seorang mahasiswa genit dan berjiwa bebas di The Perks of Being a Wallflower (2012), untuk meraih kesuksesan kritis. Pengakuan lebih lanjut datang dari perannya sebagai Alexis Neiers dalam The Bling Ring (2013) karya Sofia Coppola dan putri angkat karakter utama dalam Darren Aronofsky Noah (2014).
Pada tahun yang sama, Watson mendapat penghargaan dari British Academy of Film and Television Arts, memenangkan penghargaan British Artist of the Year. Dia juga berperan sebagai Belle dalam musikal live-action fantasi romantis Beauty and the Beast (2017), dan sebagai Meg March dalam drama kedewasaan Greta Gerwig Little Women (2019).
Dari tahun 2011 hingga 2014, Watson membagi waktunya antara bekerja di film dan melanjutkan pendidikannya, lulus dari Brown University dengan gelar sarjana dalam sastra Inggris pada bulan Mei 2014. Pada tahun tersebut, ia diangkat menjadi Duta Besar Niat Baik PBB dan membantu meluncurkan kampanye PBB untuk Perempuan HeForShe, yang mengadvokasikan kesetaraan gender. Pada tahun 2018, ia membantu meluncurkan Time’s Up UK sebagai anggota pendiri. Watson ditunjuk menjadi anggota badan penasihat G7 untuk hak-hak perempuan pada tahun 2019, berkonsultasi dengan para pemimpin mengenai kebijakan luar negeri.

Karya modelling-nya mencakup kampanye untuk Burberry dan Lancôme. Ia juga meminjamkan namanya untuk lini pakaian untuk merek berkelanjutan People Tree. Dari tahun 2020 hingga 2023, ia duduk di dewan direksi Kering, sebuah grup merek mewah, dalam kapasitasnya sebagai pendukung mode berkelanjutan.
Kehidupan awal
Emma Watson dilahirkan di Paris, orangtuanya bernama Jacqueline Luesby dan Chris Watson, keduanya berprofesi sebagai pengacara. Watson tinggal di Paris sampai ia berusia lima tahun. Orangtuanya bercerai ketika usianya masih sangat muda. Setelah perceraian orangtuanya, Watson ikut serta dengan ibu dan adik laki-lakinya ke Oxfordshire, tetapi ia tetap menghabiskan waktu akhir pekannya bersama ayahnya di London. Watson mengungkapkan bahwa dia bisa berbicara sedikit bahasa Prancis, tetapi tidak sebagus saat ia berbicara bahasa Inggris.
Sejak usia enam tahun, Watson sudah bercita-cita ingin menjadi seorang aktris. Beberapa tahun kemudian, ia berlatih di sebuah sekolah les teater bernama Stagecoach Theatre Arts. Di sana, ia mengikuti kelas tari, menyanyi, dan akting. Pada usia 10 tahun, Watson telah tampil dalam berbagai pementasan drama sekolah, termasuk drama Arthur: The Young Years dan The Happy Prince.
Meskipun demikian, ia sama sekali belum pernah berakting secara profesional sebelum produksi Harry Potter dimulai. “Saya tidak tahu seperti apa skala dari film seri. Jika saya mengalaminya, saya pasti akan benar-benar kewalahan,” ujar Watson dalam salah satu wawancaranya dengan majalah Parade. Pada tanggal 25 Mei 2014, ia lulus dari Universitas Brown dengan gelar Bachelor of Arts dalam sastra Inggris. Pada tahun 2023, ia memulai Magister dalam studi penulisan kreatif di Universitas Oxford, di mana ia dimatrikulasi di Lady Margaret Hall Ia menyelesaikan persyaratan untuk Magisternya dan melanjutkan ke studi DPhil pada tahun 2025.


No Comment