Apakah Kamu Termasuk Kategori Manusia Dungu?


Meminjam celotekan Rocky Gerung, bila terdengar ucapan dungu, jangan sakit hati. Kenapa? Karena sebagai manusia pemilik otak waras, mestinya mampu mengoptimalkan kinerja otak untuk membedakan benar-salah berdasar algoritma, dan kemudian menarik kesimpulan, dengan benar. Tentu dengan sendirinya tidak akan terdengar ucapan ‘ngawur’ kata dungu akan terdengar di telingamu lagi. Itulah kedikdayaan cara membedah persoalan berdasar, aras logika waras. Sebab, yang bersangkutan telah memakai perhitungan logis berdasar penalarannya, dan benar secara substansial.

Itulah sebabnya, sebelum pengambilan kesimpulan, berdasar perhitungan algoritmis, dilanjut atau tidak; dilakukan atau tidak, tentu pentingnya kecermatan. Itulah pentingnya memahami sesuatu hal, menggunakan perhitungan dengan matang. Sehingga penarikan kesimulan tidak akan keliru. Faktor penting dalam hal itu, mau-tidak-mau penalaran secara substantif-data yang dilihat, didengar dan diuji nilai kementakannya sangat penting. Sebab, mayoritas, kita sebagai manusia, tak luput dar kesalahan pengambilan putusan. Itulah pentingnya belajar secara mendalam ‘kerja-algoritma’ dalam cara bernalar dengan baik. Itu tak luput dari logika. Tanpa diembel-embili dengan perasaan sebagai manusia. Itulah sebabnya pentingnya memahami pengetahuan deduksi-induksi dan agar penarikan kesimpulan tidak keliru.

Kecerdasan buatan AI membantu pengambilan putusan

Itulah sebabnya, para cerdik-pandai hitung-menghitung secara logis dan nyaris luput dari kekeliruan nilai kementakan –probabilitas- yang bakal terjadi, tentu perlu dipikirkan secara seksama. Munculah apa yang kini dikenal Artificial Intelligence (AI). Kecerdasan buatan, tentu mengacu pada kemampuan ‘otak kita’ untuk meniru sistem kemampuan sistem komputasi untuk melakukan penilaian tugas-tugas terkait dengan kecerdasan manusia. Termasuk dalam hal ini terkait soal pembelajaran, bagaimana menyelesaikan penalaran, pemecahan masalah, persepsi dan pengambilan keputusan

Tentu hal itu masuk ke dalam ranah bidang penelitian ilmu komputer yang mengembangkan dan mempelajari metode dan perangkat lunak untuk memahami, misalnya lingkungan dan menggunakan pembelajaran dan kecerdasan untuk mengambil tindakan maksimal suatu peluang agar mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Frame itulah yang menjadi objek penelitian rumit, dengan melibatkan ketelitian penalaran dan pengambilan putusan, agar tidak melenceng. Perhitungan di mesin komputer itulah acap disebut sebagai AI.

Menggunakan perangkat yang dapat menghitung secara cermat lewat algoritma

Setelah melalui pelbagai penelitian njelimet dengan menghabiskan miliaran dollar anggaran akhirnya aplikasi mesin canggih tersebut dapat diwujudkan, lihat saja yang digunakan untuk mencari web canggih (misalnya, Google Search); sistem rekomendasi (digunakan oleh You Tube, Amazon, dan Netflix); asisten virtual misalnya, Google Assistant, Siri, dan Alexa); kendaraan otonom (seperti misalnya Waymo); perangkat generatif dan kreatif (misalnya, ChatGPT dan seni AI); maupun permainan dan analisis super dalam permainan setrategi (misalnya catur dan Go)

Namun, banyak aplikasi AI yang tidak dianggap sebagai AI: “Banyak AI mutakhir telah masuk ke dalam aplikasi umum, seringkali tanpa disebut AI karena setelah sesuatu menjadi cukup berguna dan umum, ia tidak lagi disebut AI. Berbagai subbidang penelitian AI berpusat pada tujuan tertentu dan penggunaan alat tertentu. Tujuan tradisional penelitian AI meliputi pembelajaran, penalaran, representasi pengetahuan, perencanaan, pemrosesan bahasa alami, persepsi, dan dukungan untuk robotika.

Suatu saat kita tidak bisa membedakan sebenarnya manusia atau robot

Kecerdasan umum—kemampuan untuk menyelesaikan tugas apa pun yang dilakukan oleh manusia pada tingkat yang setidaknya setara—merupakan salah satu tujuan jangka panjang bidang ini. Untuk mencapai tujuan ini, para peneliti AI telah mengadaptasi dan mengintegrasikan berbagai teknik, termasuk pencarian dan optimasi matematika, logika formal, jaringan saraf tiruan, dan metode berbasis statistik, riset operasi, dan ekonomi. AI juga memanfaatkan psikologi, linguistik, filsafat, ilmu saraf, dan bidang lainnya.

Kecerdasan buatan didirikan sebagai disiplin akademis pada tahun 1956, dan bidang ini mengalami beberapa siklus optimisme sepanjang sejarahnya, diikuti oleh periode kekecewaan dan hilangnya pendanaan, yang dikenal sebagai musim dingin AI. Pendanaan dan minat meningkat pesat setelah tahun 2012 ketika pembelajaran mendalam mengungguli teknik AI sebelumnya. Pertumbuhan ini semakin cepat setelah tahun 2017 dengan arsitektur transformator, dan pada awal tahun 2020-an, miliaran dolar diinvestasikan dalam AI dan bidang ini mengalami kemajuan pesat yang berkelanjutan dalam apa yang dikenal sebagai ledakan AI.

Munculnya AI generatif tingkat lanjut di tengah ledakan AI dan kemampuannya untuk membuat dan memodifikasi konten mengungkap beberapa konsekuensi dan kerugian yang tidak diinginkan saat ini dan menimbulkan kekhawatiran tentang risiko AI dan efek jangka panjangnya di masa depan, yang mendorong diskusi tentang kebijakan regulasi untuk memastikan keamanan dan manfaat teknologi tersebut.

Kenapa ABG (anak baru gede) di Jepang lebih suka makai rock-mini? Tanya AI

Permasalahan umum dalam mensimulasikan (atau menciptakan) kecerdasan telah dipecah menjadi beberapa subpermasalahan. Subpermasalahan ini terdiri dari ciri atau kemampuan khusus yang diharapkan ditunjukkan oleh sistem cerdas oleh para peneliti. Ciri-ciri yang dijelaskan di bawah ini telah menerima perhatian paling besar dan mencakup cakupan penelitian AI.

Para peneliti awal mengembangkan algoritma yang meniru penalaran langkah demi langkah yang digunakan manusia saat memecahkan teka-teki atau membuat deduksi logis. Pada akhir 1980-an dan 1990-an, metode dikembangkan untuk menangani informasi yang tidak pasti atau tidak lengkap, dengan menggunakan konsep-konsep dari probabilitas dan ekonomi.

Di antara masalah tersulit dalam representasi pengetahuan adalah luasnya pengetahuan akal sehat (himpunan fakta atom yang diketahui rata-rata orang sangat banyak); dan bentuk sub-simbolis dari sebagian besar pengetahuan akal sehat (banyak dari apa yang diketahui orang tidak direpresentasikan sebagai “fakta” atau “pernyataan” yang dapat mereka ungkapkan secara verbal). Ada juga kesulitan dalam akuisisi pengetahuan, masalah dalam memperoleh pengetahuan untuk aplikasi AI. (rujukan berbagai sumber | Eddy Je Soe)

Apakah karya seni Rembrand yang dipajang di museum merupakan pornografi? Tanyakan pada AI
Previous Sarapan Yogurt Setiap Hari Cegah Diabetes
Next Catherine O’Hara, Bintang Komedi Hebat Meninggal di Umur 71 Tahun

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *