Semua warga masyarakat yang ingin menjajal berdagang, istilah sekarangnya bisnis kulineran, tentu tak pandang bulu nantinya akan dilawan pebisnis lain berdagang. Sepanjang barang dagangan yang dijajakan satu-sama lain tidak berdekatan di satu tempat, biarin saja. Itulah ciri khas para pedagang menawarkan makanan atau nyamilan pada calon pembeli. Itulah sebabnya, saat pameran kegiatan yang dikunjungi ratusan warga, disitulah arena ‘perang’ dagang. Ada yang agak aneh, bila salah satu pedagang oproxan, tentu, berjualan dengan menggelar, anglo-penggas api, sebagai pemanas masakan, digelar berdekat dengan bahan-bahan yang akan dijual. Itulah ciri khas pedagang kerak telor, asal betawi.
Berjualan makanan khas Betawi di Kota Solo bukan hal baru dilakukan bapak tiga anak asal Kartopuran. Pada tahun 90-an, tutur Mawardi, 57, setiap kali ada acara di Kota Solo, ia lebih sering memikul perkakas berisi wajan, angklo dan bahan dagangannya menuju tempat keramaian. Tetapi setelah usianya di atas angka 50, perkakas tidak lagi dipikulnya, tetapi dibawa kendaraan memakai bronjong. Seperti saat pagelaran Jazz di Puro Mangkunegaran kemarin, ujar Muwardi ditemui di both-kemah tempat berjualan yang disewanya patungan dengan penjual gulali-kembang gula.

“Saya datang pakai montor bebek. Barang saya masukkan di bronjong. Semakin tua tidak berani mikul dari rumah. Padahal lumayan tidak jauh. Tempat ini nyewa Rp.200 ribu, patungan sama penjual gulali,” ujar dia, Sabtu (29/3) di selasar halaman Mangkunegoro, tahun lalu.
Jangan heran bila Anda ngeliatin, adonan telor bebek, ketan ditambah yur-sayur daun bawang, lantas dibakar di atas tungku, tradisional masih menggunakan arang dari batok-kelapa. Kepiawaiannya memolak-malik adonan beras-ketan, telor dan taburan srundeng, tutur dia, diperolehnya dari istrinya asal Betawi asli. Dulunya, tutur dia, Mawardi pernah dagang martabak telur dan Terang-Bulan, di Sunter Jakarta Utara.
“Ada pelanggan, setiap hari suruhan enkoh-engkoh beli martabak. Kadang martabak-telur, kadang Terang Bulan –martabak manis (red)– katanya enak. Lama-lama malah nyangkut jadi isteri saya. Itu dulu,” ujar dia, “idenya dia yang nyuruh jualan Kerak Telur dan ngajari jualan. Kadang juga jualan martabak.”
Menurutnya, jualan Kerak Telur di Solo memang agak susah kalau tidak ada keramaian besar seperti tontonan musik. Tidak setiap orang Solo menyukai Kerak Telur. Jangankan membeli, ujar dia sembari melayani pembeli asal Jakarta, tahu namanya Kerak Telur saja bingung. “Banyak yang tidak tahu makanan Kerak Telur. Tahunya martabak bakar. Mana ada martabak dibakar. Aneh oq emang wong Solo itu. Padahal sudah ditulis kerak telur asli Betawi,” katanya. Maaf mbah, teman wong londo bingung cara memasaknya, seperti ini: “What is that?” Mbuh
Bisajadi keluhan pedangang mengaku bos bagi dirinya, berjualan kerak-telor kadang bikin jengkel mengikuti permintaan calon pembeli yang duduk di dingklik yang telah disediakan di depan tungku bara api angklo. Selain suka cerewet, juga kadang mengaku, sering kecipratan bara-arang menyambar pakaiannya. “Kalau kagak mau kena bara-api dari areng, pergi dari depan dong. Biar kagak nyiprat ke rambut apinya ngebakar,” ujarnya cengegesan. “Mending, liatin itu si mas-mas buat gulali- kembang gula kesukaan anak-anak. Biar baunya nyampur bedak dan wangi gula-pasir.”
Rasanya tidaklah tepat bila sipenjual kerak telor, ngomel-ngomel, lantaran barang dagangannya disama-ratakan dengan intip dan gulali yang berdekatan dengan tempat berjualan. Pasti setiap ada bazar pameran dagang, dirinya sering bertemu mbok penjual intip, Mbah Mbah Marsiyem di situ. “Tapi beliau’kan tidak memproduksi sekali jadi intip yang dijualnya. Perlu waktu dan kesabaran.”



No Comment