Melakukan kompilasi pidato sang putra fajar, Bung Karno, lebih dari satu abad, jangan dianggap enteng lantaran mudah dilakukan siapapun. Selain tak gampang melacak jejak pemikiran sewaktu melakukan pembelaan di muka persidangan, melawan makamah peradilan penjajah Belanda, selain itu tak segampang merunut karya literer kalimat hukum secara runut dan lugas sewaktu Bung Karno membacakan Pledoi di depan sidang peradilan, di gedung Landraad Bandung
Kami berpandangan, naskah yang ditulis Bung Karno, tentu saja bukan merupakan hasil karya tangan lewat pemikiran sang putra fajar sendiri, melainkan juga didukung oleh para pejuang pemikir kemerdekaan, kala itu. Sebut saja misalnya, tim inti dalam PPPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan), antara lain tokoh-tokoh pejuang seperti Sutan Sjahrir, Mr. Sartono, Mr Sastromulijono, Mr Soejoedi dan R Idih Prawiradiputra

Meski demikian, kami meyakini seperti karya Bung Karno sebelumnya “Di Bawah Bendera Revolusi” yang diterbitkan sebelum dan seusai proklamasi; tentulah Pledoi Perjuangan Bung Karno, dapat dipastikan karya outentik pemikiran sang presiden pertama, beserta para ahli hukum pra kemerdekaan.
Banyak hal menarik dalam kumpulan pembelaan bertajuk “Indonesia Menggugat”, Pledoi Bung Karno Di Hadapan Pengadilan Kolonial Belanda 1930, kami anggap berhasil dalam menuangkan karya literer ke dalam bentuk buku. Meskipun tanpa menorehkan nama penerbit dan waktu kapan diedarkan secara luas untuk konsumsi rakyat, kami patut mengacungi jempol etikat menerbitkan isi pembelaan sang putra fajar, Bung Karno.
Di balik kekawatiran pencantuman nama penerbit dan pengumpulan berkas pidato dan/atau narasi literer ke dalam penerbitan buku, kekawatiran kami tentu beralasan, bila penerbitan buku tanpa menyebut penerbit dan tahun pencetakan, bisajadi takut lantaran dicap sebagai pengikut fanatik Bung Karno, dapat mengganggu situasi politik rejim Orde Baru (Orba) yang berkuasa menggantikan Orla.

Ketakutan itu tentu saja, memprihatinkan. Sebagai lembaga penelitian dan kajian social politik, IMSS (Institute for Media and Social Studies) gerakan perkembangan politik dan demokrasi di Indonesia, ketakutan menerbitkan kumpulan pidato Bung Karno, tanpa menuliskan penerbit dan waktu diterbitkan, jelas tidak masuk akal dan berlebihan.
Sebagai lembaga kajian, IMSS tak hendak menyalin ulang bentuk kalimat dan/atau kata yang terdapat dalam “Serial Api Perjuangan Bung Karno” yang juga dianggap buku babon “Indonesia Menggugat” menjadi kompilasi naskah buku; akan tetapi berupaya melacak makna kalimat dalam pidato Bung Karno, dan relevansi makna yang terucap dengan kondisi, lebih dari satu abad setelah merdeka
Dalam naskah Indonesia Menggugat yang dibukukan, saat melakukan pembelaan di gedung pengadilan, di awal pendahuluan Pledoi Bung Karno, paparan yang dibacakan mengenai persoalan: 1) hakim dalam proses politik, 2) pasal-pasal dan tuduhan-tuduhan seperti karet, dan 3) persoalan keyakinan kami merdeka harus diingat.

Selain itu, dalam pembelaan, kala itu naskah, Pledoi, Bung Karno menguraikan tataran perkembangan Imperalisme dan Kapitalisme. Di gedung itu pledoi Bung Karno mengurai pokok persoalan Imperialisme tua, asas imperialism tua pada dasarnya merupakan urusan rezeki, balapan memperluas daerah jajahan baru di zaman imperialism modern.
Setelah mengurai imperialisme tua yang berakibat pada pencarian rezeki di sebuah negara, dengan mencontohkan Columbus menempuh samodera antlantik memenuhi nafsu mencari rezeki; menyuruh Bartholemeus Diaz dan Vasco da Gamma menentang hebatnya gelombang Samudera Hindia, mencari kemungkinan menempati lahan benua harapan memperoleh rezeki lewat perdagangan rempah sebagai “noordster” petunjuk arah. Itulah sebabnya Columbus menyuruh membuat peta dagang rempah pada admiral Drake, Magelhaens, Heemskerck dan Cornelis de Houtman.

Nafsu mengejar rezekilah yang menjadi nyawa kompeni di dalam abad ke-17 dan ke-18, nafsu meraih rezekilah pula yang menjadi sendi-sendi balapan cari jajahan dalam abad ke-19, yakni sesudah kapitalisme modern menjelma di Eropa dan Amerika. Itulah sebabnya bangsa para penjajah dari benua eropa lain seperti menganeksasi benua asia dan singgah ke pulau jawa sebagai pusat perdagangan rempah-rempah yang banyak dijual ke daratan lain di benua Eropa dan Amerika.
Pengantar dalam buku tersebutlah yang membawa IMSS mengkaji secara seksama dan memaparkan ulang; anggap semacam content analisys, buku pidato lawas, Indonesia Menggugat itu. Apa makna dan manfaatnya mengkaji ulang Pledoi Bung Karno, bagi pembaca generasi muda Indonesia? Tentu, tak semua orang membaca naskah asli pidato Bung Karno setebal 391 halaman, isi buku Indonesia Menggugat tersebut, oleh sebab itulah, kami sajian petikan literer sesuai pokok masalah yang dihadapi bangsa Indonesia saat itu dan relevansinya di masa kini.

Agar terasa menyayat, buku konten analisis, kajian tersebut kami paparkan di awal naskah paling yang pernah ditulis di Tempo, penderitaan sang Proklamator di Wisma Yaso, setelah di-coup-deta, sang pemimpin Orba Soeharto, dan kemudian menjadi presiden penganti Bung Karno. Dan kemudian menjebloskannya sebagai tahanan politik di Wisma Yasco, mengawali naskah 6 bab kajian conten analisis “Pidato Perjuangan Bung Karno, Melawan Belanda”
Kami menyadari, buku yang kami siapkan dalam kerangka melacak jejak sang proklamator, sekaligus memperingati Bulan Bung Karno, sebagai negarawan pencipta Pancasila 1 Juni, Lahir pada 6 Juni dan Wafat 21 Juni 1970. Sebagai lembaga kajian, tentu saja IMSS tak hendak berpretensi gagah-gagahan semata, namun sebagai bentuk kepedulian terhadap, orator, proklamator, presiden dan negarawan yang pantas kita junjung tinggi keberadaannya pantas diketahui Generasi Z, acap disebut, Gen Z
Tentu kami sangat berterima kasih apabila, bapak/ibu/saudara berminat ingin membaca buku yang kami terbitkan pada 21 Juni 2024 bertepatan dengan hari wafatnya sang proklamator, dapat diperoleh secara gratis, seperti yang pernah diucapkan Bung Karno, agar tahu duduk perkara pembelaan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia kala itu. Mudah-mudahan bermanfaat. Selamat membaca

Ketua DPC (Dewan Pimpinan Cabang) Partai Demokrasi Perjuangan, kota Surakarta, menggarisbawai bawa Single majority dalam kepengurusan partai politik jangan diartikan ingin menguasai peta politik dan bermacam urusan yang menyertainya hingga sekarang. Anggapan seperti itu tentu keliru dan kurang wawasan. Justru sebaliknya melempar argumentasi berlebihan, justru patut disebut penebar kebencian terhadap pimpinan partai politik agar organisasi partai terkoyak. Melempar isu single majority dalam konteks partai politik, bisa diartikan ingin menggoyahkan landasan pijak yang telah mapan diikuti anggota partai di dalam komunitas akar rumput secara riel agar tidak sejahtera. “Sangan sampai digeremeti unsur politik yang menginginkan kehancuran partai nasionalis, banteng,” tandas Bung Karno dalam pidato 17 Agustus 1946
Istilah single majority tidak patut dilontarkan hanya untuk mengesampingkan gerak perlawanan seseorang yang pernah melakukan pengabdian sejak lama hingga sekarang. Alangkah baiknya bila langkah kerja nyata yang pernah dilakukan dalam mengentaskan kemiskinan tersebut pantas dicontoh dan ditiru geraknya. Menekuni pengabdian sejak awal gerakan pembelaan terhadap wong cilik di sudut-sudut kampung kota dan berusaha membebaskan dari cengkeraman kebengisan masa lalu di jaman orde baru, seharusnya dicontoh, bukan malah dikerdilkan penguasa saat ini.
Tidak elok bila generasi milenial memandang kiprah pendahulunya melontarkan cercaan hingga menimbulkan syak prasangka berbagai macam tudingan minir kepadanya. Memandang secara holistik kinerja membangun yang pernah ditanganinya di masa lalu bukan berarti tidak perlu dan penting, tetapi akan lebih fair dinilai warga masyarakat yang tahu betul duduk soal kendala penyelesainya waktu itu.
Buku kajian “Pidato Perjuangan Bung Karno, Melawan Belanda” yang diterbitkan institute for media and social studies (IMSS), diharapkan mampu membuka wawasan kenegaraan sebagai warga marhenisme warisan sang proklamator. Dengan demikian, Perjuangan untuk mensejahterakan rakyat dalam bingkai marhenisme, tetap lekat dalam benak sanubari setiap warga negara bangsa ini. Bagi sebagian warga kota yang peduli terhadap partai politik berlambang banteng, tentu mengetahui dalam menyikapi duduk persoalan kahanan sewaktu disingkirkan pemimpin orde partai pemenang pemilu 1977. Demikian pula, sindiran ingin berperan sebagai single majority dari kader partai tidaklah nyaman terdengar, jelas merupakan agenda yang didesign partai lain agar marwah marhenisme tersingkir dan terkoyak hingga ambruk dikemudian hari.
Bisa dianalogikan selentingan tidak mengenakkan juga pernah dialami Bung Karno saat berdiskusi dalam rapat BPUPKI ketika mendiskusikan arah perjuangan pembukaan UU yang di dalamnya terkandung ideologi lima sila untuk meraih kesejahteraan rakyat, toh sikap Bung Karno sebagai penggali Pancasila tidak goyah dan menerima cercaan karib politik dari Sjahrir maupun Tan Malaka, dalam rangka persatuan mencapai kemerdekaan. Dewan pimpinan cabang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan kota Surakarta, menyambut baik atas prakrarsa lembaga itu, mengkaji dan menelaah marwah pidato Perjuangan Bung Karno dan menerbitkan sebagai buku penyemangat revolusioner marhenisme (tim indepth reporting imss/eddy je soetopo)


No Comment