SLTA Paspal atau Sosbud, Setelah Lulus Kuliah di PT Menganggur


Agak aneh bila Anda ingin memasuki perguruan tinggi, eksakta, setelah lulus dari SMA (sekolah menengah atas) kemudian kuliah di fakultas kedokteran. Tentu tidak mudah dan murah. Paling kurang tahun ajaran depan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, sekolah setingkat SMA dan SMK telah dijuruskan. Kembali ke aturan di masa lalu. Ada jurusan pilihan Pasti dan Alam atau memilih masuk di Sosbud (sosial budaya). Pertanyaan yang pantas diajukan yakni, siapa yang akan bertanggungjawab, bila di kelas jurusan Pasti-Alam (Paspal), sebutan masalalu, kemudian murid-muridnya tidak banyak yang tertarik untuk meneruskan kejenjang perguruan tinggi mengambil jurusan, kedokteran atau teknik. Mestinya diadakan survey atau penelitian mendalam, yang telah dilakukan 5 tahun lalu, setelah kurikulum pendidikan ‘Merdeka’ sewaktu menterinya masih dijabat pejabat lama.

Rasa-rasanya tidak elok benar, adagium yang beredar di masyarakat dan diyakini kebenarannya yakni, setiap pergantian pejabat menteri, dapat dipastikan berubah aturannya. Ternyata memang benar. Padahal pergantian kurikulum dan penjurusan di tingkat SMA dan/atau SMK tentu memerlukan pemikiran panjang dan mendalam dampaknya. Bukan lantas, dengan semaunya menerapkan, aturan pergantian seenak udelnya seperti itu. Mestinya, paling tidak, dilakukan analisis mendalam dari pelbagai sudut pandang, sosial-ekonomi orang-tua dan keluarga siswa yang akan menempuh ke jenjang pendidikan tinggi. Bila tidak, yang akan terjadi adalah tidak setiap siswa lulusan SMA dan/atau SMK mampu menerobos ujian masuk ke perguruan tinggi. Kalau pun dapat lolos memasuki ke perguruan tinggi, apakah nantinya, para siswa yang telah menjadi ‘mahasiswa’ dapat mengikuti pelajaran dengan baik dan prima setelah lulus dari Perguruan Tinggi (PT) dengan nilai baik-sekali. Pertanyaannya kemudian apakah setelah memperoleh izasah, lantas bisa memperoleh pekerjaan sesuai dengan jurusan yang dipilih, tak jelas benar.

Belajar dari pengalaman di era sekolahan SLTA memakai penjurusan, ternyata juga tak banyak yang dapat dipetik bahwa jurusan Paspal (pasti-alam) tak mudah memperoleh pekerjaan setelah lulus dari PT negeri atau swasta. Paling tidak, bukan mengambil jurusan kedokteran dan/atau farmasi, misalnya, siswa-siswa lulusan di luar jurusan tersebut, setahu tim kami, banyak yang terlihat kleleran, alias menganggur. “Jangan bilang, anak tetangga sebelah rumah, ijasahnya Paspal waktu SMA, tidak nerusin kuliah kedokteran, cuma ambil farmasi, juga sampai sekarang, sulit bekerja. Padahal dahulu tahun 1983-an, masih banyak formasi di tempat kerja. Bisa jadi orang tersebut malas, atau faktor lain. Sehingga tetap menganggur,” ujar Johanes Es, jurnalis yang kini mengelola media

Perkara pilihan masuk perguruan tinggi, lantas bukan perkara penjurusan Paspal atau Sosbud, sewaktu belajar di SLTA, tetapi perkara kesempatan dapat-tidaknya memperoleh pekerjaan yang layak, setelah lulus dari perguruan tinggi. Itulah sebabnya, penjurusan kembali ke masalalu, jelas nganeh-anehi. “Ngowah-owahi adat. Nyari proyek baru, ganti kurikulum, tentu akan berganti aturan, termasuk buku pelajaran sewaktu duduk di bangku SLTA,” memang aneh. Ndak usah dikait-kaitkan dengan persoalan literasi, segala, ujar Johanes Es, kalau ingin mengubah aturan.

“Itulah sebabnya, pendidikan yang berorientasi lulus kuliah, dapat menaikkan derajad keluarganya, jadi tidak perlu dibungkus dengan literasi segala maca. Lha wong murid sekarang, baca buku pelajaran saja minta ampun susahnya, mereka lebih suka baca chat di hand phone. Gimana bisa maju. Logikanya ndak main.” Mungkin yang bersangkutan, jengkel kenapa dahulu tidak mengambil kuliah di kedokteran. Kalaupun belum lulus jadi dokter medis beneran, bisa ‘nyambi’ menjadi detail-man obat. Sehingga bila nanti dapat izasah dokter, praktik di Puskesmas, ndak masalah,” katanya

Previous Morris Meski LGBT Sumbang Dana Buat Pendidikan Wong Mlarat Miliaran
Next Kalianlah Penyebab Kegaduhan Rakyat Ngamuk: Berjoget-Joget

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *