Tudak banyak sejarawan yang dengan tekun dan serius mendalami tumbangnya kolonialis penjajahan Belanda dengan runtut dan mendetail mengulas dalam sebuah buku. Sepanjang penelusuran yang kami lakukan, ke berbagai perpustakaan di universitas maupun lembaga² lain, nyatanya tak banyak yang memperhatikan ǰejak masalalu.
Untungnya, seorang mahasiswa lawasan, ketika itu, menulis skripsi yang kemudian malah dijadikan buku bacaan resmi sebagai penganta di universitet terkemuka di Jakarta dan Jogyakarta.
Nama mahasiswa yang menulis skripsi itu bernama Onghokham. Bukan hanya petentang-petenteng bawa tas berisi buku² tebal lantas ikut deminstrasi di jalanan yang dilakukannya kedehariannya; tapi wira-wiri melacak sumber bacakan, surat² kabar dan buku tebal. Onghokham, menang tergolong mahasiswa kutu-buku tak ayal hidup dirinya acap tak terawat lantaran ngeyelan tekun meraih tujuan mentuntaskan skripsinya
Menyerahnya Belanda kepada Jepang pada Maret 1942, menurut Onghokham, dianggap sebagai titik akir dari kekuasaan kolonialnya di Indonesia berlangsung selama tiga abad. Meski demikian tanpa perustiwa itu pun, sehjatinya merupakan awal dari proses runtuhnya kekuasaan kolonial Belanda di Indonesia modern mulai menampakkan dirinya.
Proses itu, menurut Onghokham, makin nyata pada pertengahan 1920-an hingga awal 1940-an dengan munculnya aspirasi gerakan-gerakan nasionalis yang tegas menuntut kemerdekaan Indonesia. Situasi internasional yang ditandai dengan Perang Dunia II di mana Jepang mengambil kekuasan Belanda di Indonesia bisa dikatakan sebagai faktor penyebab proses keruntuhan tersebut
Menurut pengamatan sepintas yang saya lakukan dengan membaca buku jejak keruntuhan Hindia Belanda tersebut, jelas menunjukkan informasi dan analisis Onghokham dalam mencerna fenomena masalalu, jelas sangat prima untuk diacungi tabiķ jempol sangat bagus dipelajari dan dibaca ulang generasi saat ini


No Comment