Letaknya tak jauh dari kompleks candi Ratu Boko, jika kita pandang di undak-undakan gerbang utama Candi Ratu Boko ke arah Barat. Selain lihat bukit nan merona kehijauan, acap terlihat sliear-sliwer pesawat lepas-landas dari Bandara Adisucipto. Ech malah ketemu Barak Obama saat berkunjung ke Jogyakarta. Harap maklum, mantan presiden Amerika Serikat Obama itu, aslinya pernah sekolah di SD Negri di Jakarta. Entah dulunya suka mblayang ke cand-candi di seluruh negri Indonesia, dia kembali kepencut dolan ke Candi Borobudur dan Prambanan.
Bagi penggemar bebatuan yang tersusun, seperti halnya Obama, kalian boleh dan bisa bercengkerama sepanjang kalian tidak merusak tumpukan batu, tak ada yang melarang, menemui Obama. Meskipun hanya berdada-dada ria melambaikan tangan. Cukup menyenangkan. Obama, sebenarnya kepingin blusukan sampai ke desa-desa terdeat dengan bangunan candi itu. “Kalian pun boleh wira-wiri ngeliat aktivitas dudun, embok-mbok sedang berada di tengah sawah, tandur atau panen,” kata salah satu pengawal bekas presiden itu. Tentu bila pas musimnya nanti, Obama ingin kembali ke Jogya. Nemuin mahasiswa-mahasiswa di UGM – Universitas Gajahmada.

Menurut ajudannya, jangan sungkan bertanya pada warga masyarakat, yang juga mengikuti Obama mengawal dengan santun memakai bahasa campuran gado-gado Ingris-Indonesia dengan rmah. Ketika mendengar tumpukan batu sebagai penanda candi Ijo menuju Prambanan, lewat jalan Piyungan mblusuk ke kampung Madurejo. Sambil nenggak, degan hijau, dan bertanya-tanya para penjual di pinggir ndalan. “Harga degan, tentu membikin deg-degan, para pengawalnya. Lantaran duit yang diterima pedagang, makai dollar. Bukan rupiah, duit waktu Obama berada di Jakarta dulu. Tentu saja membuat kalang-kabut penjual kelapa muda.”
Bisa jadi, kala itu, mantan presiden AS Obama itu menganggap ‘leren’ buat mengenang masalalu. Jebul mak-jegagig dirinya dikerubuti para penjual degan dan masyarakat awam, tidak takut-takut nemuin Obama. Apalagi, saat dirinya melakukan perjalanan mendaki yang berliku, dan menanjak hingga tak terlihat jalan landai. Tentu saja buat Obama, yang suka lari pagi, hal itu tidak masalah, justru malah asyik. Namun, kata mbokdhe Sudjirah dan bojonya, waktu ditemui di pinggir galengan, arah menuju Candi Ijo tinggal 3 kilo meter, “paling banter 2 jam bila naek speda onthel. Kalau tidak carter motor. Lantaran ingin bertemu presiden Obama, ngelihat dari dekat. wong dulu dia sering ke kampus, UGM

Bener saja Candi Ijo dibangun sekitar abad ke-9 di sebuah bukit yang disebut sebagai Gumuk Ijo alias Bukit Hijau. Dengan ketinggian di lokasi tempat dibangun candi sekitar 420 m di atas permukaan laut. Anggap saja, Candi Ijo menawarkan landscap kota Njogo dari sisi lain, dibandingin ngeliatin candi-candi Prambanan dan Borobudur yang megah itu. “Mr preisen Obama, sangat suka, melihat candi-candi yang dirawat di Indonesia. Seperti candi Ijo, Prambanan dan Borobudur,” ujar penerjemah merangkap intel amerika cengegesan

Entah kenapa warga masyarakat dahulu kala menyebutnya Candi Ijo, tak banyak refrensi. Bisa jadi kemungkinan dulunya Candi Ijo dibangun di area pepohonan masih rindang-hijau royo-royo. Dahulu, bila dilihat bangunan candi, dari salah satu sudut, akan terlihat landasan Bandara Adisucipto, lurus menghadap kea rah kita. Meski tak terlihat wira-wirinya pesawat yang mabur, toh lumayan buat ilustrasi kelelahan bisa ngeliat sliwar-slier montormabur.

Bagi kalian yang suka ngetungi tumpukan bebatuan masalalu, candi ini terdiri atas 17 struktur bangunan yang terbagai dalam 11 teras berundak. Namun baru diberesin bangunan itu hanya sampai di teras 11 alias teras paling bawah. “Lha kenapa? Kowk kagak diterusin sekalian, kata rekan kami dari Jakarta.” Mbuh takono Gustiallah. Kowk tanya saya. Emangnya gwe arkeolog yang suka ngetungin tumpukan batu.
Meski begitu, menurut keteranan buku panduan percandian, bangunan Candi Ijo merupakan bangunan utama yang menghadap ke barat merupakan bangunan utama, dan 3 buah candi perwara di depannya menghadap ke candi utama. Ada juga delapan buah lingga patok. Sayangnya dahulu tidak terdapat patok tanda akan didirikan telepon umum. Hingga saat ini, tak muncul gagasan ‘gardu’ merah sebagai pertanda didirikan box-telepon umum (nicole-As | eddyjesoe-Slo)


No Comment