Pekerja Wanita Taksegan Manjat Tembok Mengecat Gedung


Di negri mana bisa kita temui, pekerja wanitanya berani ‘toh-nyowo’ menentang maut bergelantungan memanjat tembok gedung-gedung tinggi, selain di Vietnam dan China. Bukan lantaran mereka, tidak memiliki pekerjaan lain di negara penganut system ideology yang nyaris sama komunis-sosialis.  Entah apakah latar belakang kehidupan keluarga ataukah negara itu tidak banyak lowongan kerja bagi perempuan, tak jelas benar

Jangan membandingkan para pekerja wanita di Indonesia, yang memang anyih-anyih pilih-pilih pekerjaan. Beberpa rekan yang pernah bekerja di negara Cina dan Taiwan, mengatakan, kaum perempuan berani memanjat tembok gedung-gedung tinggi dan bergelantungan mengecat tembok. Mereka tidak takut, bila terjadi kesalahan langkah, melakukan pengecatan, bisa jadi nyawa mereka melayang.

Jangankan hanya melakukan pengecat tembok, menghaluskan gradasi tembok sebelum jadi menggunakan adonan semen di udara pun, tidak jadi soal. Bahkan, mereka, para tenaga kerja bukan serabutan itu, juga dengan tangkas memasang pendingin udara ruangan, alias Air Condition (AC) yang berat dari bawah tangga melalui ‘kerekan’ katrol ke atas agar dapat dipaang dengan aman.

“Lihatlah dalam canal di Youtube, ujar Lincia Lienwein, warga negara asli Indonesia nekat bekerja di Thaiwan, sudah 4 tahun bergelantungan mengecat tembok gedung,” ujarnya berapi-api tanpa basa-basi.  Dulu, tawaran kerja seperti itu, ujarnya menambahkan, mengajak dirinya. Namun setelah ditanya, pada broker asal Jatim yang mempekerjakan dirinya, tak mau menyebutkan angka honor kerja mengecat tembok di gedung tinggi.

“Males lah. Pekerjaan seperti itu’kan taruhannya nyawa. Kliru hitung-hitungan, bisa-bisa njiglok, terjun dari atas. Honornya ada yang mingguan, tergantung berapa lama dia dapat menyelesaikan pengecatan. Bisa sampai kisarannya, 15 jutaan per bulan. Termasuk disediakan makan siang, dan istirahat di bawah, tidak bergelantungan.”

Alasan kesejahteraan para pengecat gedung tinggi yang dilakukan siapapun, kata Lincia Lienwei, merupakan hal yang memerlukan keberanian dan kecekatan bergerak menyelesaikan tugas pengecatan. Lantaran memang telah diperhitungkan berapa lama dapat diselesaikan, dengan upah dan hal-hal lain dari broker penanggung tenaga kerja. Sebenarnya sih, lumayan besar, kalau hitung-hitungannya pakai duit rupiah, bisa pulang bawa duit banyak. “Dengan catatan breani tidak melakukannya pekerjaan itu. Mayoritas pekerja dari Indonesia, bila ditawari ngecat gedung, dapat dipastikan akan menolak. “Ngapain kerja di negri orang, rekoso-rekoso nemen. Mending jadi TKI di Taiwan atau di China. Hasilnya juga lumayan. Bisa dibawa pulang,” katanya. Padahal, prasarat agar diterim melakukan kerjaan telah mengikuti pendidikan militeristik, manjat-gedung dan melarikan diri.

Tidaklah mengherankan para pekerja di dua negara, China dan Vietnam, nekat menjalani pekerjaan yang tidak biasa dilakukan pekerja wanita Indonesia. Meskipun menghadapi kenyataan di lapangan bukan hanya mengecat tembok gedung puluhan meter tingginya, mereka tetap bertaruh nyawa mengecat tembok. Bahkan tidak hanya itu, ujar Lincia Lienwein, seperti dikutib di laman Migran Care, harus dijalaninya dengan tekat untuk kehidupan keluarganya. “Kalau di Indonesia, mana ada perempuan memasang AC dengan memanjat tembok bergelantungan di tembok. Daripada mati, mending jualan sayur atau ‘apem’ di pasar,” ujar dia mengejek. Ikutan demo, dapatin nasi bungkus. di pabrik yang mem-PHK tanpa penghasilan.. Itu mah gila teuing. Mestinya bertanggung jawab dong pemilik pabriknya. “Uasu tenan ock mreka itu.”

Previous Rocker Lawas Pengawal "Generasi Bunga" Janis Japlin
Next Demi Moore, Cintanya Tertabur Dalam Kayal di Film Ghost

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *