Kebangaan Sang Pesinden Jepang Ketika Nembang


Hiromi Ledek Jepang
Hiromi Ledek Jepang (dok. eddyjsoe)

Suaranya cemengkling, melengking terkadang bisa melebihi 7 oktaf ketika mendendangkan tembang Sinom Paridjoko, tentu menggunakan bahasa Jawa halus layaknya pesinden. Tidak hanya melantunkan tembang-tembang gagrag alusan, pesinden asal Chiba, Jepang, 31 Januari 1967 lalu, pun mampu menggelombangkan lagam cengkok gaya Mbanyumasan. Siapa sangka suara nan merdu mendayu, mengikuti rancak kendang, saat mengiringi dalang kondang Ki Manteb Sudarsono itu, sebenarnya pesinden Jepang asli.

”Saya asli asal Jepun lho mas. Nanti sampeyan sangka palsu. Wong saya lahir di Chiba, Jepang. Ndilalah senenge nembang Jowo,” ujar Hiromi Kano, berbahasa Jowo Ngoko, nama perempuan  Jepang di rumahnya Mojosongo, Solo Utara.

Perempuan terbilang mungil, dengan postur tinggi tak sampai 155 cm, tak menyangka kehidupannya harus dijalaninya justru melalu jalan nyempal pakem –menurut istilah Hiromi dalam tradisi bermusik yang dilakoninya sebagai musisi pop dan jaz. Tidak hanya seni musik biasa, Hiromi menggeluti sesuai tradisi bermusik keluarga besarnya, ia nyemplung bersekolah musik sejak duduk di sekolah dasar hingga sekolah menengah.

”Selesai sekolah menengah atas, saya melanjutkan di jurusan seni musik klasik dengan spesialisasi bermain musik grand piano. Sewaktu di Jepang, saya bisa menjelajah bermain musik di hampir semua kota. Tiba pada suatu saat, saya terperangah ada musik tetabuhan yang digelar di pentas musik di Jepang,” ujarnya.

Kenekatannya untuk mempelajari musik tetabuhan, membawa dirinya nekat ”minggat” ke Solo dengan tujuan belajar musik gamelan. Dalam hati, ujar dia sembari mesam-mesem bertutur, saya harus kalahkan musik gamelan. Ternyata, lanjut Hiromi, tantangannya sangat luar biasa susahnya ketika ajar nabuh gamelan. Selain jenis nadanya berbeda, ujarnya, partitur yang digunakkannya, ”Sumpah mati, susahnya bukan main. Bukan do, re, mi dan sebagainya; tapi hitungan ’Siji’, ’Loro’, ’Telu’ dan seterusnya. Itu’kan edan tenan,” katanya medoq. ”Wong aku mbiyen ora iso boso Jowo.”

Tidak hanya sebulan dua bulan Hiromi mempelajari ritme nada suara gamelan. Tapi lebih dari setahun dirinya baru bisa merasakan gending sing kepenak didengarkan. Selain harus belajar membalik tatanan main set otak ketika harus bermain musik dari jenis diatonik ke penthatonik, juga ajar boso Jowo ternyata tidak semudah bahasa Kanji, Jepang.

”Telanjur basah-kuyub, saya berketetapan hati nekat. Terus ngelandang kuliah di STSI. ”Lama-kelamaan, tetangga saya, malah bilang, bahasa mbak Hiromi lebih medoq dibanding bahasa mereka,” katanya. Itulah sebabnya, ujar Hiromi, enggan meninggalkan Solo. Apalagi setelah ia disunting pengajar dan penari jebolan Sekolah Tinggi Seni Indonesia, Wiyono. ”Saya kenalan dengan suami saya di STSI waktu belajar tari dan nembang.”

Kecintaannya pada musik klasiklah yang menyebabkan Hiromi nekat ingin mendalami dari jenis musik bernada lain. Ia mengatakan musik barat, tidak menantangnya melakukan elaborasi sebagai musisi. Ia pun lantas nekat melalanglang buwana hingga, menurut istilahnya kejeblos di Solo pada awal 1991. ”Setelah menyelesaikan kuliah di Jurusan Musik Barat dan Piano Tokyo Ogaku Daigaku –Universitas Musik Tokyo,” katanya. ”Sebelumnya saya ambil pelajaran bahasa Indonesia dan gamelan di Tokyo.”

Ketekunan Hiromi mempelajari musik di luar musik barat dan Jepang, mengundang decak kagum kedutaan besar Indonesia untuk Jepang. Pemerintah Indonesia lantas memberikan beasiswa pada Hiromi belajar gamelan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia di Surakarta. ”Kedutaan memberi kesempatan pada saya ke Indonesia dan belajar gamelan di STSI sekarang ISI pada 1996,” katanya.

Bukannya tidak ada halangan bagi Hiromi ketika ia meminta izin pada keluarganya untuk melanjutkan studi musik gamelan di Solo. Hampir seluruh keluarganya tidak meberikan izin, katanya, kecuali ibunya yang memberikan restu kepadanya untuk pergi ke Indonesia. ”Hampir seluruh keluarga saya melarang, hanya ibu saya waktu itu yang membolehkan,” ujar Hiromi.

Setelah mempelajari gamelan, Hiromi mulai mempelajari tembang Jawa. Meski suaranya tidak seempuk gurunya Nyi Supadmi, ia tetap ngotot belajar nembang Jawa. Alasannya, ujar Hiromi, cukup sederhana, untuk cari bekal tambahan uang agar tetap bertahan di Solo.

”Kalau saya bisa nembang, dan cari duit mengikuti pertunjukan dalang, lumayan buat makan,” ujarnya. Karena uang beasiswa tidak cukup buat makan dan kos, tutur dia, itulah sebabnya ia berusaha keras agar bisa menjadi sinden. ”Kalau bisa nyinden, dalam waktu singkat bisa dapat uang buat bayar kos dan makan sehari-hari. Tapi lama-lama keenakan nyinden. Habis asyik juga ternyata jadi ledek. Jangan anggap enteng dengan profesi pesinden.”

Sejak memantapkan diri sebagai pesinden, Hiromi Kano, setapak demi setapak namanya mulai banyak dikenal para dalang Solo. Ia kerap diajak menembang dalam pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Selain diajak guyonan ngomong campur-aduk, berbahasa Jepang campur Jawa, ia tidak pernah merasa sakit hati.

”Apalagi gojekan gaya dalang’kan memang seperti itu, biar penonton tidak ngantuk kalau melihat wayang kulit,” ujar dia seraya tertawa. Tidak ngantuk? ”Pasti dong. Namanya juga manusia. Tetapi asyik, sekarang bisa jadi sinden dan saya bangga dengan profesi saya sebagai ledek.”

Hiromi menyayangkan image pesinden di mata masyarakat sering dianggap negatif. Padahal, kenyataannya tidak seperti itu. Kalau mau fair, jangan dinilai dari segi negatifnya, tapi hargailah suara kami melantunkan tembang seperti permintaan dalang dan penonton. Bagaimana mungkin seorang pesinden hanya dinilai dari sisi negatif lantaran guyonan dalang dan waranggono yang sering cengegesan.

”Hargailah profesi kami sebagaimana pelantun lagu. Bedanya, kalau mereka yang menyanyi di dunia musik pop, bisa tenar dalam waktu sekejab. Tapi kami, tidak seperti itu. Para pesinden diakui kalau dalang dan penonton membludak dan berdecak kagum lantunan tembang yang diperdengarkan pesinden pas atau blero –fales,” tutur dia.

Selain menjadi penembang pada pagelaran wayang kulit semalam-suntuk, Hiromi tidak lantas puas memperbaiki intonasi bahasa Jawa yang dipergunakannya saat di depan corong microphone. Selain nyirik –berpantang makanan pedas– ia pun tidak merokok. Selain akan dapat mengganggu pernapasan, merokok juga tidak sehat buat kesehatan bagi orang yang suka begadang semalam suntuk, nyinden.

”Ndak suka ngerokok. Juga makan pedas. Sesekali, kalau lagi kepengin baget, ngumpet-ngumpet makannya. Soale kalau dilihat suami, pasti diseneni –dimarahi– terus. Mau enggak mau ya diampet ndak makan pedes,” ujarnya dengan bahasa gado-gado, Jawa-Indonesia.

Ketika ditanya apa ia mantap tinggal di Solo? Meski gagap menjawab, ia berusaha menjawab secara deplomatis. Maunya sih, katanya, ingin beralih kewarganegaraan. Tapi untuk saat ini dirinya masih belum bisa melepaskan kewarganegaraan negeri Sakura, Jepang.

”Namanya juga tanah kelahiran, biar bagaimanapun saya saat ini masih warganegara Jepang. Kalau mau pulang biar gampang,” ujar dia berkelit. Apakah tetap akan menekuni jadi pesinden wayang kulit? ”Maunya sih terus. Tapi lihat situasi dan kondisi. Sekarang lagi mau nawarin orang yang ingin belajar piano atau bahasa Jepang, buat nambal butuh.” Whuo allah mbak, koq ya ngerti nambal butuh juga. (eddy j soetopo)

Previous Kakehan Lungguh Penyebab Nyeri Punggung
Next Apa yang Kau Cari Lesbi?

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *