Nasionalis Dari Ndao-Ende, FX Seda, Dipercaya Bung Karno


Bung Karno berada di Ende

Jangan tanya kepada sejarawan lawas, kalau tidak mengenal tokoh yang lahir di Ndao-Ende, tempat ia bersekolah antara 1935-1945, kalau sampai tidak mengerti kiprah Frans Xaverius Seda. Ketokohannya dimasa Presiden Pertama, Bung Karno dan Soeharto, menjabat sebagai presiden. Pada tahun 1936, di sekolah yang didudukinya sebagai murid itu, kedatangan aktivis buangan pemerintah kolonial bernama Soekarno. Sang murid yang diserahi tugas membacakan puisi dan pidato berbahasa Belanda, sebagai penyambutan tamu kehormatan, presiden kala itu, Bung Karno.

Tiga belas tahun setelah perjumpaan di ndesonya Nandao, pada kongres Umat Katolik Seluruh Indonesia pada Desember 1949, di Jogyakarta, Presiden Soekarno dibuat terkejut lantaran dalam dialog terbuka, seseorang bertubuh pendek dan hitam angkat tangan, ingin bicara. Dengan tongkat wasiatnya Bung Karno menunjuk yang bersangkutan, “He, kamu sini nak, iya kamu yang bertubuh kecil hitam itu. rupanya kamu datang juga dari Ndao-Ende, ke Jogya.” kata presiden kala itu. Frans menjawab singkat ‘ya’ bapak presiden.

Keberanian pelajar nekat mengacungkan telunjuk jarinya itulah, Bung Karno terkagum-kagum untuk mendengarkan ‘celotehan’ usul mahasiswa-pelajar asal Ndao-Ende kala itu. Tidak jelas mengapa sang proklamator kemerdekaan, Bung Karno, meminta Frans masuk ke dalam Kabinet Dwikora yang disempurnakan. Menurut beberapa catatan dari ‘markas’ gerakan partai bawah tanah, Frans Seda duakali menolak ajakan Bung Karno untuk bergabung ke dalam kepengurusan Partai Katolik. Alasannya, dirinya belum berembuk dengan pengurus Partai Katolik, meskipun dirinya Ketua Umum DPP-nya. “Saya perlu kamu, bukan partaimu!” gertak Bung Karno, saat menemui Frans.

Masuknya Frans dalam kabinet, sebenarnya atas usul dari Jenderal Ahmad Yani, agar Partai Katolik menjadi penyeimbang kekuatan Partai Komunis Indonesia (PKI). Menurut refrensi dari naskah Simplicius Parera, mantan asisten pribadi Frans Seda (1964-1973) Bung Karno pernah beralasan lantaran Partai Katolik massanya sedikit. Jika jabatan Menteri Perkebunan yang dikenal “basah” itu diberikan kepada partai lain, dan menterinya berniat korupsi untuk massa partainya, bisa puluhan juta dari anggaran untuk membangun jalan di kampung. “Tapi kalau Partai Katolik, paling dua atau tiga juta rupiah,” kata Soekarno enteng, seperti diceritakan kembali oleh Simplicius Parera, asisten Frans Seda saat itu

Sejak tahun 1978 Frans Seda telah bebas dari atribut kenegaraan sebagai menteri, duta besar dan anggota DPA. Meski demikian dirinya tetap bekerja keras sebagai orang biaasa, dan tidak pernah menyombongkan diri dengan jabatan-jabatan pemerintah yang pernah digelutinya. Menurut Dr Rizal Ramli, mantan Menko Perekonomian zaman Gus Dur, bersaksi dalam buku ‘Simfoni Tiada Henti’, ia melihat Frans berbicara akrab dengan portir dan pelayan di Hotel Borobudur, sekitar tahun 1991.

“Dalam masa di mana gejala neofeodalisme kembali berkembang subur, jarang kalangan yang lebih ‘tinggi’ mau berbicara dengan kalangan yang lebih ‘rendah’, begitu santai dan enak. “Pak Frans pengecualian, tidak ada reservation dalam caranya berhubungan dengan oran lain. “Menurut saya, itulah ciri seorang demokrat.” kata Eddy Je Soe, waiter yang pernah bekerja, serve order makan pagi di Hotel Borobudur. Bukan lantaran dirinya juga salah satu VVIP pemegang saham pemerintah dan mengawasi hotel berbintang 5 di Lapangan Banteng Jakarta, kala itu. Itulah kaum demokrat yang sebenarnya.

Selera makan, menu kegemaran Frans juga sangat sederhana, nasi jagung, ikan asin, sayur bunga pepaya, wo’i barase (sejenis ikan teri yang disimpan di dalam bambu, ikan tuna dan udang. Termasuk jagung bakar atau rebus, pisang rebus, ubi-ubian. Itulah cita rasa makanan lokal dari kampung halaman kelahirannya. Acapkali nenggak minuman khas, sulingan dari nira pohon lontar yang alkoholnya cukup tinggi. Minuman keras orang Flores. “Bila anggota club grup Seven Up, berdiskusi, acap diadakan room resto Toba-Rotiseries, Hotel Borobudur, Membicarakan pelbagai kondisi bangsa ke depan. Seingat saya, Frans Seda sendiri, Emil Salim, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Radius Prawiro, JB Sumarlin,” pasti datang tepat waktu. Warternya pilihan. Gwe termasuk yang mengantar makanan di Toba Rotie Series, Hotel Borobudur, Jakarta

Previous Hormatilah Kebudayaan Warga Lain Kotamu di Indonesia
Next Biar Tahu Bedanya Amlodipine & Captopril

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *