Inilah saatnya memakai autdress maxi biar kelihatan modern, di hari tanks-giving meniru gaya penampilan mbokmu ketika selebritas Hollywood moncer namanya. Meski beralasan, lebih nyaman mengenakan longdress, berbulu-domba, biar keliatan hangat, toh kaum Abg gen ‘G’ tak mau ketinggalan. Meskipun mereka tak mengenakan pembalut tubuh ‘gloyor’ ngedabrux, toh mereka lebih demen mini-malis sangat pendek. Namanya juga hak-bicara dan berpenampilan di depan umum, tak banyak yang menggubris, toh paling kurang banyak orang tetap saja menoleh, bila Gen ‘Gie’ itu makai shotpan, pencilakan dimusim dingin, disamping ortunya.

Tentu hak ‘hidup’ dan bereksperiment dan berimajinasi ingin merdeka itulah, sejak dahulu warga masyarakat klas dunia tetap dicuekin. Kalian ingin menggenakan longdress berharga, jutaan menenteng tas-cangking ratusan juta, mereka tetap kalem. Sebaliknya bila warga masyarakat yang bersliweran, tentu di negri bersalju or setengah salju, seperti di Milan, Prancis –baca bukan Praci di negri mbahmu– or Amrix dan Blanda para ABG ‘Gen Gie’ justru malah pamer bokong, dan tetek-breatl menul sexy. Cuek saja. Coba saja mereka dledar dledher di pusat kota mall, makai outfit minimalis, tentu para pramuwisata dan orang yang ngeliatnya berdecak dan menoleh sambil bisik-bisik nyinyir
Bukan saja di negri berpenduduk sepi Scandinavia, yang seneng memakai pakaian ‘krubut‘ tertutup seluruh tubuhnya, tetapi di negeri-negri panas, pun acapkali juga tetap memakai outfit seperti itu. Sebaliknya, justru kaum muda-usia katakanlah anak baru bongsor, malah lebih banyak mengenakan pakaian minimalis. Pecicilan di tempat keramaian mall, atau malah berseluncur manggunakan icecating dorongan sikiel, kagak peduli jalanan membeku. “Persoalannya, yang lebih penting, ucar rekan kontributor sarklewer dot com di Moscow, Melanie Covanov, mereka mengejar kebebasan berpikir dan berpakaian. Perkara orang lain kagak suka, teserah asal tidak mengganggu, gwe di Moscow,” katanya

Menurutnya, di Moscow atawa di AS pun kehidupan bermasyarakat tak ada batasan-batasan normalitas seperti di negri mbahmu. Terserah kalian mau pamer bokong atau tetek, breast di depan khalyak umum, tidak ada yang mengganggu. Mau masuk ke mall atau ke kantor, makai mini-shirt sepanjang dirangkepin jacket jass formil tidak masalah. Meski nanti setelah itu, saat berada diruang rapat parlemen boleh-saja asal nanti dicopot, kemudian mengenakan rangkapan dalaman rock mini-abis yang dipakai.

Berbeda negri beda pula aturan main bila ingin bertemu dengan para pejabat pemerintahan. Nilai kesopanan dan keadaban, menurut Melanie Covanov, penting juga dijaga agar dirinya, tuan rumah, merasa dipandang dan dihargai dan dihormati. Dahulu, katanya menyuarakan masalalunya, sewaktu kami dan rekan-rekan ingin bertemu pejabat di kantor kebudayaan, menghadap pejabat pemerintahan di Soviet kala itu, memang diingatkan harus mengikuti aturan main pemerintah diktator kala itu. “Itu juga yang diingatkan keluarga rekan-rekan yang ikut audiensi dengan pejabat, harus sopan. Kalau tidak dinas intelgen, udah membayang-bayangi sejak kita belum jalan ke kantor, saat itu.” Kami mengikuti, setelah itu, demonstrasi lagi di luar gedung. “No problemo.”
Nah, berbahagilah kalian yang tinggal di negri 4 musim, sehingga bisa bergonta-ganti mengenakan pakaian semau-maunya. Dengan catatan, asal jangan sampai acara ikut demonstrasi kalian menggenakan jas resmi memakai pantalon saat membawa spanduk protes. Cukup pakailah topi gunung, biar kagak kepanasan ‘ndasmu’ saat bertereak di depan istana (tak)merdeka itu. Daripada nanti malah gobyos, kepanasan sewaktu demo, mendingan pakai kaos cap Swang atau Cap Daun, yang kini taklagi diproduksi. “Лучше не надевать в офис строгий костюм, а надеть футболку, чтобы впитывать пот.” Ngeyel terserah kamu, asal naiklah kendaraan seadanya, atau gunakan vespa, kendaraan para demonstras di Italia sana. Okay bro (nicole-from As | eddyjesoe-Solo)



No Comment