Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Ngebelain Nyopir Truk Sampah


Perjalanan karir meniti jenjang structural di pemerintahan dilakoninya berliku lebih dari 8 tahun lalu. Bukan ujug-ujug diserahi mandat pimpinan tertinggi Lembaga negara untuk menempati kursi dan membawahi staf puluhan pegawai berstatus PNS (Pegawai Negri Sipil) di Dinas Lingkungan Hidup (LH) Kota Surakarta. Sebelum berada di kantor LH yang adem, ia ditempatkan di pelbagai tempat selaras dengan kapasitasnya sebagai sarjana jurusan managemen perikanan.

Awal karirnya bahkan pernah menjadi pegawai di pemerintah kabupaten Boyolali, sebagai staf wira-wiri mengurus pelbagai persoalan selama lebih dari 4 tahun. Lantaran lebih dekat dengan keluarga yang berada di Solo, ia diizinkan berpindah ke Kota Solo. Tantangan pertama ketika berpindah dari bagian Bappeda (Badan Pendapatan Daerah) ke Dinas Lingkungan Hidup, dirinya diminta walikota untuk menyelesaikan korba meninggal kabrukan pohon di jalan raya.

Apa boleh buat, mengemudikan truk sampah pun dilakoninya

“Saya tidak mau tahu, selesaikan secara kekeluargaan pada keluarga korban. Itu bukan kesalahan secara personal maupun kelembagaan pemerintah, tapi memang kejadian alam. Siapa yang menyangka pohon bisa tumbang dan menjatuhi pengendara speda motor,” ujar walikota saat itu sambal menyerahkan ceque agar diserahkan pada keluarga, pada Kristiana Hariyanti, ditemui di kantornya

Kejadian itu, menurutnya tentu saja mengejutkan dan sebagai ujian yang harus dihadapi saat baru menjejakkan kakinya berada di pemerintah daerah Kota Solo dari Kabupaten Boyolali. Bukan hanya itu yang acap kali dialaminya, setelah menyelesaikan kewajiban korban kebrukan pohon. Mungkin bisa saja dibilan kait-mengkait dengan masalah pohon dan kebersihan kota, Kritina Hariyanti, ditempatkan sebagai ‘komandan’ kantor Lingkungan Hidup Kota Solo

“Tantangannya bisa dibilang nggilani. Setiap hari saya harus berada di lapangan mengecek tempat-tempat yang dinilai masyarakat kotor dan harus segera dibersihkan. Setelah ngurusi adminstrasi dan tanda-tangan, langsung ke lapangan. Melihat dari dekat seperti apa staf dan pekerja lapangan menangani sampah,” ujar dia.

Dirinya tidak hanya mengandeng staf petugas pencatat data sampah dan lokasi di lapangan. Meski kadang tidak ngomong dengan staf terkait, dirinya ngabur langsung ke TKP (Tempat Kejadian Perkara) dimana sampah mengunung daari laporan masyarakat. Apalagi setiap ada event besar maupun kecil mingguan seperti CFD (Car Free Day) dirinya mau tidak mau wajib berada di wilayah sepanjang Jalan Slamet Riyadi sehabis acara

Mengawal truk pengangkut sampah di jalan utama kota Solo harus bersih

Pernah suatu saat, pengemudi truck klekaran lantaran kecapaian setelah bertugas berhari-hari di lapangan, dirinya bawa sendiri truck sampah ke tempat tujuan mengangkut sampah dan dibawa ke TPA di Putricempo. “Ibu mau kemana,” tanya sopir kantor saat itu. Tidak kemana-mana, mau pinjam kunci bawa sendiri truk itu. Dipikir saya tidak bisa bawa truck sampah.”

Membincang posisi sebagai Kepala Dinas Lingkungan Hidup,banyak pihak memandang enteng bila diberi kesempatan menjadi lokomotif kebersihan jalanan. Mernurut mereka pekerjaan sapu-menyapu membersihkan area yang menjadi kewenangannya, siapapun tentu dapat melakoninya dengan baik. Pendapat, katakanlah semacam nyinyir, kalau boleh dibilang seperti itu, acap terdengar menyakitkan. Siapapun yang mendengarkan, bukan hanya dari kalangan seprofesi PNS, tetapi juga cuitan nyinyir dari warga masyarakat.

“Ngurusi sampah saja apa susahnya. Tinggal perintah ke pegawai lapangan petugas kebersihan jalan dan pengangkut makai truk. Selesai. Jadi apa sulitnya,” kata Kristiana Hariyanti, terlihat geram, “mereka tidak tahu keadaan sebenarnya betapa kalut dan jengkelnya kami di LH mendengar cemo’ohan seperti itu. Bagaimana tidak, petugas di lapangan secara keseluruhan 68 orang. Berbeda dangan bagian lain.”

TPA (tempat pembuangan akhir) Putri Cempo sejak puluhan tahun makin menggunung

Ia menambahkan, kekeliruan fatal ketika komunitas lembaga lain hanya memandang negatif pada dinas lingkungan hidup yang ngurusi persampahan. Padahal tidak seperti itu, mestinya kala menilai OPD (organisasi perangkat daerah) di sebuah lembaga negara. Mereka, entah lembaga lain atau perangkat daerah di tempat lain, tidak memandang sisi positifnya. Bayangkan saja, berapa jumlah para pegawai harian yang bekerja setiap hari, dengan jam tertentu harus berada di jalanan, mengawasi sampah dan membersihkannya.

Mereka tidak pernah membayangkan kekurangan bapak-bapak pembersih jalanan dan membawanya ke TPA Putricempo. Orang-orang lain’kan bisanya cuma nyacacat. Mengkritik boleh saja dan sah, justru itu bagus bagi kami. Mereka tidak tahu, kalau pegawai harian itu, kalau sakit dan tidak masuk kerja ke rumah sakit. Mestinya yang adil dong menilainya. “The challenge can be said to be crazy. Every day I have to be in the field checking places that people consider dirty and must be cleaned immediately. After taking care of administration and signatures, go straight to the field. Look closely at how the staff and field workers handle waste,” she said.

Mestinya gunungan sampah bisa dikelola sebagai energi listrik tenaga sampah

Previous Genre Art Deco Karya Seniman Patung Solo, Adakah?
Next Siapa Mau Halan-Halan ke Gereja Orthodok di Negri Komunis Rusia

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *