Tidak hanya orang luar negeri yang gemar makan steack mentah terpapar penyakit yang disebabkan bakteri kolibaktrin menghajar usus besar kalian. Tentu bagi orang yang senang masakan daging panggang mentah or setengah matang. Kebiasaan itu menjadi “rumah” bagi berjangkitnya bakteri kolibaktrin yang ngadem cari aman makan gratis, di usus besar. Jangan anggap enteng, meskipun exinobacter di dalam usus besar tubuh, besarnya hexa milimicron, toh tetap saja dapat berkembang biak di dalam. Apalagi disuplay makanan bergizi, [baca: bukan MBG maem bareng gerobak] di negri mbahmu nanti, tapi memakan daging mentah dikunyahnya tidak lembut, jelas menjadi penyebab utama merebaknya kanker di usus besar wadukmu.
Persoalannya, kalau di negri teknologi kedokteran tak secanggih di AS, Jeman dan Inggris, buat ngeliat zasat renik micro-bakterium di usus besarmu, sulitnya minta ampun. Selain harus diinceng memakai peralatan khusus, dimasukin selang lewat mulutmu hingga bisa dilihat bakteri-bakteri itu sedang gemar makan gratis di usus besarmu. “Bukan itu saja, yang menjadi kekawatiran para dokter dan peneliti yang mencari penyebab utama mengapa justru di usus besar menjadi tempat bancakan makan bersama bakteri, paling ganas mekan gratis,” ujar salah satu peneliti itu. Itulah yang menjadi pertanyaan besar para dokter dan peneliti, kenapa terjadi peningkatan kaner usus besar, justru pada orang muda usia,” katanya.

Para peneliti dengan serius, telah bekerja berbulan-bulan hanya untuk mengidentifikasi penyebab semakin banyak penderita kanker di usus besar mereka. Tentu tidak mudah, membuktian tesis bahwa ternyata sel darah putih makrofag, ternyata dihancurkan oleh toksin yang dilepaskan oleh bakteri E coli. Beberapa galur E. coli melepaskan kolibaktin, toksin yang memporak-porandakan DNA sel. dan dapat berkontribusi terhadap perkembangan kanker kolerktal.
“Makanya, banyak orang yang tidak berhati-hati mengunyah makanan daging mentah, dan dikunyah tidak halus menjadi santapan lezat bakteri. Itulah penyebab kenker kolerektal di usus halus kalian. Jangan heran bila kami menggunakan mikrograf elektron pemindai berwarna dari sel darah putih makrofag juga,” katanya penulis. Tanyain ajah tuh sama Steve Gschmeissner, yang mengeksekusi photo lewat mikrograf, dandiunggah di Science Photo Library. Enggak usah ngeyel, kalau ndak dong, diem saja. “Bakteri itu apa juga bisa di makanan lawas, dari jatah MBG?” I ‘dont know what correlation E collie with MGB,” Alisa Hrustic said

Kanker kolorektal patut Anda waspadai: Saat ini, satu dari lima kasus yang terdiagnosis terjadi pada orang di bawah usia 54 tahun, menandai peningkatan sebesar 11 persen pada kelompok usia ini selama dua dekade terakhir. Apa sebenarnya yang memicu lonjakan jumlah pasien yang lebih muda tentu telah membingungkan para ilmuwan dan tenaga medis profesional. Menurut Alisa Hrustic, selama bertahun-tahun, para ahli menduga kolibaktrin, semcam toksin yang diproduksi E coli dan bakteri lain sebenarnya telah diketahui dapat merusak struktur DNA.
“Kini, sebuah studi baru yang diterbitkan di Nature telah mengidentifikasi hubungan kuat antara paparan kolibaktin pada masa kanak-kanak dan kanker kolorektal pada pasien di bawah usia 40 tahun,” ujar penulis di jurnal ilmiah bakteriologi di tiga negara. Kami, para peneliti profesional, kemudian memperluas pemahaman tentang pengaruh mikrobioma terhadap perkembangan kanker kolorektal. Terutama fokus pada bagaimana kolibaktin dapa membuka jalan bagi deteksi dini dan strategi untuk pencegahanny. Itu hal yang paling penting dari hasil research tim kami.”

Apa yang ditemukan peneliti pada pasien kanker usus besar. Para peneliti awalnya merancang studi ini untuk mengeksplorasi secara luas mengapa orang-orang di berbagai negara mengembangkan kanker kolorektal pada tingkat yang berbeda, sehingga pengamatan kolibaktin “agak kebetulan,” kata penulis utama studi Ludmil Alexandrov, seorang profesor kedokteran seluler dan molekuler di University of California, San Diego.
Ia dan timnya menganalisis sampel darah dan jaringan dari tumor hampir 1.000 pasien kanker kolorektal di 11 negara, termasuk Kanada, Jepang, Thailand, dan Kolombia. Mereka menggunakan teknologi pengurutan DNA untuk mengidentifikasi mutasi seluler, atau perubahan genetik yang dapat membantu kanker terbentuk, tumbuh, dan menyebar. “Berbagai karsinogen meninggalkan pola mutasi yang khas ini, yang kami sebut tanda mutasi,” jelas Alexandrov. “Contoh paling sederhana adalah jika Anda merokok, Anda akan mendapatkan pola mutasi spesifik di seluruh sel paru-paru Anda.”

Alexandrov dan timnya menemukan bahwa orang yang didiagnosis kanker kolorektal di bawah usia 50 tahun memiliki “pengayaan yang mencolok” mutasi yang terkait dengan kolibaktin. Semakin muda usia seseorang, rata-rata, semakin tinggi prevalensi tanda-tanda ini. Mereka yang didiagnosis kanker kolorektal di bawah usia 40 tahun sekitar tiga kali lebih mungkin mengalami mutasi yang dipicu oleh kolibaktin dibandingkan mereka yang didiagnosis setelah usia 70 tahun.
“Ketika kami mengurutkan kanker, kami melihat catatan arkeologis tentang segala sesuatu yang terjadi dalam hidup orang tersebut,” kata Alexandrov. Artinya, para ilmuwan dapat memperkirakan perkiraan waktu kapan mutasi tertentu terjadi di usus.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan kolibaktin pada partisipan terjadi sebelum mereka berusia 10 tahun. “Serangan” dini pada mikrobioma usus ini tampaknya membuat orang 20 hingga 30 tahun lebih cepat terkena kanker kolorektal, kata Alexandrov. Alih-alih didiagnosis pada usia 60-an atau 70-an, mereka menghadapi penyakit ini pada usia 30-an atau 40-an.
Cynthia Sears, pakar penyakit menular dan profesor onkologi di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins, yang tidak terlibat dalam penelitian ini, meyakini penelitian ini dilakukan “dengan cermat dan menyeluruh,” tetapi juga menyisakan pertanyaan yang belum terjawab. “Kami tidak memahami biologi organisme ini dan keadaan yang memungkinkan mereka bermutasi,” ujarnya.

Alexandrov setuju. Ia mengatakan studi baru ini menunjukkan “hubungan yang kuat” antara paparan kolibaktin pada masa kanak-kanak dan kanker kolorektal dini. Namun, membuktikan bahwa kolibaktin benar-benar menyebabkan kanker kolorektal akan “sangat rumit.”
Bagaimana kolibaktin dapat menyebabkan kanker kolorektal. Kolibaktin adalah genotoksin—anggap saja sebagai senjata yang digunakan bakteri tertentu untuk melindungi diri dari mikroba lain. Para ahli berteori bahwa, pada beberapa orang, bakteri ini menjadi dominan dan kemudian mulai melukai inangnya, jelas Alexandrov. Setelah mereka mengkolonisasi usus besar, mereka dapat menempel pada jaringan sehat, menyerang sel, dan menghasilkan mutasi DNA.
Namun, tidak semua orang dengan bakteri penghasil kolibaktin berakhir dengan kanker kolorektal—perkiraan menunjukkan 20 hingga 30 persen orang memiliki strain ini. Jadi, apa yang mendorong bakteri tersebut menjadi ganas pada individu tertentu? “Kami pikir ada sesuatu yang terjadi yang memberi mereka keunggulan dibandingkan bakteri lain,” kata Alexandrov. Kanker usus besar meningkat di kalangan dewasa muda. Berikut tanda-tanda yang perlu diwaspadai.
1. Sembelit. Apabila BAB Anda relatif lancar setiap hari, feses lunak, tidak berdarah, maka kondisi tersebut normal. Tapi sebaliknya, apabila merasakan sembelit atau konstipasi sampai feses berubah bentuk dan berdarah, kondisi ini patut diwaspadai karena bisa mengindikasikan kanker usus. Terlebih jika Anda tidak BAB lebih dari 4-5 hari sampai harus menggunakan obat pencahar, segera memeriksakan diri ke dokter.
2. Sering diare
Sering diare dalam waktu yang berdekatan bahkan bentuk feses sangat cair disertai rasa tidak nyaman berlebihan di bagian atas pusar juga perlu diwaspadai. Sebab ketika Anda sering diare, itu berarti terdapat pertumbuhan tumor dalam usus sehingga terjadinya penyempitan dan feses berubah bentuk kecil-kecil. Umumnya diare ini bersamaan dengan rasa mulas yang menyiksa, merasa lelah, sampai perut bergas.
3. BAB berdarah
Ciri kanker usus selanjutnya adalah BAB berdarah. Kondisi BAB berdarah kerap disalahartikan dengan gejala wasir karena sama-sama mengeluarkan darah pada tinja. Jadi jaga kesehatanmu (courtesy gastrology medical refrence & books refrences)


No Comment