Bukan sekedar bunga bibir, ungkapan TTM yang kini menjadi gejolak kegaduhan di dalam ruang keluarga, tetapi juga telah lama merangsek dunia politik. Bagi yang mengalami, awalnya tidak dirasakan adagium kembang lambe –dalam tradisi jawa, diartikan sebagai buah bibir. Biasanya menjadi omongan kang ora becik.
Toh nyatanya istilah teman tapi mesra (TTM), dalam adat tradisi pergaulan nyata di era modern saat ini tak lagi menjadi sebuah idiom yang sulit ditebak maknanya. Jelas sudah, kemungkinan besar, makna sesungguhnya telah menyimpang adat tradisi kenormalan sebagai jalinan persahabatan dan pergaulan antar-manusia layaknya berteman normal.

Cilakanya, ungkapan TTM dalam era sangat modern sulit menelisik jejak awal-mula mengapa hal itu bisa terjadi dan sukar diketahui dengan cepat. Bagaimana mungkin, misalnya sesorang yang baru berkenalan, lantas dengan mudah mengaku, tidak terjadi apa-apa lantaran argumentasinya ia adalah teman akrab. Bagaimana mungkin bisa dituduh yang bersangkutan telah berlaku tidak senonoh menjadi teman berselingkuhnya.
Meski dibantu teknologi satelit tercanggih sekalipun yang dapat mendeteksi jejak pertemanan dan ketemu di suatu lokasi, toh awalnya memang perselingkuhan itu sulit dibuktikan. Kecuali meninggalkan bukti, paling kurang harus ada dua fakta di suatu kejadian perkara, layaknya apparat menemukan fakta yang bersangkutan pernah melakukan pertemuan dan berlanjut, di suatu tempat, setiap hari, misalnya

Coba saja tanyakan, pada mesin mencari, arti sebenarnya dan penyebab hubungan TTM yang dituduhkannya itu memiliki bukti adekuat tak terbantahkan. Rasanya mesin penjawab, berangka analog –‘nol’ dan ‘satu’ yang mengisyaratkan bahwa angka tersebut mengidentifikasi ‘ya’ dan ‘tidak’ dalam pemrograman digital artificial intelegent alias AI pun tak mau menjawab dengan mendetail.
Tentu hal tersebut, bila memang Anda ingin membuktikan tuduhan, dengan bukti-bukti kuat, ajaklah apparat yang mampu untuk melakukan penyidikan dan penyelidikan kasus tersebut agar dapat dilakukan pembuktian dalam pemeriksaan. “Jangan bilang that a piece of cake,” dihadapan penyidik kepolisian. Tidak mudah bro. Paling banter, kalian hanya bisa mengeluh, thet better late than newer, untuk mengetahuinya. Lantas apakah hal itu selesai?

Mbuh entahlah. Ndak usah tanya Gustiallah, tambah runyam. Lha wong situ aja kagak kenal gustiallah, kowk nanya Dia. Aneh. Break a leg. Biar saja jadi buah bibir, biar semua masyarakat mengetahui, berselingkuh itu kagak nikmat and bisa deg-degan setiap hari. Itu kalau kasusnya personal, lha kalau perselingkuhan itu melibatkan persekongkolan tingkat tinggi terkait dugaan penyelewengan korupsi, kolusi dan nepotisme, para pejabat gimana coba? Lebih gampang, bisa tawar-menawar uborampe penyelesaiannya. Okleik


No Comment