Mengenang sosok sang begawan seni tari, tentu tak dapat dipisahkan dengan sang legendaris pendiri Padepokan Lemah Putih, Mbah Prapto, yang wafat pada Minggu 29 Desember 2019 tahun lalu. Gagrak kontemplatif yang ia sebut sebagai Joget Amerta, tentu tak mungkin sirna lenyap dalam kurun sekejap. Karya-karyanya jelas mengilhami banyak kalangan seniman tari di seputar kota budaya Solo, namun juga dipahami para seniman lain, terutama di luar nengara Indonesia. Untuk mengenang sosok Sang Maestro, tari dan seniman kondang Soeprapto Suryodarmo itulah, Institute for Media and Social Studies (IMSS) menurunkan sosok dirinya, secara khusus dalam naskah orbiturary
Sewakatu masih sugeng, berulangkali, crew sarklewer.com menjumpai mbah Prapto, di kalangan seniman Solo, wedar kaweruh seni tari. Menurutnya, kesenian tidak dapat berdiri sendiri, sebab dalam kesenian perlu keterampilan dan pengetahuan inderawi. Bukan sekedar olah tubuh, beladiri tetapi meresapi ajaran manunggaling-kawulo-gusti dalam gerak dan tari. Hal pengetahuan dasariah spiritualitas itulah yang dilakoni dan diajarkan Suprapto Suryodarmo akrab disapa Mbah Prapto, pada murid-muridnya. Ditemui di candi Sukuh dalam pagelaran tahunan ke-16 kali, sebelum meninggal beberapa tahun lalu, seniman kondang itu bertutur panjang lebar pengalamannya.

Kiprahnya dalam berkesenian dilakoni hingga melintasi beberapa benua dan negara, Mbah Prapto tetap tampil sederhana dalam kesehariannya. Sebab menurutnya, dalam berkesenian tidak perlu ada pembedaan kasta. Meskipun pengalaman dan kemampuan menuangkan gerak-tari, diakuinya merupakan takdir sejak lahir, dirinya tak menganggap lebih tinggi derajadnya dari liyan.
“Saya lahir di Kemlayan. Kemlayan, kampung yang dulunya tempat tinggalnya para empu-empu karawitan. Karawitan itu musik tradisional Jawa. Kalau mau dibilang bakat yang saya miliki adalah pembawaan sejak lahir,” papar Prapto.
Sejak berkiprah sebagai seniman beberapa karya fenomenalnya pernah menjadi pembicaraan banyak orang. Seperti pada tahun 1966, Prapto mendirikan Barada (binaraga budaya). Di Barada itulah Prapto memberi pelajaran kepada anak didiknya tentang latihan menari, meditasi, olahraga dan beladiri. Prapto sengaja menggabungkan olahraga, beladiri dan tarian. Menurut dia salah satu tujuannya tak lain, menjaga keseimbangan dari masing-masing aktifitas dan kegiatan. “Memang harus ada semacam keseimbangan antara kesenian maupun olahraga juga kebudayaan dalam arti luas,” ujar dia.
Karya lainya yang digarap bersama seniman pada tahun 1974-1975 yakni membuat Wayang Budha. Pertunjukan Wayang Budha, menurut dia, sebenarnya merupakan pentas gaya baru yang menggabungkan seni rupa, musik dalam dari pentas sifatnya lebih dari seni tari, tapi ritual.

Sebagai seorang seniman, Prapto juga pernah menjadi staf di ASKI yang kemudian berubah menjadi STSI dan terakhir ISI. ”Disamping menjadi wakil ketua ASKI, saya mengajar olah tubuh di jurusan tari. Kemudian tahun 82 saya diajak Sardono dan teman-teman yang lain ke Kohln Jerman, melakukan pementasan di festival pantomim internasional,” kenang Prapto.
Sewaktu di Kohln, Prapto bertemu dengan Teguh Ostenreicht, seorang perupa asal Indonesia yang tinggal di Kohln. Di Kohln itu Prapto juga bertemu dengan Christina Stelzer. Prapto menjadi cepat akrab karena ada kesamaan dalam melakukan olah tubuh dan berkesenian.
“Dari arahan gerak bebas, latihan vipasana dan latihan pengendoran yang dilakukan sumarah, ternyata saya cocok. Saya juga kenalan dengan Marcel Roberts dari Swis yang ngajak saya bergabung sebagai teman latihan. Dari Kohln kemudian saya di ajak ke Perancis, Swis dan disana juga ketemu orang-orang yang cocok untuk pendekatan gerak bebas, vipasana dan pengendoran. Nah dari situlah kemudian, setiap tahun sejak itu 83, 84, 85 saya diundang ke Swiss kemudian ke Jerman untuk mempelajari apa yang saya latih,” kenang Prapto.
Dari perkenalannya itulah kemudian Prapto sering diundang dan di minta memberikan latihan olah tubuh yang tidak mengindahkan pakem atau aturan yang selama ini berlaku dalam melakukan olah tubuh. Layaknya seseorang yang tertidur menurut Prapto, kadang dia ngulet. Kadang ngulet itu di jadikan sebagai guyonan. Tapi mereka sering lupa bahwa ngulet itu seperti charge.

Filosofinya ujar dia kala itu, ketika manusia lahir dia tidak bisa apa-apa, setelah mengalami perkembangan kemudian merangkak. Setelah bisa merangkak, kemudian bisa duduk dan berdiri, berjalan. Jadi ada tahapannya, jelas Prapto. Dari perantauannya ke beberapa negara itulah kemudian Prapto mengaku telah banyak pengalaman yang di dapatnya. Meski dirinya di undang sebagai narasumber tapi Prapto mengaku banyak pengalaman baru yang di dapatnya.
Dalam pertemuan itu kita lebih banyak sharing. Jadi kalau saya mengajar, karena sifatnya lebih kepada pribadi-pribadi, mereka yang berkembang dan saya harus mempelajari gerak mereka. Itu saya lakukan dengan melihat cara duduk, berjalan dan turun. Dari situlah kemudian saya memberikan usulan-usulan atau sentuhan. Dalam perantauannya itu Prapto mengaku tidak melakukan keiatan di tempat-tempat yang di biayai oleh pemerintah setempat. Tapi dilakukan di tempat yang dibiayai oleh swasta.

“Umpamanya di Kohln, di sana saya di Culture Contact atau semacam hall. Kemudian di Hamburg, yang ikut justru bukan dari kalangan akademik. Hampir semuanya kebanyakan hidup dari workshop-workshop yang ada dan dilakukan oleh masyarakat. Kalau di sini misalnya ada aerobik, ada senam sehat atau apa lah namanya. Dan disana terdiri dari bapak-bapak, ibu-ibu atau pemuda dan pemudi yang umumnya lulusan atau sedang belajar,” jelas Prapto.
Dari kelompok-kelompok itu kemudian, lanjut Prapto, beberapa tahun kemudian terbentuklah sirkulasi yang diorganisir oleh mereka, dan dia di undang sebagai “guru”. Kota-kota yang telah didatanginya di Jerman diantaranya Kohl, Hamburg, Berlin. Kemudian Amsterdam, Inggris, Will, London dan Leicester.
Jaringan dari kegiatan workshop itu bisa dibilang hampir kesemua benua dan negara. Meski demikian menurut Prapto, yang pernah menggelar latihan di depan Piramid itu, kegiatan pementasannya tetap di lakukan di Korea dan Jepang. Kemudian pada tahun 1986, Prapto membuat padepokan yang diberi nama Padepokan Lemah Putih. Di padepokan itulah kemudian lahir komunitas yang di sebut Sharing Movemen.
Dalam bentuk gerak, jadi ada dua titik yang menjadi titik tumpu. Kedua titik tumpu itu dinamakan performance Ritual Art dan Human Nature ritual art. Kedua titik tumpu itu sifatnya lebih pada mengolah dirinya sendiri seperti Dewa Ruci yang mengolah dirinya sendiri. Kemudian Bima, untuk menemukan Tirta Merta untuk menemukan pencerahan, ya harus banyak cerita-cerita.

Sebagai hasil dari padepokan Lemah Putih, murid-murid datang itu setelah belajar satu bulan, pada hari-hari terakhir ada yang namanya open day. Dalam open day itulah kemudian mereka menyajikan hasil workshop. “Tahun 1995 di padepokan itu pernah dilakukan satu pagelaran dan di Bali pada tahun 1997,” jelas Prapto.
Selain itu, Prapto juga pernah di minta bantuannya oleh Pemerintah Kabupaten Karanganyar dalam rangka menjadikan Gunung Lawu sebagai taman budaya gunung lawu. “Taman budaya di kota dan gunung lawu itu punya sejarah panjang dan juga perlu perhatian karena banyak hutan lindung yang hilang, lingkungan hidup disana rusak,” tambahnya.
Sehari sebelum wawat, sebenarnya perhelatan tari di pelataran Candi Sukuh yang ke-16 kali akan digelar. Tetapi sang pemilik kuasa atas alam semesta dan seisinya memanggil dia menghadap Sang Kalik berpentas di alam nirkasatmata. Selamat jalan guru


No Comment