Kekeliruan terbesar anggapan masyarakat bahwa para penyandang difabilitas lantaran akibat kutukan Gustiallah. Bagaimana mungkin sang pencipta alam semesta seisinya mengutuk ciptaanya berbeda dengan yang lain, sehingga kehidupan mereka mengalami hal, bisa jadi, yang tak diinginkan orang tuanya. Maupun dalam pergaulan antar sesama anakpun menemui keterbatasan.
Mari kita lupakan penyebab mengapa para penyandang difabilitas mengalami hal demikian dalam demikian. Secara ringkas, dalam dunia kedokteran, kelahiran cacat -dalam bahasa diperhalus disebut difabilitas itu- terjadi sebelum “persekongkolan” embrional antara seltelur dan sperm, tidak normal seperti harapan, tetapi malah terjadi mutasi genetik. Padahal harapnya kelahiran anatomis fisik-nonfisik sebagai human being kurang sempurna. Itulah para kaum cerdik pandai fisio-anatomis menyebut Down Syndrom

Meski demikian para penyandang down syndrom pada dasar prinsipnya masih bisa melakukan aktivitas keseharian antar sesama mereka. Sehingga memicu rangsang jaringan sel-sel saraf otak agar tetap “hidup” terjaga menumbuhkan daya kreativitas tertentu.
Tentu saja agar anak-anak down syndrome tetap tumbuh dan berkembang psikologis memerlukan perhatian para pengawas dan pendidik tersesuaikan dengan kemampuan anak down syndrome. Rasa-rasanya, tidaklah keliru bila para penyandang kelebihan fasilitas meningkatkan peranserta memberi perhatian dengan serius pada mereka.
Memberikan fasilitas edukasi sesuai kebutuhan dan keperluan yang dapat memicu daya kreativitas syaraf otak kepada mereka menjadi hal sangat penting. Tentunya menjamin ketersediaan makan dan minum gizi tinggi, tak kalah pentingnya. Menjamurnya lembaga-lembaga yang secara khusus menjamin keperluan “asrama” bagi merekapun jelas patut diacungi jempol.

Hal lain yang tidak kalah penting yaitu guru pendamping para down syndrom melakukan aktivitas di dalam maupun di luar asrama mereka. Tanpa guru pendamping pengajar, melatih mereka, yang dengan sukarela memilih ‘ngajari’ anak down syndrome, tentu bukan hal yang pantas disepelekan kesejahteraannya.
Lihatlah ketika para pendamping mengajari anak down syndrome berperilaku baik, gerak jalan dan bersosialisasi dengan warga masyarakat, mereka dengan sabar dan tekun membimbingnya. Memang acapkali pendamping menggunakan suara keras pada salah satu anak, misalnya, lantaran memang si anak tersebut pendengarannya terganggu. Meski demikian mereka tidak pernah menggunakan tindak kekerasan. “Ndaklah mas kalau kami memakai kata kasar dan ringan tangan,” ujar Ratih, dari YPAC (yayasan penyandang anak cacat) ditemui di acara bersama para defabelitas di CFD (car frew day)



No Comment