Bila Anda berada di tengah sawah, dan melihat kegigihan para petani sedang melakukan pengeboran, di beberapa tempat di Indonesia, jangan heran. Mereka bukan melakukan pengeboran mencari minyak tanah sebagai bahan bakar. Keliru bila Anda berikiran seperti itu, yang benar warga melakukan mengeboran untuk memperoleh air bersih. Lihatlah kegigihan para petani untuk mendapatkan air bersih untuk rumah tangga, sekaligus mengairi sawah ‘tadah-hujan’ disaat kekeringan panjang di musim kemarau seperti saat itu.
Bila sedang melihat para petani dan masyarakat di sekitar wilayah kabupaten kota Sragen, bau-membau mengupayakan pencarian sumber air di tengah sawah, jangan kaget. Mereka jelas sedang berburu mencari sumber mata-air ditengah sawah. Saat kondisi kemarau panjang, itulah hampir sebagian rumah di negri 4 musim, seperti di Indonesia, tentu pelbagai upaya mencari sumber kehidupan, air baku dari alam untuk kehidupan warga masyarakat setempat

Bukan hanya di daerah Gunung Kidul, yang dulunya dikenal kering-kerontang, warga dusun di pinggiran selatan Jogyakarta, dengan sigap mengadu pada pemerintah daerah, agar menyediakan air bersih untuk kehidupan, sehari-hari. Tidak hanya itu, warga pun berupaya sendiri bergotong royong mencari “umbul” air artesis bawah tanah di hamparan perbukitan dan tengah sawah, bila masih memungkinkan.
Mereka dengan gesit telah juga telah melakukan pengeboran di bergai tempat dengan bantuan penyediaan alat untuk melakukan pencoblosan tanah. Ternyata berhasil dan mengagumkan. Wilayah Gunung Kidul pun kini tak lagi sebagai wilayah yang dicap sebagai kekurangan air. Mereka boleh berbangga hati, wilayah di daerahnya bisa dikatakan saat ini subur makmur, hijau royo-royo penghasil air dari perut bumi

Keberhasilan di wilayah selatan, Jogyakarta itulah yang menjadi rujukan wilayah lainnya seperti di Juwog, kecamatan Sukodono, kabupaten Sragen, Jawa Tengah yang seringkali kesulitan mendapat air bersih, bila tidak melakukan pengeboran tanah di tengah sawah. Keberhasilan dan kenekatan warga petani itulah yang mendapat acungan jempol dari pemerintah pusat.
Bahkan, seiring dengan agenda World Water Forum (WWF) 2025 di Stockholm, Swedia, dalam ajang pamer keberhasilan di panggung dunia atas keberhasilan menyediakan air bersih merupakan kunci utama yang harus diatasi, menteri luar negri, Utusan Khusus PBB bidang Air, Retno Marsudi, menyerukan pentingnya kolaborasi global untuk mewujudkan akses air bersih dan sanitasi layak bagi semua. Termasuk bantuan bagi warga masyarakat kelompok petani yang menginginkan pasokan air bersih dari perut bumi dengan mengebor sawah

Retno Marsudi memamerkan, keberhasilan pencari stock air baku bersih yang dikandung bumi, di berbagai tempat seperti di Gunung Kidul dan di Sragen, mendapat sambutan berbagai negara lain. Para peserta WWF dari berbagai negara mengacungi jempol upaya yang telah dilakukan warga Indonesia berjibaku mendapatkan air bersih untuk sanitasi dan kehidupan rakyat, dengan dukungan pemerintah daerah setempat
Bukan hanya pemerintah daerah yang terjun langsung memberikan bantuan pada warga desa untuk memperoleh air bersih di daerah-daerah terpencil, Pertamina melalui CSR (coorporate social responsibility) pun diterjunkan segera merealisasikan penyediaan air bersih. Tak bisa dibayangkan, kegembiraan warga memperoleh pasokan air bersih atas bantuan Pertamina memfasilitasi pengeboran tanah sawah hingga mengucurkan air bagi kepentingan warga desa.

Ditemui terpisah, President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fadjar Djoko Santoso mengatakan Pertamina memiliki beragam program TJSL di berbagai wilayah di Indonesia. Pertamina juga menggandeng banyak pihak, sehingga dampak program (TJSL) tanggung jawab sosial lingkungan, dapat lebih terasa dan berkelanjutan.

“Pertamina berkomitmen untuk memberi kontribusi pada masyarakat,” tandas dia. “Selain melalui penyediaan energi, juga program sosial, yang diharapkan mampu mendukung Pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian nasional.”
Sementara itu, mayoritas penduduk setempat yang lahannya dijadikan pengeboran untuk memperoleh air baku, merasakan kegembiraannya. Mereka dengan leluasa dapat mengunjungi tempat memperoleh air minum tanpa dipungut bayaran sedikitpun. Hanya saja agar tidak terjadi kesalahan hingga menyebabkan pompa air rusak, warga dusun sepakat patungan untuk biaya perawatan mesin. Menurut kepala dusun Juwog, sepakat nantinya warga akan diajak rembukan mengenai biaya perawatan rumur bila terjadi kerusakan. “Terserah warga nantinya ingin berpatungan gotong royong untuk ngerawat bor yang ditancapkan di lahan tersebut,” ujar Edy Sulistyawan, pengurus desa setempat. Lebih lanjut dia menyatakan, dirinya telah mendengar keinginan warga desa, tidak keberatan berpatungan untuk perawatan sumur bor.
Mengingat sumur bor yang ditanam di salah satu tempat di daerah persawahan, ujar Edy Sulistyawan menambahkan, nantinya akan ditambah pengeboran baru seperti yang dijanjikan Pertamina. Mengingat saat ini pengeboran sumur, baru digarap penancapan di satu lokasi. Menurut tim teknis hidrologi untuk memastikan keheginitasan air yang dibor dalam tanah tidak tercemar. Semuanya, ujar salah satu penanggungjab program CSR-Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, memastikan semuanya telah diucjicobakan keakuratan kandungan air dari sawah yang dibor dapat diminum. “Tanpa kecuali. Tidak ada yang mengandung zat yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Semua bagus, dan bisa digunakan,” ujarnya. Barangkali nantinya akan dikembangkan melakukan pengeboran sumur di sawah, di lokasi lainnya di Sragen.

(Bram Selo / Eddy Je Soe)


No Comment