Menyemai Masalalu di Hutan Pinus Mojosemi


Bergelayutan di kerimbunan pohon seluas 400 m dengan ketinggian 10 m memang menantang, asal tidak jantungan

Sesekali pergilah berlibur diantara pepohonan pinus besar nan tinggi di perbukitan lereng Lawu. Dengarkan desau nyanyian daun tertiup angin, menambah perasaan damai tersiram secara alami. Apalagi bila ingin meluangkan waktu berjalan menyusur hutan Mojosemi Forest Park atau sekedar berkongkow-kongkow di bungalow terbuka semuanya ada di sana.

Jangan takut dicaplok Dinosaurus di Forest Park Mojosemi sembari mendengar nyanyian alam

Tidak hanya itu, berbagai spot di taman rekreasi yang berlokasi di Jalan Raya Telaga Sarangan, Kecamatan Plaosan, tentu tidak akan merepotkan njujug ke dalam obyek wisata buat ngademin pikiran kusut. Ada baiknya bila Anda ingin bercengkerama dengan anak dan cucu kesayangan ajaklah biar gojek dengan Dinosaurus dan T-Rex.

“Meski hanya replica Dinosaurus dan T-Rex, keduanya bisa diajak bercanda. Meski pun terbatas aksi menggerak-gerakkan kaki dan tangan. Namanya juga asesoris mainan mekanik, toh bisa buat selfe,” ujar Andik salah satu pengelola Mojosemi, Minggu (5/5).

Tiket masuk ke kawasan Mojosemi pengelola memungut biaya masuk Rp.20.000 dewasa dan anak-anak Rp.8000. Sedang karcis parkir mobil dipatok Rp.5000 sedangkan motor Rp.3000.

Rasanya tidak terlalu mahal terjangkau, ujar Mardewi anggota rombongan reoni, dengan tiket yang dipatok pengelola sebesar itu. Fasilitas lain di dalam objek wisata juga lumayan bagus. Bila ingin berkemah sekaligus menikmati air terjun Tirtomojo, tidak ada yang ngelarang. Atau ingin berseluncur gantungan di atas tali, flying fox pun silakan, asal jantungnya sehat.

Kali ini temu kangen reoni ex SMA3 Warmir Solo ngadem di hutan pinus Mojosemi

“Enggak mahal. Kalau mau naek Jeep lumayan Rp.160 ribu isi empat orang. Patungan juga terjangkau. Emang mau jalan kiterin kawasan seluas itu, gempor aja,” katanya, “kawasan wisata’kan di Solo tidak punya. Apa boleh buat jalan-jalan ke luar.”

Melintas di antara pepohonan pinus besar dan menjulang bukan hanya terdapat di lereng Lawu. Bahkan di beberapa daerah, misalnya di Brexit, Gunung Kidul, Bantul, Jogyakarta yang dulu pernah dikunjungi mantan presiden AS Barack Obama, maupun di perbukitan Candi Cetho, maupun Bogor dan tempat plesir lain di pelbagai penjuru negeri.

Pemanfaatan wisata hutan tampaknya banyak dinikmati para pencari ketenangan. Trend berwisata di rerimbunan daun dan pohon besar seolah menjadi inspirasi kenyamanan melupakan bising keseharian bukan hanya ngetrend pelancong di dalam negeri, tetapi juga lagi digandrungi wisatawan di negara lain.

Hanya saja di negara lain, nginep bercamping ria di keteduhan hutan wisata, telah menjadi jadual keluarga berlibur seusai bekerja keras seharian. Tidaklah mengherankan bila camp dengan mengelar tenda berderet-deret di alam raya di waktu liburan merupakan atraksi nyantai keluarga. Gelak-tawa dan bernyanyi bareng di luar tenda pun biasa dilakukan para penikmat wisata di alam wisata.

Menikmati rerimbunan pohon di hutan hutan tropis di Mojosemi sesekali perlu buat ngadem

Bukan hal yang mustahil bila di negri hutan-hujan tropis, seperti di Indonesia dapat mengembangkan wisata hutan rimba. Asal kenyamanan dan keamanan tidur bertenda terjamin aman, rasanya diminati para pemburu liburan. Tentu, bila kawasan hutan wisata tertata rapi, dan menarik bagi pelancong.

Persoalannya, ujar Nicole kontributor di Jerman, apakah masih adakah hutan yang dapat dijadikan komoditas pariwisata. Sedang hutan di beberapa tempat di luar Jawa telah ditebang jadi tanaman kelapa sawit. “Apakah mungkin wisata di tengah hutan sawit? Apa yang akan dilihat, melihat kemiskinan di hamparan sawit’kan juga tidak seperti itu yang dicari,” ujar dia.

Alangkah indahnya bila pemerintah daerah yang masih memiliki kawasan yang dapat dioptimalkan sebagai tempat wisata mulai berbebenah mempromosikan daerahnya. Paling tidak perolehan suntikan pandapatan asli daerah dari sektor wisatawan lumayan mengiurkan. Selain itu memberi dampak pada pengembangan ekonomi kreatif di daerahnya masing-masing.

Di hutan pinus Mojosemi memakai topi pantai pandan pun tak dilarang

“Kenapa tidak dilakukan dari sekarang. Bukankah tahun kunjungan wisata telah dicanangkan tahun lalu. Tinggal kepala daerah yang berupaya mempromosikan potensi wisata yang dimiliki daerahnya. Rasanya tidak berlebih bila mencontoh daerah lain yang telah mempopularkan wisata di daerahnya. Apapun bentuk wisata di daerah yang dapat menarik pengunjung bertandang. Paling kurang dikunjungi wisatawan yang ingin bernostalgia bersama teman sekolah seperti reoni di hutan pinus Mojosemi.”

Menguji kekuatan raga naik Jeep di jalan gronjal di track hutan Mojosemi siapa takut

Bukan hanya menikmati keindahan alam nan menawan hutan, bila menginginkan naik kendaraan berkeliling area, jangan takut tersedia mobil Jeep gaya anak muda: terbuka. Hanya saja, Anda perlu merogoh kocek lumayan menyewa berkeliling hutan hingga pinggiran track gronjal. Meskipun sampun sepuh, toh wisatawan yang ingin menjajal jalanan gronjal tak dilarang suk-suk peng di atas mobil bekas perang jeep. Paling banter sesampai di rumah pijet pegel-linu. “Maklum balung sepuh.” (eddy je soe)

Previous Wearpack Sobek Khas Monthir VS Baju Semriwing
This is the most recent story.

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *