Mahasiswa Stovia Ditangkap Belanda


Inilah tokoh gerakan pers pertama kali di Indonesia yang berani menentang kolonial Belanda

Kebenciannya terhadap pemerintah Belanda ketika masih tinggal di Blora bersama kakek-neneknya bupati Bojonegoro, menjadikan Tirto Adhi Soerjo nekat melakukan perlawanan di jaman Indonesia masih dijajah kolonial Londo. Kenekatannya melawan penjajah bukan hanya Tirto benci dengan simbahnya nonik-nonik walondho, tetapi ia sebel dengan model restriksi yang dijalankan tentara Ratu Yuliana di Nederland.

Tulisan Tirto Adhi Soerjo yang mengkritik tajam kebijakan pemerintah Belanda, tersebar di beberapa surat kabar, apalagi setelah ia meneruskan sekolah Kedokteran di Batavia, bertebar di seluruh kota dan desa di Blora, dinilai membahayakan pemerintah. Lantaran itulah, Tirto diciduk dan diasingkan di daerah Bacan.

Inilah Soerat Kabar pertama yan terbit di negeri ini: Medan Prijaji (courtesy public pic)

Pengalamannya menjadi tahanan di pengasingan, membuatnya nekat menekuni dunia tulis-menulis. Setelah bekerja sebagai freelancer, sejak 1894, Tirto diangkat menjadi editor surat kabar penernerbitan di Batavia pada tahun 1902. Setahun kemudian, pada 1902 Tirto Adisoerjo menerbitkan sendiri surat kabar yang diberi nama Medan Prijaji bagi kalangan pembaca pribumi.

Entah lantaran dilatarbelakangi kebencian terhadap pemerintahan belanda, apalagi setelah kekuasaan keluarga kakeknya Tirto Tirtonoto digulingkan dari jabatannya sebagai bupati, tulisan-tulisan Tirto semakin membuat pemerintah Belanda membencinya dan berusaha ingin melenyapkan Tirto Adisoerjo dengan medianya. Kebencian Tirto membuncah ketika ia dituduh memiliki hutang di sejumlah bank untuk keperluan menerbitkan media, dan tidak membayar.

Tuduhan itulah yang membuat reputasi nama Tirto Adhisoerjo rusak dan tak pernah pulih kembali hingga kematiannya. Tirto wafat pada tahun 1918 di hotel yang pernah dimiliki sebelumnya, Hotel Medan Prijaji yang pernah dilelang teman lamanya. Meski namanya nyungsep, Tirto masih dapat melanjutkan sekolah yang khusus buat pemuda Eropa (Europeesche Lagre School) di Bojonegoro, Rembang dan Madiun.

Tirto Adhisoerjo lulus pada tahun 1894 dan memutuskan menekuni dunia jurnalistik dan menjalin korespondensi menggunakan bahasa Hindia-Olanda. Honorarium lumayan buat membeli pantopel dan pakaian necis. Selain itu Tirto juga menerima kiriman surat kabar berbahasa Belanda secara gratis ketika karyanya diterbitkan.

Tirto Adhi Soerjo, tokoh gerakan pers di Hindia-Belanda namanya ditenggelamkan (courtesy public pic)

Keinginannya meneruskan studinya membuncah ketika Tirto diterima di Sekolah Pendidikan Dokter (STOVIA) yang sebenarnya diperuntukkan bagi siswa keturunan bangsawan. Tirto menghabiskan enam tahun di STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen), dan mengikuti kursus persiapan tiga tahun, tetapi di tahun keempat dia diusir oleh kepala sekolah lantaran dianggap tidak lulus ujian.

Sepengetahuan Pramoedya Ananta Toer dalam biografinya menyebutkan, Tirto diusir lantaran berani memberi resep kepada seorang perempuan China yang tidak membutuhkan. Tentu kecerobohan menulis resep Tirto Adhi Soerjo kepada orang yang tidak membutuhkan dianggap pelanggaran berat.

Justru setelah meninggalkan STOVIA pada tahun 1900, Tirto memiliki ruang gerak bekerja sebagai editor harian Pembrita Betawi yang bermarkas di Batavia hingga tahun 1902. Selain itu Tirto juga bekerja sama sebagai asisten editor untuk Warna Sari dan menjadi koresponden untuk Bromartani yang bermarkas di Solo.

Kolom yang ditulis Tirto Adhi Soerjo bertajuk Dreyfusiana dinilai pemerintah kolonial sangat tendensius dan mengkritik tajam pemerintah Belanda. Para petinggi pemerintah kolonial Belanda dinilai menyalahgunakan kekuasaan di Hindia Belanda. Pada tahun 1903, Tirto Adhi Soerjo tidak lagi menulis kolom karena kesehatannya semakin memburuk didera penyakit.

Meski demikian, Tirto Adhi Soerjo nekat mendirikan surat kabar yang diberinama Soenda Berita, bagi pembaca asli dan etnis Thiongwa. Sejarawan Malaysia, Ahmat Adam menyebut Soenda Berita sebagai surat kabar pribumi pertama di Hindia.

Meski dinilai Ahmat Adam sebagai pelopor persuratkabaran pertama di Hindia, Tirto Adhi Soerjo diasingkan ke Bacan pada tahun 1904 lantaran dituduh mengelapkan aksesori. Pada 8 Februari 1906 Tirto Adhi Soerjo menikahi putri sultan, Raja Fatimah.

Pada tahun 1906, Tirto Adhi Soerjo kembali ke tanah Jawa dan menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu baru dan mengandeng berbagai priyayi maupun saudagar yang tergabung dalam Sarekat Priyayi. Taklama kemudian Tirto juga meluncurkan surat kabar Medan Prijaji, sebuah mingguan yang berbasis di Bandung.

Selain melakukan penyebaran berantai dari mulut-ke-mulut, Tirto Adhi Soerjo juga mengiklankan surat kabarnya dengan mencuatkan moto: ‘Surat Kabar untuk Raja, Bangsawan Asli dan Pedagang Pribumi’.  Moto yang dikedepankan Tirto Adhi Soerjo tentu tak lazim bagi bagi sebuah media pada waktu itu. Sarekat Prijaji, gagal menjadi media di seluruh Hindia-Belanda.

Meski demikian, Medan Prijaji dikenal secara luas sebagai surat kabar “Indonesia” yang pertama kali terbit di Hindia-Belanda; mes